oleh

Serunya Operasi KPK : Ada Anti Klimaxnya di Pengadilan.

Selamat Idul Fitri 1441 H

 

Seorang teman Presiden ditangkap KPK di Jawa timur. Bagi orang Indonesia berita ini bgmn pun masih dianggap luar biasa. Apalagi kemudian ternyata Yg ditangkap itu Ketua Umum Partai.

Iklan RB

Diketahui, bahwa kasus ketua umum partai itu ditangkap tdk ada kaitannya dng presiden. Namun Pengaitan Itu tdk lebih hanya pandangan masyarakat yg melihat bahwa selama Ini bila teman penguasa tertentu saja susah ditangkap apalagi teman Presiden tentu agak mustahil ditangkap. Begitulah opini umum masyarakat kebanyakan.

Berdasarkan data, pernah ada Yg dekat dng Presiden ditangkap KPK, apa Yg terjadi? KPK-nya menjadi bulan2an, semua borok orang2nya dibuka dan KPK pun sempoyongan. Dng kata lain ternyata KPK juga tak bersih2 amat.

Karena itu tdk heran bila sampai ada Temen presiden Ketua Umum Partai lagi sampai ditangkap dan kasus korupsinya pun memalukan sekali, sangat klasik, yakni menjual pengaruh utk melakukan jual beli jabatan. Tapi walau kecil dan klasik itu adalah pintu masuk. Karena itu patut diduga atau cukup masuk akal bila ada motif politik disini dari orang Yg berusaha utk menyingkirkan sang Ketum, Yg setelah mempelajari kebiasaan Sang Ketum, maka niat sekelompok orang utk menyingkirkannya pun terbuka. Sang kata lain operasi penyingkirannya bisa terjadi karena ada pintu yg terbuka. Semua itu bisa terjadi mungkin krn sudah ada Yg mulai gerah di sekitar presiden atas kehadirannya sementara demikian juga di internal partai serta yg lain-lain – bahkan bisa jadi juga gang kecilnya pun melihat dia sudah terlalu liar dan bisa dianggap bisa mengganggu peluang anggota gangnya Yg lain, sehingga dianggap akan lebih baik bila dia disingkirkan – logica Ini dlm berbagai novel bisa di jalankan ketika dikekuasaan pun Ada orang atau kelompok yg meriang atas kedekatannya dng sang Presiden – lalu Kerja sama dua kelompok itu pun terjadi – dan tersingkirlah kawan Itu. Tapi itu semua bisa terjadi krn memang kelakuan si Ketum ternyata masih suka ngerampok Yg kecil-kecil. Tapi ada Yg bilang itu hukum karma, d karena dia mengkhianati Ketum sebelumnya. Benarkah? Tak ada Yg tau,?sebab itu cuma bisik-bisik saja. Kita tak tahu, setelah ini siapa Yg akan tertulah berikutnya.

Berikutnya persekongkolan teman satu gang dng orang luar gang dlm kekuasaan pun berjalan – sang Ketum masuk penjara lalu teman seiring yg dulu satu gang pun menggantikannya – kawan Presiden tadi Dan seorang temannya yg jadi mentri agama tersingkir – tapi kawan sang Ketum yang menjadi Mentri cukup beruntung karena Oleh KPK cuma diperiksa tdk dijadikan tersangka sekalipun ruang Kerjanya Sempat dibeslah Dan dalam laci meja Kerjanya ditemukan uang, begitu diberitakan.

Mereka adalah gang yg memanipulasi keadaan dan menghancurkan Partai tsb dari Dalam. Banyak Yg berduka, tapi banyak Yg tdk mengerti atau menerima kehancuran akhlak disana. Semua bermula dari muktamar Ancol, terus melalui serangkaian pengkhianatan terhadap prinsip perjuangan Partai, terjadi lah perpecahan Dan tragedi kekerasan dari pengurus partai spt main ancam kepada pengurus di bawah dan merekayasa susunan pengurus.

Peristiwa itu menjadikan partai dikuasai politisi orde baru dan pengkhianat baru – itu akhirnya Yg membuat partai itu menjadi juara memasukkan pejabat partainya ke penjara. Setidaknya pd tingkat pusat 2 ketua umumnya telah pernah menjadi pasien lembaga pemasyarakatan sbg nara pidana berikut 2 lagi, sedang daerah tdk usah disebut. Yg mengherankan bgmn bisa mereka kok sama kelakuannya dng partai sekuler?

Dari 2 Ketum Yg menjadi pasien KPK, dua-duanya merupakan kawan Presiden dari periode Yg berbeda.

Sungguh miris memang, tapi bukan cuma miris atas apa Yg di alami oleh partai itu Yg kemudian terpecah, menjadi kerdil dan aktor Yg Mengkerdilkannya sukses menjadi pejabat serta menempati posisi tanpa sedikit pun pernah bicara ttg umat dan nilai2 perjuangan partai, melainkan juga miris melihat KPK dan Pengadilan dalam proses penegakan hukumnya yg terkesan sangat jauh dari spirit politik hukum negara dlm pemberantasan korupsi. Dengan kata lain bisa dikatakan ada korupsi dalam pemberantasan korupsi.sungguh luar biasa.

Luar biasanya kasus ini bisa dilihat dari proses penangkapan Yg dilakukan KPK. proses penangkapannya sangat menegangkan, ada adengan kejar-kejaran, pertengkaran/adu mulut sementara Kameraman dan blizt Terus menyala, kita tak tahu siapa mereka apakah jurnalis dan dari media mana atau petugas KPK. Bila mereka dari media, bagaimana media bisa tahu dan ada disana.

Setelah kejar-kejaran sejenak, akhirnya petugas KPK berhasil membekuknya – kabarnya sempat adu mulut, tapi tak lama.

Spt biasa media mainstream baik TV maupun cetak serta online secara nasional terus-menerus menyiarkan beritanya. Sejumlah tempat mulai kantor termasuk kantor kementrian, rumah dan berbagai tempat lainnya digeledah, sejumlah dokumen dan uang disita dan sejumlah nama pun kemudia mulai masuk daftar utk diperiksa KPK.

Tapi ada keanehan sejumlah nama yg muncul kemudian termasuk Yg di meja kerjanya ditemukan uang serta pemberi uangnya sudah ditahan dan ketika itu diyakini pasti akan diadili namun beberapa nama Yg menjadikan peristiwa pidana Yg dimaksudkan bisa terjadi tetap saja tak disentuh KPKk. Pdhal mustahil tanpa dukungan keputusan institusi tersebut peristiwa hukum Yg dituduhkan bisa terjadi. Ini memang keanehan Yg luar biasa dan mencederai rasa keadilan masyarakat.

Seperti di jelaskan di atas bahwa ternyata antara kehebohan dan keanehan dalam proses penangkapan dan penyidikannya, berlanjut ke proses peradilannya dan pemberian putusannya di tingkat banding. Kita tdk bisa memahami logika pengadilan tinggi dilihat dari substansi kasusnya berikut aktor Yg melakukannya jelas merupakan pidana korupsi Yg serius. Karena dampaknya adalah rusaknya birokrasi khususnya sistem karir dan promosi sebuah departemen pemerintahan. Swhingga memutuskan menjatuhkan hukuman 1 tahun itu, selain melukai rasa keadilan juga menghancurkan kredibilitas peradilan – bahkan mungkin cukup alasan secara hukum utk menduga adanya penyalahgunaan kebebasan hakim dalam putusan itu. Hal itu menjadi jelas bila hukuman atas dua mantan Ketum Yg berurusan dng KPK kita banding, jelas sangat berbeda. Walau kasusnya tak sama. Tapi Yg ingin kita katakan itu ada dlm dua periode penguasa Yg beda pula. Juga Yg menarik kainnya adalah apa Yg dibuktikan berikut tdk ditariknya mereka Yg bersekongkol utk diproses secara hukum. Yg ini sama, baik Ketum Pertama dan Ketum Kedua ada Yg masih lolos dan belum ditarik KPK sbg tersangka.

Ini kita lihat seperti kebiasaan KPK Yg sangat menarik utk dikaji.

Kembali pd keanehan dlm putusan banding Pengadilan Tinggi Jakarta. Keanehan2 putusan tersebut secara substansial dan juridis terlihat dari :

1. Putusan itu Tdk sedikit pun mempertimbangkan nilai dan spirit politik hukum negara dalam pemberantasan korupsi. Apalagi bila dilihat dari kasus Ketum pertama.

2. Putusan itu tdk memiliki nilai Yg membuat terhukum jera, juga tidak mendidik. Sehingga jauh dari tujuan pemidanaan.

3. Putusan itu membuat kredibilitas pengadilan menjadi semakin rendah, serta menjadikan reformasi badan peradilan terlihat cuma sbg live service semata.

4. Bila pengadilan tdk yakin terdakwa/terpidana bersalah mengapa tdk diputuskan bebas dan nyatakan dakwaan dan tuntutan tidak terbukti secara sah? Jika pertimbangan hukumnya masih berpegang pd “terdakwa terbukti bersalah sbgmn tersebut dlm surat dakwaan dan tuntutan”, sungguh putusan itu merupakan ironi dan lelucon Yg merendahkan lembaga peradilan.

5. Putusan itu merupakan anti-klimaks Yg membuka pintu utk mendesak dilakukannya audit atas semua putusan pengadilan Tipikor Yg diluar kepatutan dan rasa keadilan.

Dan sebagai penutup perlu kami ingatkan semua anak bangsa, bahwa hancurnya suatu bangsa bermula oleh tidak tegaknya hukum dan keadilan.

Karena itu siapa pun Yg mempermainkan hukum, mereka adalah orang-orang Yg menghancurkan bangsa dan negara.

Jakarta

Jumat, 1 mai 2020

Maiyasyak Johan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *