oleh

Kritik Kebijakan Pemerintah yang tidak Berpihak kepada Rakyat adalah Ibadah

Selamat Idul Fitri 1441 H

Oleh : Abd. Hamid Rahayaan

(Penasehat Peribadi Ketua Umum PBNU)

Iklan RB

Belakangan waktu ini banyak teman, sahabat, dan masyarakat pada umumnya, ramai-ramai mengomentari tulisan saya mengenai ‘Perlunya Reshuffle Kabinet dan Evaluasi Terhadap Kinerja Pemerintah’. Menariknya, sebagian besar sependapat dengan saya, mereka menginginkan agar Presiden Jokowi melakukan reshuffle kabinet karena menilai kinerja para menteri tidak memperlihatkan kemajuan yang berarti. 

Pendapat mereka dalam menilai tulisan saya tidak lepas dari kompleksitas kehidupan berbangsa dan bernegara yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, bahwa persoalan bangsa dan negara ini tidak bisa terselesaikan jika penyelenggara negara tidak kompeten dalam menjalankan tugasnya.

Sehingga mereka menginginkan agar presiden Jokowi menempatkan orang-orang yang memiliki kemampuan dan punya integritas yang tinggi dalam mengelola pemerintahan sekaligus dapat membenahi keterpurukan yang dialami bangsa Indonesia saat ini.

Bahkan banyak kalangan mendoakan serta berharap apabila terjadi reshuffle kabinet, saya dapat masuk sebagai salah satu menteri di kabinet Jokowi. Namun, ada sebagian yang memiliki pandangan berbeda. Mareka menganggap bahwa tujuan saya mengkritik kebijakan pemerintah hanya semata-mata ingin mendapatkan jabatan menteri.

Apapun penilaian mereka, saya menyadari bahwa dalam era demokrasi yang terbuka seperti sekarang ini, orang bebas berpendapat dan menilai siapa saja termasuk mengoreksi apa yang saya lakukan selama ini. Perlu saya tegaskan bahwa tujuan saya mengkritik pemerintah bukan untuk kepentingan peribadi, apalagi sekadar untuk mendapatkan jabatan menteri. Saya kira masih banyak orang diluar sana yang memiliki kemampuan dan layak diangkat sebagai menteri.

Sesungguhnya, kritik yang saya sampaikan selama ini melalui tulisan adalah bentuk perhatian dan kepedulian saya selaku anak bangsa terhadap kemajuan bangsa dan negara. Tak ada sedikit pun niatan untuk mengejar kepentingan peribadi dibalik itu semua. Untuk itu saya berharap kepada semua masyarakat Indonesia untuk dapat memberikan kontribusi terhadap kemajuan bangsa dan negara melalui cara dan perannya masing-masing. Sama halnya dengan apa yang saya lakukan selama ini dengan mengkritisi kebijakan pemerintah lewat berbagai tulisan. Hal ini adalah bentuk tanggung jawab moril saya demi kemajuan bangsa dan negara.

Tentu setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda dalam melihat realitas yang terjadi di bangsa ini tapi, paling tidak kita harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi dalam melihat pelbagai problematika kebangsaan yang terjadi belakangan ini supaya nalar kritis kita sebagai anak bangsa tetap terjaga.

Kritik yang konstruktif sangat diperlukan dalam mengontrol setiap kebijakan pemerintah. Kekuasaan pemerintahan yang dijalankan tanpa kontrol dari civil sociaty akan cenderung absolut dan rentan terhadap tindakan abuse of power atau penyalahgunaan kekuasaan.

Kritik juga bisa bernilai ibadah jika tujuannya untuk memperjuangkan kepentingan kelompok ‘Mustadh’afin‘ atau masyarakat kecil yang terpinggirkan dengan mencegah pemerintah supaya tidak mengeluarkan kebijakan yang dapat merugikan rakyat kecil. 

Saat ini, kita hidup di era keterbukaan informasi. Menurut saya media yang paling tepat dalam mengkritisi kebijakan pemerintah adalah melalui tulisan. Walaupun dalam menyampaikan kritik melalui tulisan, setiap orang memiliki ciri khas tersendiri dalam penulisannya.  Pada prinsipnya apa yang disampaikan tujuannya semata-mata demi perbaikan bangsa dan negara ke depan.

NU sebagai organisasi keummatan juga ikut membentuk karakter saya dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa dan negara. Sikap kritis ini hampir dimiliki oleh setiap kader NU. Hal ini sejalan dengan semboyan yang terkenal di kalangann kaum NU yakni, Hubbul Wathan Min al Iman atau cinta tanah air adalah bahagian dari iman.

Sebagai kader NU saya diajarkan tentang politik kebangsaan yaitu meletakkan kepentingan rakyat, bangsa, dan negara di atas segalanya. itulah doktrin yang diajarkan kepada kami dan telah menjadi ciri khas setiap kader NU, sehingga semua pihak yang kami kritisi harap memaklumi. Kami tidak ingin ada kebijakan yang dapat merugikan rakyat, bangsa, dan negara. Oleh karena itu, apabila terjadi kemungkaran kezaliman yang mengakibatkan kemudharatan bagi rakyat, bangsa, dan negara kemudian sebagai kader NU diam dan tidak memberikan koreksi dalam rangka melakukan perbaikan maka sama halnya telah mengkhianati bangsanya sendiri. (Ed. Hira)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *