oleh

Jalan Hore Politik

Oleh: Ahmad Dayan Lubis

Usai perhelatan politik di level mana pun, seperti pemilihan presiden, gubernur, walikota, bupati, bahkan kepala desa, akan muncul dua kelompok. Kelompok pertama, yang senang gembira yaitu kelompok pendukung yang dinyatakan sebagai menang (meski belum tentu menang).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Tentu saja mereka berpesta dalam kemenangan. Tim pemikir seperti surveier, tim pengacara, dan lingkar dalam tokoh seperti pendonor, keluarga, kolega, dan influenzer atau buzzer. Ini saya sebut sebagai ring satu, meski ini juga masih ada lapisan-lapisannya.

Sebenarnya masih ada kelompok lain yang agak spesifik yaitu tim hore politik. Mereka bukan berada di lapis kesatu atau kedua, tetapi lapis ketiga dan seterusnya.

Mereka dari kelompok inilah yang secara fisik terlihat pontang-panting, paling nyaring teriakannya, terlihat paling tulus (awalnya memang tulus) dan baru akan bermasalah di belakang karena tak dapat fulus atau jalan fulus. Mereka bisa dari yang berpendidikan tinggi, yang tua atau muda, laki-laki atau perempuan, dst. Ini saya sebut ring dua. Inilah jalan hore politik.

Jika kelompok ring satu memiliki saham yang diikat oleh perjanjian seperti dapat jabatan, dapat duit kontan seperti surveier, pengacara atau biasa disebut tim hukum, buzzer, maka ring dua hanya mendapatkan biaya penebus atribut, ongkos, dan uang makan. Bahkan beberapa dari ketua simpulnya hanya mendapatkan ‘ansor’ (angin sorga). Anginnya saja.

Beberapa dari mereka bahkan sampai mengeluarkan dana (yang kelak digoda setan agar dana itu dibalikkan dengan jumlah yang lebih besar setidaknya sama dengan jumlah yang keluar).

Maka kelak setelah perhelatan usai dan calon yang didukung olehnya menang, ring dua, tim hore politik, paling sering teriak mengutarakan kekecewaannya dan kebenciannya.

Berbagai media seperti saat pertemuan, di media social atau diskusi minum kopi, tim jalan hore politik akan menguliti calon yang menang serta kolega konconya sebagai ini dan itu. Macam omak-omak melihat suaminya berboncengan dengan janda muda tetangga desa.

Jika kita berbakat sebagai pe-kompor yang memanas-manasi, berbicara dengan kelompok jalan hore politik paling ‘asyik’. Hanya dengan sedikit pancingan, maka semua akan keluar hingga ampla dan usus-usus dalam. Jika pandai menggosok, semua akan tumpah, tak peduli di mana saja, berserakan.

Jika perlu demonstrasi pun dilakukan, jika bukan dirinya karena rasa tak pantas, maka ada bawahan yang lebih rendah yang bisa diguit sedikit dengan hasutan ringan.

Berbeda dengan kelompok yang berada di ring satu. Terlihat lebih kalem, tidak banyak komentar atau menjawab komentar.

Mereka terus bekerja di samping tokoh yang menang dan mendukungnya. Jika pun kelak mereka melakukan kritik dan semacamnya, itu hanya buat menyenang-nyenangkan kelompok jalan hore politik. Semacam drama atau opera yang kerap dimainkan dengan cara-cara khas.

Menendang sambil main mata, marah sembari memberi kode, menulis artikel sambil mengirim pesan. Kadang-kadang itu sebagai trik ‘merajuk’ untuk mendapatkan jatah yang terlupakan.

Semacam perilaku isteri tua yang diabaikan toke tua, padahal di masa permulaan adalah mitra siang malam merintis usaha. Kini setelah ada bini yang lebih mudo, sudah sering lupo.

Imitisai Jalan Politik

​Ada kelompok pedagang yang mempunyai skill membuat tiruan sebuah produk, apa saja, tas, kalung, sepatu, bahkan mobil. Mereka mengedepankan rumus ATM (amati, tiru, modifikasi).

Sama sekali tidak ada larangan untuk itu, karena tidak sama persis, mereka berlindung dengan M, modifikasi. Mereka bisa berjaya, luar biasa karena biaya yang lebih murah. Bagi kebanyakan orang, tentu saja susah membedakannya atau bisa dibedakan, tetapi imitasi dipilih karena alasan lain.

Orang yang me-produksi imitasi ini adalah para enterpreuner yang jeli melihat ceruk pasar.

​Ada orang yang memilih jalan politik entah itu sebagai apa pun. Bisa calon, bisa tim sukses, bisa tim jalan hore politik atau apa saja.

Namun jalan politiknya adalah imitasi jalan politik. Karena itu luapan kekecewaan orang yang memilih imitasi jalan politik sungguh sadis, terutama jika dia tidak mengetahuinya sejak semula. Seperti perilaku bandit yang menyuruh menelan kalung imitasi. Jika para bandit menceritakan kekecewaan itu sambil menenggak minuman oplosan dan tertawa-tawa, tidak demikian dengan orang yang terjebak pada imitasi jalan politik. Mereka terus mengutuk dan mendistorsi calon dan tim yang pernah ikut dimenangkannya.

​Repotnya lagi, sambil terus mendendangkan bahwa dia sudah berbuat, dia orang hebat, bukan orang sembarangan dan betapa banyak orang-orang yang lebih besar atau setidaknya sama dengan calon yang dia dukung, tidak mengecewakannya. Mengangkat teleponnya, membalas pesannya, membukakan pintu untuknya.

Singkat kata ‘tidak lupa kacang pada kulitnya’.
Begitu kira-kira pidato singkatnya yang berapi-api. Lumayan, sedikit terpuaskan. Jika ada orang yang sedikit nakal, suasana hati orang seperti ini paling enak ‘ditodong’ ringan.

Dengarkan dia mengamuk, tapi ajak di restoran berkelas, makanlah sepuasnya, dia akan bayar itu. Dengan satu syarat, ucapkan “ya, terus, mulanya pegimana”. Pulangnya kenyang, besok lusa lapar,ajak lagi dia cerita. Inilah bilik ATM kelas kaki lima. Inilah kelas jalan hore politik imitasi jalan politik.

Epistemologi Politik

​Istilah epistemologi politik saya gunakan tidak dalam konten akademis yang rumit dan bertakik-takik (bukalah KBI takkan saya jelaskan). Ini hanya teringat bahasa di kampung kami Mandailing di mana kami menyebut menyadap karet seperti kerjaan saya bertahun-tahun dulu dengan ‘manakik’. Intinya, memahami politik dengan ilmu yang aksiologis.

Lebih terang, bukan dengan tradisi, cerita warisan, ajakan teman, atau karena tak ada pekerjaan. Cukuplah bagi orang-orang tertentu jalan seperti itu, tapi tidak untuk orang berperadaban yang sudah mendapat sentuhan bendera hijau hitam dengan Khittah b.

​Pertama, demokrasi dan aflikasinya seperti yang terjadi selama ini adalah sebuah jebakan bagi orang yang tidak serius memahaminya. Inilah apa yang saya sebut ‘sesuka-suka saya’ dengan demokrasi jalan perdagangan.

Masih ingatkan pengertian dagang paling purba sekaligus paling modern. “memindahkan suatu barang dari satu tempat ke tempat lain”. Di suatu tempat tidak ada, tetapi dibutuhkan di tempat itu, diambil dari tempat lain, lalu dipindahkan. Terjadilah transaksi dengan berbagai bentuknya, bisa barter, tunai dengan uang koin, atau cara-cara transfer, dll.

Perdagangan. Ada barang, ada yang punya barang (pemilik lama dan pemilik baru) ada supir dan pengangkutan, ada tempat baru (tempat atau gudang), ada pengguna atau pemakai. Tiga pihak menginginkan keuntungan, pemilik lama, pemilik angkutan dan (terutama pemilik baru).

Dua yang lain (supir dan pengguna) menginginkan kebutuhannya terpenuhi.

Demokrasi jalan perdagangan adalah transaksi keuntungan oleh pedagang atau para pedagang. Tentu saja yang bisa masuk di area ini adalah para pemilik capital.

Karena itu demokrasi dilahirkan oleh kapitalisme. Jika ingin terjun di area demokrasi maka harus memiliki capital dan paham perdagangan. Keculai sekadar tim jalan hore politik. Cukup memiliki sedikit kemampuan analisis, survey, bisa pidato atau ceramah, membaca sedikit pasal-pasal persengketaan pemilu atau pilkada dengan jas dan dasi agak mahal, sedikit jaringan. Itu cukup.

Sayangnya sering kali orang yang berada di imitasi jalan politik, mengira dia berada di demokrasi jalan politik. Maka dia berperilaku seperti itu.

Merasa sudah mumpuni, bekerja professional, dan pantas untuk jangan dilupakan. Padahal ini adalah permainan perdagangan dengan beberapa varian yang sudah dimutasi dan dimodifikasi. Maka terkesan ada variasi, punya visi, dan pantas ikut diisi.

Maka demokrasi sesungguhnya (seperti yang sudah lama dianggap sebagai pelaksanaannya lewat pemilu, pilkada, dll) adalah jebakan perdagangan. Sampai kapanpun, para pemenangnya adalah para pedagang. Atau setidaknya akan terus berhadapan dengan para pedagang dan saudagar-saudagar besar, skala local, nasional atau internasional.

Kedua, demokrasi adalah sengketa. Demokrasi seperti yang terjadi selama ini memiliki watak sengketa. Karena persengketaan adalah gerakan perdagangan. Sebelum pemilihan dilangsungkan sudah direncanakan untuk disengketan.

Disiapkan tim hukum yang berdasi-dasi dan berjas-jas. Terlihat gagah setelah dibayar.
Mengungkapkan pasal-pasal dengan retorika yang canggih. Karena di situlah nilai perdagangan itu. Menyebarkan foto-foto untuk membantu keyakinan diri dalam dunia perdagangan yang bukan habitatnya.

Begitu juga dengan para pengamat politik berdebat dengan sengit. Mengeluarkan seluruh kemampuan dengan under score mantan aktivis, lulusan universitas anu, dan semacamnya. Seru.

Para pedagang hanya dengan bercelana pendek duduk santai minum kopi mungkin juga whisky mengamati kartunya, sekali-sekali melihat TV sambil senyum-senyum. Begitulah perdagangan demokrasi.

Hukum perdagangan adalah hukum keuntungan dan memuaskan konsumen. Kepuasan bisa bersumber dari apa saja. Maka tujuan tim hukum focus, umumnya adalah kemenangan, mungkin bukan kebenaran, di pihak mana pun dan di level manapun.

Inilah perdagangan hukum di ranah yang disebut sebagai peng-adil-an. Seperti biasa selalu ada yang berbeda. Namun itu bukan arus utama. Dan jika anda menjadi tim hukum, tapi tak pernah menang, mungkin besok dunia akan gelap, meski masih jam 12. 00 siang benderang.

Jalan Dagang.

Para pedagang adalah pemegang kekuasaan demokrasi. Seluruh hasil-hasil dan arah demokrasi ada di tangan pedagang. Inilah masalahnya. Inilah epistemology politik pada atalase belakang yang lebih menentukan. Atalase depan hanya untuk para pengamat dan jalan hore politik. He hehehe. Jalur dagang yang diperagakan dengan dingin tanpa kemarahan jika kalah atau kecewa. Inilah karakter para pedagang dan saudagar, tidak mudah kecewa, dan mencoba lagi.

Para akademisi, politisi, pengamat, apalagi tim jalan hore politik seperti tertipu oleh pedagang nakal, mungkin bukan jahat. Mereka terlihat jahat dan mungkin menjadi jahat karena berhadapan dengan lawan tak seimbang.

Inilah ceruk yang harus diisi oleh barisan hijau hitam. Perdagangan. Jika para doctor bisa terjun di dagang, mungkin luar biasa. Membicarakan ekonomi dengan kaca mata bisnis adalah jebakan. Hanya terlihat gagah, tetapi masuk dalam permainan lawan. Gunakan bahasa perdagangan. Jauhkan istilah neraca, makro mikro karena hanya akan membuatmu masuk ke wilayah demokrasi perdagangan yang kejam.

Penutup

Kemerdakaan berpikir dan (berpendapatan) melahirkan perubahan. Menyoal jalan politik. Mengambil kembali sawah ladang yang tergadai. Melahirkan jaringan kabel bawah tanah, meninggalkan jaringan kabel melayang di udara yang ramai bising. Lalui jalan senyap dan terkoneksi. Jangan terlalu terang.
​Hah, berawal dari Ciputat. Mohon maaf seribu maaf kepada Tuan dan Puan. Izinkan hamba mengurak sila. Kepada beta yang mau berkata, sila dieja untuk kita bersama. Dalam damai. Wassalam.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *