oleh

DONGENG KUMPENI

Oleh: Awalil Rizky
Dahulu kumpeni datang ke wilayah nusantara membawa armada dengan maksud berdagang. Semula lebih bersifat “kulakan barang dagangan” yang laku di benua Eropa. Perdagangan dilakukan di bandar atau pelabuhan dan sekitarnya. Bersifat sukarela, suka sama suka.

Kebutuhan barang dagangan yang banyak disertai dengan modal yang besar, posisi dagang kumpeni menguat di banyak kota pelabuhan. Posisinya perlahan berkembang menjadi monopoli sebagai pembeli.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Waktu berjalan, armada bertambah dan permintaan di Eropa meningkat pesat, menjanjikan keutungan yang lebih besar. Menguasai daerah pelabihan kurang menjamin pasokan. Kumpeni beringsut ke daerah yang lebih jauh. Petugas keamanannya menjadi berlipat dan bersenjata lengkap. Cukup intimidatif untuk memaksakan kehendak dalam berdagang.

Tak mencukup diri dengan itu. Kumpeni mengamankan jalur distribusi pasokan. Membangun jalan, kantor dan sarana pendukung lain.

Eh pasokan masih kurang juga. Mulai lah melakukan upaya bertani sendiri dan “meminta” kaum pribumi bertani komoditas yang diinginkan. Semula masih berimbal hasil yang cukup menguntungkan bagi rakyat, namun perlahan makin menjerat. Salah satunya karena kelakuan korup para petugas kumpeni dan centeng pribuminya.

Di kemudian hari, beberapa fenomena itu disebut sebagai kerja paksa dan tanam paksa. Secara keseluruhan disebut sebagai era kolonial atau penjajahan.

Anehnya, kumpeni justru bangkrut sebagai korporasi. Analisis belakangan menyebut sebab utamanya adalah korupsi. Mungkin ada kaitannya dengan istana mewah mereka dan kedoyanan mereka memelihara puluhan gundik.

Penjajahan diambil oleh negara Belanda. Dari sisi kaum pribumi ya tetap tampak sebagai kumpeni. Tak ada bedanya.

Kaum pribumi sebenarnya terus melawan di berbagai wilayah dan dalam banyak kesempatan tahun. Sayangnya bersifat sporadis dan dapat diredam oleh kumpeni. Kumpeni juga selalu memiliki centeng pribumi, mulai dari tukang pukul hingga yang tampak sebagai raja atau bangsawan.

Perjuangan kaum pribumi akhirnya beroleh momentum. Selain karena makin banyak rakyat yang pintar, ada momen perang dunia dan suasana perubahan besar dalam dinamika politik dunia. Indonesia pun diproklamirkan sebagai negara merdeka.

Satu dua dekade setelah merdeka, ternyata kumpeni tidak bisa dikatakan pergi dari wilayah nusantara. Mereka masih ada, berdagang dengan aktif. Memang tak ada VOC (korporasi kumpeni) dan bukan sebagai negara penjajah. Etnis dan negara bangsa nya pun mulai bertambah.

Resminya kembali ke suasana awal berabad sebelumnya, berdagang secara sukarela. Dan kali ini tidak hanya “kulakan” barang, melainkan juga banyak menjual. Secara statistik menjadi serupa “barter”.

Faktanya kemudian, “kumpeni baru” memperoleh untung yang lebih besar. Mereka TV, motor, mobil dan semacamnya. Yang dibeli adalah minyak, mineral, dan pertanian. Istilah teknis ekonominya, nilai tukar menguntungkan mereka.

Sebagaimana dahulu, perlahan kumpeni “berpatisipasi” dalam dinamika sosial politik domestik. Mereka tak mau, investasi besar dan keuntungannya lenyap akibat hiruk politik Indonesia.

Perkembangan ekonomi dunia dan model transaksi yang lebih modern, membuat kumpeni memiliki jenis bisnis baru. Yaitu memberi utang kepada berbagai pihak di Indonesia, terutama kepada pemerintah. Investasi dan bisnis utang ternyata makin menguntungkan.

Kumpeni pun berupaya sekuat tenaga mengamankannya. Termasuk ikut “mempengaruhi” dinamika sosial politik. Bahkan ada yang berpendapat ikut campur amat sangat jauh.

Selama satu dekade terakhir tampaknya kumpeni kembali tertarik masuk lebih dalam ke berbagai wilayah dan “ruang hidup” Indonesia. Mereka tak hanya ingin migas, mineral, energi dan semua produksi high-tech atau modern. Melainkan juga pengen nanam buah, budidaya ikan, bisnis jasa kesehatan, jasa pendidikan, dll.

Kumpeninya tak lagi cuma yang berasal dari Eropa (bersama saudara Amrik dan Jepangnya), melainkan dari daratan besar Asia.

Agar ada jaminan untung yang langgeng, tidak cukup dengan “mempengaruhi” dinamika sosial, hukum dan politik saja. Kumpeni mengamankan kepentingan bisnis dan rencana bisnis masa depannya, dengan turut mengatur ketersedian jalan, pelabuhan, bandara dan semacamnya.

Eh, kok seperti dahulu lagi yaa…

Ada yang sedikit berubah, yaitu peran ilmu pengetahuan dan para akademis tukangnya. Termasuk ahli ilmu ekonomi dari kalangan pribumi. Mereka membantu menjelaskan bahwa investasi asing dan berutang itu syarat agar Indonesia bisa tumbuh dan berkembang.

Dongeng semacam itu dapat dibumbui dengan menyebut secara langsung pelakunya. Misal dahulu sempat ada Portugis, kemudian Belanda, lalu Jepang. Nah kini, setelah sekian lama kumpeni (geng Amrik) memperoleh saingan dari Tiongkok. Kita belum tahu posisi makelar utama kita Singapore nantinya.

Situasi dan dinamika ekonomi politik dunia masih tak menentu. Apalagi paska Pandemi Covid-19. Jelang merdeka dahulu pun demikian.

Lantas, apa kita mau menyalahkan para kumpeni. apapun bangsa dan negaranya? Mereka memang berupaya mencari keuntungan dan menyejahterakan rakyatnya.

Kita sendiri mau bagaimana? Dulu merdeka juga tidak dengan mengemis kepada kumpeni kan? Meski tetap ada diplomasi dan perundingan. Dan oleh karena kini kondisinya lebih kompleks serta tak selalu dalam artian “perang bunuh-bunuhan”, maka kerja keras dan kerja cerdas amat diperlukan. Pemimpin politik, petinggi otoritas ekonomi, dan pelaku usaha utama mustinya bisa “memimpin” dan mengarahkan rakyat dan bangsa ini. Setidaknya, kita mampu bernegosiasi sebagai suatu bangsa untuk dapat menikmati kemakmuran dunia bersama-sama. Jangan kumpeni saja lah yang sejahtera.

Ehh, tapi dulu kan ada amtenar dan antek kumpeni dari bangsa sendiri yaa? Yah, agak sulit mendongeng tentang hal itu dalam kondisi terkini. Takut dilaporin. https://www.facebook.com/awalil.rizky/posts/10217035923596585

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *