oleh

Islam Agama yang Menjunjung Tinggi Akhlak

Selamat Idul Fitri 1441 H

Oleh : Abd. Hamid Rahayaan

(Penasehat Peribadi Ketua Umum PBNU)

Iklan RB

Citra islam sebagai agama yang toleran dan menjunjung tinggi perbedaan antar sesama menjad akan menjadi negatif jika disebabkan oleh ulah sebagian orang yang mengaku diri ulama menunjukkan perilaku yang tak mencerminkan  akhlak layaknya ulama. Seharusnya ulama mesti menjadi teladan bagi umat.

Golongan yang mengaku-akui dirinya sebagai ulama ini, punya sifat dan perilaku yang sulit menerima perbedaan antar sesama. Terkadang, mereka memperlihatkan kesombongan yang berlebihan dengan menganggap dirinya paling benar. Bahkan banyak, aturan yang mereka langgar sesuka hati, seolah-olah apa yang mereka lakukan selalu benar. Dalam menyampaikan pesan keagamaan, mereka sering memprovokasi umat. Mendiskreditkan orang dan kelompok tertentu sehingga terjadi polarisasi di tengah masyarakat yang berujung pada perpecahan sesama umat seagama dan antar penganut agama. 

Mereka sengaja menggiring umat untuk saling bermusuhan antara satu dengan yang lain. Sengaja membangun opini keagamaan yang keliru sehingga umat pun gampang tersulut emosi akibat dari minimnya pemahaman agama yang mereka miliki. Hal ini memunculkan fanatisme yang berlebihan. Pengikut-pengikut ulama ini pun merasa dirinya paling benar dan menganggap yang tidak sejalan dengan mereka telah menyalahi norma agama. Padahal apa yang mereka lakukan banyak bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Kini umat islam menjadi terpecah-belah. Saling hujat antar sesama telah menjadi hal yang lumrah ditengah masyarakat. Ini disebabkan ulah para ulama yang selalu menyulut api perpecahan antarsesama. Kesalahan terbesar mereka adalah tidak dapat membedakan antara urusan agama dan politik dengan  mencampuradukkan keduanya. Seharusnya sebagai ulama tugas utama mereka adalah membimbing umat ke jalan yang benar bukan, malah terjebak pada urusan politik yang bersifat keduniaan. 

Karena itu, perbedaan pandangan politik jangan lantas kemudian memunculkan kebencian antara sesama umat terlebih kepada pemimpin yang sedang berkuasa. Kritik boleh saja disampaikan sepanjang tidak menyinggung peribadi seseorang. Sebagai ulama mereka harus berdiri ditengah perbedaan yang ada. Tugas mereka adalah menyatukan segalah perbedaan bukan membuat sekat-sekat perbedaan di tengah masyarakat. 

Selanjutnya, demikian pula dalam mengajak umat harusnya dilakukan dengan cara-cara yang santun, memberikan kesejukan ditengah masyarakat, sehingga pesan-pesan kedamaian selalu terpancar dari lisan mereka. Dan yang terpenting adalah mereka harus bisa membedakan antara status keagamaan yang melekat padanya dengan kewajibannya sebagai warga negara karena semua orang di negeri ini wajib tunduk pada aturan yang ada tanpa terkecuali. Jangan sampai tidak menyadari bahwa mereka hidup dan tinggal di negara yang memiliki penghuni asli, dan ada beragam suku dan agama serta ada aturan negara yang harus ditaati oleh semua orang.

Karena itu, suatu kekeliruan yang besar jika di negeri ini masih ada orang menganggap dirinya tidak bisa disalahkan karena alasan tertentu sehingga bebas melakukan apa saja sesuka hati. Indonesia adalah negara hukum dimana semua orang sama kedudukannya dihadapan hukum. Negara tidak bisa memberikan keistimewaan kepada kelompok tertentu dengan alasan apa pun.

Dalam hal menegakkan hukum Rasulullah SAW sebagai suri tauladan kita telah memberikan contoh kepada kita dengan mengatakan bahwa “Apabila anakku Fatimah yang berbuat salah maka aku sendiri yang akan menghukumnya”, artinya, siapa pun yang berbuat kesalahan harus dihukum setimpal tanpa harus membeda-bedakan status yang bersangkutan. Disamping itu islam juga tidak pernah membeda-bedakan umatnya, tidak ada status sosial yang berlaku dalam Islam. Semua kembali kepada amal perbuatannya sehingga yang membedakan manusia dihadapan Allah SWT hanyalah taqwa.

Jika ada kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat bangsa dan negara wajib dikritisi tapi semuanya harus bermuara kepada hukum dan aturan negara dan semata-mata untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara.

Maka dari itu, saya minta kepada umat Islam agar tidak terjebak dengan hasutan atau penyebaran kebencian dengan mengatasnamakan Islam. Karena Islam adalah agama yang menjunjung tinggi perbedaan dan mengedepankan akhlak serta perilaku yang mulia. (Ed.hira)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *