oleh

Hari Buruh, KAPTEN Indonesia: Sektor Perburuhan Butuh Perhatian Serius

Selamat Idul Fitri 1441 H

 

Hari ini 1 Mei 2020 dikenal dengan May Day atau Hari Buruh Internasional, bertepatan Dies Natalis Komunitas Penyedia Tenaga Kerja Internasional (Kapten) Indonesia yang secara sengaja dibentuk pada Hari Buruh sebagai respon Keresahan melihat kondisi buruh yang belum termerdekakan di alam demokrasi ini, buruh selalu menjadi Second line dalam pemberian kepuasan hasil, jangankan Sejahtera mendekati cukup dan layak saja masih dipertanyakan, sementara rakyat Indonesia yang mayoritas pekerja baik yang formal maupun di sektor informal tidak pernah mendapatkan prioritas dalam agenda pemerintah, stakeholder terkait juga tidak mampu mengusung tema-tema kemanusiaan yang mengeluarkan Buruh dari keterpurukan hingga saat ini, maka wajar kalo sepanjang tahun jalanan diwarnai dengan demonstrasi para buruh dan syarekat buruh.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

indikasi ini menunjukkan betapa pemerintah tidak sanggup menjawab probelmatika perburuhan, dalam negri saja tidak tuntas apalagi Buruh Migran Indonesia (BMI) Hak-haknya belum maksimal, pemerintah mengurus setengah hati, perlindungan tidak terjamin nasibnya, penempatan selalu sarat dengan kepentingan, di luar negri hampir semua BMI tidak punya cerita kebanggan terhadap negerinya, bila ditawari memilih maka mereka pasti tinggalkan Indonesia, bukan benci dan bukan tidak cinta NKRI, tetapi tatanan yang dibangun pemerintah terlalu diinabobokkan oleh kepentingan sesaat.

Saya secara pribadi pernah menjadi buruh di Negeri Sakura Jepang selama 3 tahun lamanya, rasanya malu bercerita identitas dan keberpihakan pemerintah kepada masyarakatnya yang berstatus sebagai DEVISA NEGARA, Devisanya dibanggakan tapi pelakunya diabaikan, mulai persiapan berangkat sudah berhadapan dengan mafia-mafia, ditempat kerja tidak pernah disapa, begitu pulang tidak sedikit diperas dan dipersulit masuk ke neg eri sendiri, lalu apa peran pemerintah pada entitas perburuhan?

Berkaca pada kondisi tersebut, KAPTEN INDONESIA lahir mencoba menarik benang merah, merubah maindset dari pemikiran buruh yang semakin memburuk menuju kesejahteraan buruh dan sekaligus menjadikan dunia pekerja sebagai industri ketenagakerjaan, jalan panjang ini kami coba retas dalam siklus yang tidak terlalu lama namun membutuhkan tenaga, pikirian, materil dan dukungan maksimal dari kawan-kawan Buruh, Syarekat Buruh, komunitas Buruh dan seluruh komponen masyarakat secara merdeka memikirkan jalan keluar ini, point-point penting dalam perubahan kedepan adalah :

1. Perlu Swastanisasi urusan Buruh secara massif, profesional dan terkontrol
2. Wajib dilahirkan sistem ketenagakerjaan yang memudahkan warga negara Indonesia keluar negeri dengan melihat potensi pekerjaan yang semakin besar
3. Perlunya dilahirkan kurikulum berbasis kompetensi dan pengembagan SDM Unggul
4. Wajib secara terbuka pemerintah memaksimalkan perlindungan dan penempatan BMI dengan benar dan manusiawi
5. Pemerintah harus segera membentuk SATGAS PEMUTIHAN BURUH ILEGAL di semua negara sebab ini merugikan kedua bela Negara baik Indonesia maupun negara tujuan karena bekerja tidak bayar pajak
6. Indonesia harus segera memiliki penjaga NKRI dengan mengontrol semua data pekerja migran baik yang keluar negeri maupun yang masuk ke Indonesia, karna sampai hari ini tidak ada lembaga kredibel yang mampu menjelaskan berapa PMI di luar negeri, berapa orang yang sudah kembali ke tanah air, bagaimana rekam jejaknya dll
7. Perlu pelibatan dan penguatan legitimasi syarekat buruh dan lembaga penyedia tenaga kerja oleh pemerintah atas semua masalah-masalah yang timbul dalam dunia buruh
8. Hilangkan istilah Pekerja Formal, Non Formal dan Informal di luar negeri karena pada intinya hanya menyengsarakan BMI dan menggalikan kuburan untuk jalan tidak diberi hak-haknya secara maksimal serta ajang merendahkan BMI
9. Segera menuntaskan OMNIBUSLOW khususnya poin-poin ketenagakerjaan, atau bila perlu hentikan saja karena hanya menimbulkan keresahan bagi pekerja dan pemilik perusahaan yang ujung-ujungnya merugikan kedua belah pihak.

Dewan Pimpinan Pusat KAPTEN Indonesia

Abdul Rauf
Ketua Umum

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *