oleh

Prof. Dr. Syaikh Omar al-Ma’ruf Ali. (Guru Besar Hadits Universitas Islam Oumdurman Sudan)

Selamat Idul Fitri 1441 H

Oleh: ustadz Abdul Somad

Kesan pertama, tidak menggoda. Syaikh Omar nanya macam-macam. Belum apa-apa, udah seperti sidang aja. Terasa betul bodoh saya di hadapan Syaikh Omar. Apalagi pas dikasi oleh-oleh dari Indonesia, dia jawab ketus, “Kami tidak menerima hadiah sebelum sidang!”.
Pulang ke rumah, terasa mual, karena coretannya banyak sekali. Mata Syaikh Omar sangat tajam, titik pun dia permasalahkan.

Iklan RB

Setelah semuanya berlalu.
Syaikh Omar membawa saya ke kampungnya. Ia perkenalkan ke keluarganya. Ia potongkan kambing. Ia suapkan ke mulut saya. Ia bawa ziarah ke makam buyutnya di bukit Syaikh Thayyib, murid Syaikh Muhammad Samman al-Madani. Dia bawa saya berkeliling kota Khartoum dan Oumdurman. Menunjukkan tempat-tempat para wali Allah dan tempat bersejarah. Diantara ucapannya, ” Mungkin engkau bertanya dalam hati. Mengapa kita selalu jumpa di masjid. Mengapa aku tak pernah membawamu ke rumahku di Oumdurman? Aku tak punya rumah Nak. Aku menyewa rumah kecil sederhana. Lebih tiga puluh tahun aku jadi da’i Rabithah Alam Islamy yang digaji dari Makkah disamping gajiku sebagai guru besar. Semuanya kupakai untuk membangun masjid dan sekolah tahfizh”.

Waktu mesti memisahkan kami. Aku pun pulang ke tanah air. Syaikh Omar selalu membalas pesan-pesan yang ku kirim melalui whatsapp. Salah satu pesan nya, ” Terima kasih atas cenderamata yang engkau titipkan ananda Abdul Somad. Adapun uang yang engkau selipkan, sudah habis ku bagi-bagikan kepada faqir miskin “.
Setiap hari Jumat Syaikh Omar mengirimkan pesan dan doa melalui wa.
Tiba-tiba beberapa jumat tak ada berita. Pesan terakhir ucapan selamat Ramadan.
Lalu Mu’ayyad putera Syaikh Omar calon dokter itu berkirim pesan, “Tolong doakan Syaikh Omar, sedang sakit”.

Ku kirim potoku dan Hadziq. Kata Mu’ayyad, “Syaikh Omar tersenyum melihat poto kalian”.
Dua hari lalu Mu’ayyad kirim pesan, kondisi Syaikh kritis. Ku kirimkan bacaan doa. Ku minta Mu’ayyad mendengarkan suaraku ke telinga Syaikh Omar. Doa yang pernah ia ajarkan. Paling tidak ia tau, bahwa aku mengamalkan ilmunya.

Akhirnya, tengah malam tadi, Mu’ayyad berkirim voice singkat, “Syaikh Omar sudah mendahului kita”.

Selamat jalan Syaikhna
Engkau sudah lepas dari penjara dunia
Semoga kami bisa menapaki jalan keikhlasan yang pernah engkau ajarkan pada kami.

Syaikh Omar Al-Ma’ruf Ali
الفاتحة

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *