oleh

Ta’lim K.H. Prof. Dr. Didin Hafidhuddin Tafsir Surat Ash-Shaffat Ayat 117-122

Selamat Idul Fitri 1441 H

 

Disarikan oleh
Bustanul Arifin

Iklan 52 Khutbah Jum'at

1. Tarjamah dari Surat Ash-Shaffat Ayat 117-122 itu adalah sebagai berikut: “Dan Kami berikan kepada keduanya (Nabi Musa As dan Nabi Harun AS) Kitab yang sangat jelas, dan Kami tunjukkan keduanya jalan yang lurus. Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Selamat sejahtera bagi Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman”. Kita mulai tafsir dari ayat-ayat di atas sebagai berikut. Setiap Nabi dan Rasul selalu diberikan mukjizat, tanda pengakuan dari Allah SWT bahwa mereka adalah Nabi dan Rasul. Mukjizat itu umumnya mampu melemahkan orang-orang yang tidak beriman. Sebagian besar mukjizat berupa fisik, yang mudah terlihat. Misalnya, ketika para tukang sihir pada zaman Firaun, melempar tambang-tambang dan berubah menjadi ular-ular kecil yang menakutkan, Nabi Musa AS diberikan mukjizat oleh Allah SWT melalui tongkatnya. Nabi Musa AS melemparkan tongkatnya, dan berubah menjadi seekor ular besar, yang memakan semua ular-ular kecil itu. Demikian juga, ketika Nabi Isa AS mampu menyembuhkan orang sakit, yang tidak dapat disembuhkan oleh dunia tabib pada zaman itu, yang sebenarnya telah sangat maju. Bahkan, Nabi Isa AS mampu mengetahui secara detail isi lemari makan orang-orang Yahudi pada saat itu. Tapi, ada juga yang bersifat abadi, berupa Kitab, berbentuk shuhuf (lembaran-lembaran). “Shuhufi Ibrahima wa Musa”. Nabi Ibrahim AS dan Nabi Musa AS diberikan mukjizat berupa lembaran-lembaran atau Kitab. Mukjizat yang diberikan kepada Rasulullah SAW adalah Al-Quran, yang diturunkan dalam bulan yang mulia, melalui perantara yang mulia, kepada tokoh yang mulia, pemimpin dan penghulu para Nabi. Ramadhan tanggal 17 ini umumnya kita kenal sebagai Nuzulul Qur’an.

2. Al-Quran itu menjaga kitab-kitab sebelumnya (wa muhaiminan alaihi). Jika terdapat ayat-ayat dalam Kitab Taurat dan Kitab Injil yang bertentangan dengan Al-Quran, itu sudah pasti tidak asli. Jika ada ayat yang mengatakan bahwa Nabi Isa AS adalah salah satu dari tuhan yang tiga, itu sudah pasti bukan dari Kitab Injil yang asli, bukan Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa AS. Demikian pula yang lain. Al-Quran merupakan bukti kecintaan Allah kepada manusia, agar mampu hidup selamat, dan sejahtera di dunia dan akhirat. “Arrahman, allamal qur’an, khalaqal insan, ‘allama-hul bayan”. Allah adalah Maha Penyayang, Maha Pengasih tanpa pilih kasih. Allah menciptakan manusia, mengajarkan Al-Bayan, kemampuan berfikir, berargumentasi. Allah memberikan dua nikmat yang utama: Al-Quran dan Al-Bayan. Jika keduanya dipadukan, maka akan menghasilkan kekuatan yang maha dahsyat, menghasilkan kemajuan yang dahsyat, memiliki power yang besar. Berfikir dilandasi dengan Al-Quran. Al-Quran difikirkan, dipelajari dengan penuh kesungguhan, dipikirkan maknanya, kandungannya, direnungkan implikasinya, maka akan menghasilkan kekuatan yang dahsyat. Ketika kita berfikir dan merenungkan sesuatu dilandasi dengan Al-Quran, makan akan menghasilkan suatu kekuatan yang amat dahsyat. Al-Quran adalah buku kasih sayang. Barang siapa yang ingin berdialog dengan Allah, maka bacalah Al-Quran. Ada bentuk dialog (afala ta’qilun), ada bentuk perintah (ya ayyuhal ladzina amanu), dll, walaupun disampaikan dengan bahasa berita. Inilah makna Nuzulul-Qur’an yang perlu dijadikan momentum untuk mempelajari dan berfikir makna Al-Quran. Dalam suasana lockdown seperti sekarang, jika anak-anak kita di rumah mampu mempelajari makna dan kandungan Al-Quran, insya Allah kelak mereka akan menjadi generasi muda pintar, yang unggul, yang mampu membangun peradaban, dan membawa kemajuan yang lebih dahsyat. Zaynun Quraniyun, Faridhun. Generasi Qurani yang cerdas. Al-Quran adalah pedoman hidup. “Siapa yang berpegang keduanya (Al-Quran dan Hadist), kalian tidak akan tersesat”. Kita akan dijaga dari kesesatan pikiran.

3. Perhatikan Al-Quran Surat Fathir ayat 29. “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi”. Pertama, anugerah itu akan dicurahkan kepada siapa pun yang membaca (dan mempelajari kandungan) Al-Quran. Acuan utama adalah Al-Quran. Sumber pengetahuan lain seperti buku, jurnal dan lain-lain adalah pelengkap. Jangan dibalik. Kita terlalu larut pada buku-buku atau pengetahuan dari sumber lain, tapi kita tidak pernah membaca Al-Quran. Ini tidak benar. Jika pemahaman tentang Al-Quran tidak ditambah, itu salah. Jika kita ingin membangun peradaban yang islami, peradaban yang indah, peradaban yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan, maka bacalah Al-Quran. Al-Quran harus terus dibaca dan dipelajari, jangan musim-musiman. Membaca Al-Quran harus terus-menerus, setiap hari, setiap saat, perlu dijadikan kebiasaan. “Innal ladzina yathluna kitaballah”. Sesunggung orang-orang yang selalu membaca Kitaballah (Al-Quran). Pada aya di atas, Allah menggunakan tatabahasa atau grammar fi’il mudhari’, artinya Al-Quran harus dibaca terus menerus. Bulan Ramadhan, Bulan Syawal, Bulan Dul Qa’dah, Bulan Dul Hijjah dan seterusnya, Al-Quran terus dibaca. Bulan Ramadhan perlu memperbanyak baca Al-Quran itu, perlu juga mempelajari kandungannya. Kedua, adalah melaksanakan shalat. Dan ketiga menginfakkan sebagian rizkinya, baik secara diam-diam, maupun secara terang-terangan. Ketiga kelompok orang inilah yang akan senantiasa diberikan bisnis, urusan, dan perdagangan yang tidak akan pernah rugi. Jadikan Al-Quran sebagai bacaan harian di rumah, apalagi dalam suasana lock-down seperti sekarang. Ingat, Hadist Rasulullah SAW, “Rumah-rumah yang senantiasa dibacakan Al-Quran, makan akan diturunkan kepada mereka keberkahan”. Keberkahan, kebaikan dan sosulsi akan diturunkan kepada persoalan yang berat sekali pun. Apalagi kita sekarang sedang menghadapi persoalan berat.

4. Dalam Surat Al-Kahfi Ayat 103-104 ditegaskan: “Katakanlah, ‘Apakah ingin Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang perbuatan-perbuatannya paling merugi?’. (Mereka itu) orang yang usahanya sia-sia dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka itu berbuat sebaik-baiknya.” Di sana juga digambarkan tentang orang-orang yang paling merugi dalam hidupnya, yaitu orang yang sesat-menyesatkan dalam kehidupannya, walaupun mereka tidak merasa, bahkan telah merasa berbuat baik. Inilah bentuk penyakit hati yang membahayakan. Dengan membaca Al-Quran, insya Allah perbuatan sia-sia seperti ini akan hilang atau dihilangkan oleh Allah SWT. Al-Quran adalah obat dari penyakit yang ada di dalam dada (hati) manusia. Al-Quran adalah manhaj atau panduan kurikulum dalam menata kehidupan ummat manusia. Al-Quran itu muda dibaca, mudah dipahami, dan mudah diamalkan, asal ada kesungguhan. Ada empat ayat dalam Al-Quran Surat Al-Qamar yang sama, yang menjamin untuk memudahkan membaca dan memhami Al-Quran. “Walaqad yassarnal qur-ana lidz-dizkri fahal min mudz-dzakir”. “Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk dipfahami dan dipelajari, maka adakah orang yang mau mempelajari atau memikirkkannya?” Ini maksudnya pertanyaan, yang tidak perlu kita jawab. Kitalah yang perlu mempelajarinya. Keluarga akan menjadi keluarga yang sakinah, bahagia, sejahtera dan saling menyayangi, dengan mendekatkan diri pada Al-Quran. Surat Ar-Rum 21 yang sangat terkenal itu dan sering dibacakan pada upacara aqad nikah, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. Ayat-ayat ini dimulai dengan kata “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah”. Artinya, sakinah itu hanya Allah yang memberikan. Walaupun harta berlimpah, tapi jika jauh dari Allah, rasa sakinah atau kasih sayang itu tidak akan pernah datang. Ridha kepada Allah itu yang akan bermuara pada sakinah, yang mendatangkan ketenangan dalam kehidupan.

5. Ekonomi Syariah itu untuk kesejahteraan, bukan kesenjangan. Sangat berbeda degan ekonomi ribawi. Ekonomi ribawi itu umumnya dipertentangkan dengan zakat. Bertambah di satu sisi, tapi berkurang di sini lain. Harta yang kalian ribakan atau kalian bunga-bungakan mungkin akan menghasilkan nominal yang besar dalam pandangan manusia, tapi tidak akan pernah berkembang dalam pandangan Allah. Harta yang diperoleh dengan cara itu sama sekali tidak akan mendatangkan keberkahan. Riba itu justeru mendatangkan kesenjangan pendapatan. Berbeda dengan zakat. Harta yang dikeluarkan zakatnya secara nominal akan berkurang di mata manusia, tapi akan bertambah di mata Allah. Itu lah orang-orang yang akan dilipatgandakan keberkahannya. Dalam Al-Quran juga disebutkan bahwa riba juga dipertentangkan dengan shadaqah. “Allah akan menghancurkan riba dan mengembangkan shadaqah”. Maka jangan ragu-ragu dalam mengeluarkan shadaqah, apalagi di dalam bulan Ramadhan. Jangan sampai kita tidak pernah terpikir untuk tidak membantu mereka yang membutuhkan. “Tidak akan pernah jatuh miskin orang yang gemar shadaqah”. Satu lagi, dalam Al-Quran dijelaskan, “Allah mengharamkan riba dan menghalalkan jual-beli”. Para shahabat mengamalkan itu semua. Ketika usaha bisnis itu untung, maka keuntungannya itu bukan untuk diri sendiri, tapi untuk kepentingan ummat. Ingat, shahabat Abdurrahman bin ‘Auf RA yang sangat kaya raya. Beliau setiap hari menginfakkan keuntungan usahanya sampai dua pertiga. Setiap hari melakukan begitu, sehingga Allah SWT senantiasa melipatgandakan rizkinya. Dengan kurs mata uang sekarang, harta Abdurrahman bin Auf RA itu, kekayaannya mencapai triliunan rupiah. Demikian pula Khalifah Ustman bin Affan RA juga saudagar yang unggul dan kaya raya. Sekali berinfaq, 100 ekor unta atau setara Rp 5 miliar. Demikian ekonomi Syariah, yang non-ribawi. Bukan semata-mata keuntungan tapi mengantarkan simpati dan empati kepada orang lain yang membutuhkan.

6. Ayat pertama Al-Quran yang diturunkan adalah Surat Al-Alaq, dengan perintah membaca dengan nama tuhamu yang menjadikan manusia dari segumpal darah, yang mengajarkan ilmu dengan qalam, dan mengajarkan manusia tentang sesuatu yang tidak dikertahuinya. Konteksnya adalah pelajari ilmu yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Insya Allah kita tidak akan sombong, kepada kepada Allah dan kepada sesama manusia. Bahan baku manusia adalah sama, dari segumpal darah. Apalah yang mau disombongkan? Membaca dan menulis adalah perdaban islam yang sangat mulia. Membaca atau mempelajari sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjadi orang sombong. Para ahli ilmu biologi, perhatikan ayat-ayat tentang biologi. Para ahli astronomi, coba pelajari ayat-ayat tentang astronomi. Demikian pula, para ahli ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan lain-lain. Cobalah pelajari dengan seksama. Pendidikan yang terbaik adalah pendidikan pada masa Rasulullah SAW. Rasulullah SAW adalah tokoh yang paling berhasil mendidik dan membangunan peradaban bangsa. Para shahabat Nabi SAW adalah orang-orang dan generasi unggul, ummat yang terbaik. Hadist Rasulullah SAW juga menyebutkan. “Taatlah kepada Tuhanmu (Allah), maka engkau akan dikatakan sebagai orang yang cerdas, cendekiawan. Janganlah bermaksiat kepada Allah, maka engkau akan dikatakan sebagai orang yang bodoh”. Walaupun gelarnya banyak, pengetahuannya banyak, pangkatnya tinggi, tapi jika gemar bermaksiat kepada Allah, maka orang itu dikatakan bodoh.

7. Mari kita terus-menerus belajar. Dekatkan kita dengan Al-Quran, baca terus menerus, pagi dan malam. Dekatkan anak-anak kita kepada Al-Quran, agar menjadi generasi yang cerdas. Mari kita tutup dengan do’a kiffarat majelis. Demikian yang dapat saya sarikan. Silakan ditambahi oleh hadirin yang sempat menyimak ta’lim Prof. Didin tadi subuh. Terima kasih, semoga bermanfaat. Mohon maaf jika mengganggu. Salam. Bustanul Arifin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *