oleh

PRANK, BUDAYA SIA-SIA, BUDAYA KEBODOHAN

Selamat Idul Fitri 1441 H

Oleh: J. Faisal
Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor

PENDAHULUAN
Akhirnya, pelaku budaya Prank kena batunya juga. Dimana lagi kalau bukan di Indonesia, di kota Bandung tepatnya. Kegiatan ngeprank yang dilakukan di bulan suci Ramadhan ini dilakukan oleh tiga orang pemuda tanggung asal Bandung, yang bernama Ferdian Paleka, Aidil, dan Tubagus. Ketiganya kini sudah meringkuk di tahanan Polisi kota Bandung untuk mempertanggungjawabkan perbuatan iseng mereka. Awalnya ingin menambah penghasilan lewat penambahan jumlah viewer di channel YouTube mereka, akhirnya malah berakhir di hotel Prodeo.

Iklan RB

Wajar saja jika mereka harus meringkuk di penjara, karena memang apa yang telah dilakukan oleh mereka dengan memberikan bingkisan yang isinya berupa sampah pada tanggal 1 Mei 2020 tersebut, sudah sangat merendahkan derajat kemanusiaan. Dan wajar pula, jika para waria yang ‘beruntung’ mendapatkan bingkisan dari tiga prankers ini, menjadi murka semurka-murkanya, dan melaporkannya ke pihak kepolisian kota Bandung, dengan delik pengaduan perbuatan yang menghina dan tidak menyenangkan orang lain. Terlebih lagi, hal ini dilakukan di masa sulit pandemic wabah virus Covid19, dimana memang banyak masyarakat yang sangat mengharapkan bantuan dari sesamanya. Naudzubillah. Semoga ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi para calon prankers, agar mereka mengurungkan niatnya untuk ‘mengerjai’ orang lain dengan practical joke seperti ini. Sungguh perbuatan yang sia-sia. Dan pekerjaaan yang sia-sia itu adalah pekerjaan syetan.

SEJARAH SINGKAT BUDAYA PRANK
Jika kita telaah lebih dalam, budaya prank ini bukanlah budaya baru, tetapi ini adalah budaya kuno yang sudah dilakukan sejak abad ke-13 M, tepatnya di Inggris. Budaya ngerjain orang ini ternyata sangat digemari oleh rakyat Inggris, sehingga berkembang dengan sangat pesat. Pihak gerejapun sangat menyenangi budaya prank ini. Ini terbukti dengan seorang biarawan Inggris bernama Thomas Betson yang menggambarkan bagaimana ia menjahili atau membodohi saudara kandungnya sendiri.

Caranya terbilang cerdik. Betson sengaja menempatkan kumbang hidup di dalam apel yang sudah dilubangi. Akibatnya, buah itu seolah bergoyang dan bergerak maju mundur dengan sendirinya. Namun, orang-orang yang tak tahu malah meyakini bahwa buah tersebut kerasukan setan. Dan Betson bukan satu-satunya biarawan jahil di abad tersebut.

EDUKASI ISLAM TENTANG PRANK
Dengan niat untuk mencandai, tetapi dengan cara menjahili orang, maka perbuatan prank ini sudah jelas termasuk ke dalam perbuatan yang merugikan orang lain. Dan Islam sangat melarang keras umatnya untuk melakukan perbuatan yang dapat merugikan orang lain. Dan itu termasuk ke dalam perbuatan keji, sia-sia dan pastinya berdosa. Mengapa demikian? Karena dari asal katanya saja sudah jahil, yang artinya bodoh. Dan Islam sangat membenci kebodohan.

Sedangkan salah satu sifat orang beriman adalah sanggup meninggalkan perbuatan yang sia-sia (lagha), dan kebodohan semata-mata karena mengharap ridha Allah SWT. Sebab perbuatan sia-sia itu tidak diridhai oleh Allah SWT, dan bukan contoh dari Rasulullah SAW, serta bukan pula karakter orang-orang beriman. Allah SWT berfirman:
وَ الَّذينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ َ
Artinya: ” dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,.” (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 3).

Prof. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azharnya juga menyebut, “AI-Laghwi” dari kata “Laghoo”, artinya perbuatan atau kata-kata yang tidak ada faedahnya, tidak ada gunanya, dan tidak ada nilainya. Baik senda-gurau atau main-main yang tak ada ujung pangkalnya. Dan prank termasuk ke dalam kategori ini. Jika, perbuatan atau tingkah laku atau perkataan seseorang sudah banyak yang percuma dan sia-sia, itu menunjukkan kualitas pribadinya memang senilai itu rendahnya.

Itulah sebagian dari ciri orang beriman, yakni ia dapat meninggalkan perkataan dan perbuatan sia-sia. Dan itu pula yang merupakan bagian dari ke-Islaman seseorang. Waktu yang dipunyai tiap Muslim akan diisi hanya dengan hal yang bermanfaat. Sebagaimana diingatkan oleh baginda Nabi:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
Artinya: “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (H.R. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Apalagi kalau sampai berkata dusta, menipu, bahkan menyakiti orang lain. Ini jelas semakin menambah dosa baginya, sebagaimana peringatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Artinya: “Seorang Muslim adalah orang yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

PANDANGAN IBNU KHALDUN TENTANG BUDAYA LATAH
Dengan maraknya budaya prank yang dilakukan oleh kaum milenial bangsa ini membuat penulis merasa prihatin. Bagaimana tidak, kaum milenial yang seharusnya bisa berfikir lebih jernih dari para kaum tua pendahulunya, tetapi masih punya hati untuk melakukan tindakan-tindakan keji dan sia-sia, seperti prank ini.

Kaum muda milenial Indonesia seharusnya mampu untuk berkreasi lebih baik dan inovatif dalam segala bidang yang bermanfaat, daripada hanya melakukan kegiatan selevel mengerjai orang dengan kejahilan. Jika kaum muda milenial masih suka meniru atau melakukan budaya-budaya yang sia-sia atau tidak jelas seperti ini, apalagi ini hanyalah meniru budaya dari luar, maka itu artinya jiwa dan mental kaum muda milenial Indonesia masih berada di dalam jajahan pihak luar.

Mengapa demikian? Menurut ilmuan besar Islam Ibnu Khaldun dalam kitab Mukaddimahnya, bangsa yang sifatnya masih menjadi bangsa yang terjajah akan selalu mengikuti mode penjajahnya, baik dalam slogan-slogan, gaya busana, agama dan keyakinan, serta berbagai aktivitas dan perilaku mereka.

Semua ini terjadi karena jiwa manusia selalu meyakini kesempurnaan orang atau bangsa yang menguasainya, dan diapun patuh kepadanya. Pandangan seperti ini, bisa jadi dipengaruhi oleh keyakinan pada kesempurnaan jiwa yang dihormati dari orang atau bangsa yang menundukkannya tersebut. Mengapa demikian? Sebab , jiwa ini mempunyai asumsi keliru bahwa kepatuhannya kepada orang atau bangsa yang menguasainya bukanlah kepatuhan yang wajar. Jiwa yang seperti ini adalah jiwa yang kalah.

Mengapa anak muda milenial Indonesia harus meniru dan mempraktekkan budaya prank dan budaya-budaya asing lainnya yang jelas-jelas tidak berguna, dan bukanlah budaya bangsa Indonesia yang mencerminkan keluruhan budi? Karena jiwa para pemuda ini adalah jiwa yang selalu kalah dengan keadaan. Mereka tidak bisa mencari atau membuat sebuah solusi yang lebih kreatif dan lebih berguna dari segala permasalahan kehidupan mereka. Jiwa mereka menjadi malas, dan akhirnya tidak dapat mengendalikan keadaan.

Masih menurut Ibnu Khaldun, dengan kondisi semacam ini, harapan untuk bangkitpun menjadi terbatas. Sebab pembangunan peradaban hanya dapat dilakukan dengan kesungguhan cita-cita, dan semangat membangun. Dan bukan dengan menjahili orang.

Sebagai orangtua, kita harus selamatkan para generasi muda milenial bangsa ini, agar mereka tidak begitu saja meniru dan mempraktekkan budaya-budaya asing yang tidak jelas tujuan dan manfaatnya, apalagi sampai merugikan orang lain. Salahsatunya seperti budaya prank ini. Cukup Ferdian Cs ini saja yang menjadi korban karena ulahnya sendiri. Jangan sampai anak-anak kita melakukan hal yang membuat malu agama, keluarga, bangsa, dan diri mereka sendiri.

Akhirnya, marilah kita ikuti arahan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar kita selamat dunia dan akhirat, yakni dengan meninggalkan perkataan dan perbuatan sia-sia, dan bodoh, agar supaya hidup kita tidak sia-sia pula. Seperti sabda Rasulullah SAW:
إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ قِلَّةَ الْكَلاَمِ فِيمَا لاَ يَعْنِيهِ
Artinya: “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat.” (H.R. Ahmad).

Wallahu’alam bissowab
Jakarta, 10 April 2020

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *