oleh

Ridwan Kamil Apresiasi Unpad Peduli Darurat Covid-19. Fenomena Sejumlah Mahasiswa Terancam Terusir dari Kosannya

Selamat Idul Fitri 1441 H

Dilaporkan tribunasia.com, Sabtu (9/5). Ridwan Kamil menegaskan, kepekaan atau solidaritas sosial diperlukan untuk membantu sesama, khususnya bertepatan momentum bulan suci Ramadhan.

“Dari kacamata kami narasi pembatasan sosial kedaruratan berubah menjadi solidaritas sosial. Apalagi ini bulan Ramadhan, bulan keberkahan, bulan tolong menolong,” ungkap Kamil dalam pembicaraan di Webinar Seri IV Institut Pembangunan Jawa Barat (Injabar) Universitas Padjadjaran (Unpad) dari Gedung Pakuan, Kota Bandung, Kamis (7/5/20).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Injabar, Unpad selenggarakan webminar atau seminar online berkaitan dengan teror penyakit yang menyerangan pernapasan akut berat dengan kode genetik SARS-Cov-2 (severe acute respiratory syndrome-related coronavirus-2) yang ditemukan triwulan akhir tahun 2019 ini. 

Webminarnya mengangkat tema Covid-19: ‘Respons Kebijakan, Tatakelola Pengendalian, dan Kestabilan Sosial’ oleh Injabar sebagai pusat dan riset pembangunan Jabar hasil kerjasama Unpad dengan Pemprov Jabar.

“Saya mengapresiasi inisiatif Injabar. Injabar ini adalah hasil kesepakatan bahwa kami di Jawa Barat membutuhkan input-input dalam pengambilan keputusan terkait pembangunan Jawa Barat. Dan menitipkan institusi satu pintu yaitu di Unpad untuk memberikan nasihat kepada Jawa Barat,” tandasnya.

Menurut literasi, Injabar adalah institusi cendekiawan Unpad yang mendedikasikan diri dalam pendidikan, mencerdaskan bangsa serta peduli memberikan solusi konstruktif kepada pemerintah. Dengan puluhan ribu pelajar unggulan dari seantero Indonesia, Unpad telah menghasilkan sekular yang berwawasan sosial. 

Nasib Mahasiswa Perantau

Dilain pihak, akibat dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Covid-19 krisis moneter 2020 ini, kesusahan mulai dirasakan para mahasiswa perantauan. Dari informasi yang tribunasia.com kumpulkan, selain kesusahan makanan lantaran terganggunya kiriman uang dari orang tua masing-masing, mareka juga terancam diusir dari kamar kosan mareka. Malah, ada yang sudah tak mampu lagi bayar kosan, dan terkatung-katung atau mengungsi ke kamar kos teman-temanya. 

Situasi mahasiswa tetap bertahan di perantauan karena terjebak oleh embargo transportasi. Selain itu, yang lebih urgen, mahasiswa yang sedang proses pengerjaan tugas akhir semisal, skripsi. 

Dalam situasi krodit ekonomi saat ini, entah karena terdesak atau ingin mengambil untung dari kondisi ‘ketersanderaan’ mahasiswa perantau ini ‘memaksa’ menaikkan uang sewa kos atau mempercepat tagihan tahunan kos walau beberapa bulan lagi. Ada pula pemilik kos yang memutuskan sambungan wifi atau menutup-mengunci gerbang lebih cepat supaya mahasiswa tersebut bersedia cepat membayar ataupun meninggalkan kosannya. 

Alasan si empunya kos bermacam-macam, mulai dari ingin merenovasi bangunan kos atau atau sudah aturannya yang tak dapat diganggu-gugat, atau tanpa memberikan alasan. Begitu ya, begitu. 

Contoh mahasiswa yang didera nasib tragis diantaranya adalah Rahi mahasiswa semester akhir di sebuah fakultas di Universitas Indonesia (UI) Kota Depok. Mahasiswa dari Sumatera ini, mempunyai orangtua sebagai pedagang makanan warungan ini mulai kesusahan uang dan tersendat membayar kosan tahunannya. 

“Yang punya kos nagih uang tahunan kos saya. Sedang dari orangtua sedang tersendat kiriman. Cari uang sampingan dengan kerja serabutan juga ndak bisa karena PSBB. Mengungsi ke masjid juga ndak bisa. Pusing nih,” ujar RH yang menyembunyikan identitasnya. 

Sebutnya, ketika meminta tangguhan waktu kepada pemilik kos, diberikan perkataan, “saya bukan kementerian sosial”.

Hal yang sama juga dialami mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Jatinangor, Sumedang, Sayyidatiihayaa Afra Geubrina Raseukiy. Mahasiswi semester akhir yang sedang mengerjakan skripsi ini, juga didera persoalan tagihan kos. Sedangkan untuk makan sehari-hari masih dapat tertangani selain dari uang sakunya, di Unpad juga ada program bantuan makanan dua kali sehari dari kampus.

Namun, yang membuat Hayaa resah, tiba-tiba saja pemilik kos menagih bayaran kos di bulan Mei ini bahwa per Juni esok harus sudah melunasi uang kos tahunan jutaan rupiah. Membuat Hayaa kesal, padahal, waktu sewa kosnya adalah dari bulan Oktober 2019 hingga bulan Oktober 2020. Tapi, sudah ditagih lagi.

“Yang punya kos tidak mau tahu. Itu sudah aturan dia. Padahal waktu Agustus lalu saya bayar tahunan kos, dia terima saja. Ini saya ditagih lagi. Kalau saya belum bayar, saya dibuat tidak nyaman. Tertekan juga, sedang kondisi seperti ini, apalagi sedang butuh konsentrasi untuk skripsi. Saya baru saja ajukan proposal skripsi. Lusa saya sidang oleh pembimbing. Saya bersyukur juga adik saya kuliah di Universitas Negeri Jakarta, semester 4, selain itu juga dekat dengan Kota Depok,” ujar Hayaa. 

Hayaa warga Kota Depok ini mengaku, sudah beritahukan masalahnya ini kepada orangtuanya. Berjanji akan mencarikan uang untuk biaya kosannya, sebab bila tidak bersedia atau mampu bayar makan terancam terusir dari kosan. Orangtuanya sudah mencoba menyurati Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kota Depok berharap mendapat jalan bentuk-bentuk bantuannya. 

“Kata Ayah sedang dicarikan duitnya. Semoga saja berhasil. Sudah sejak kemarin senin tanggal 4 Mei sudah dikirimkan ke Sekretariat GTPP Covid-19 Kota Depok. Sekarang sudah enam hari masih menunggu responnya,” jelas Hayaa. (Hira)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *