oleh

Puasa (menurut Al Qur’an) 5

oleh Toto Ibi Ihsan
Setelah memberikan pengantar sebagaimana bahasan terda FChulu Syekh Sayyid Quthb memulai bahasan tentang ayat-ayat puasa.

Saat membahas ayat 183 surat Al Baqarah, beliau memulainya dengan kenyataan bahwa puasa adalah sebuah kewajiban. Kemudian beliau memandang hal ini dari sudut kejiwaan orang yang memikul kewajiban tersebut. Beliau mengatakan _”Allah Yang Maha Suci mengetahui bahwa taklif (penugasan) ini adalah urusan yang jiwa manusia memerlukan pertolongan, dorongan dan motivasi untuk menimbulkan semangatnya agar mau menerimanya, meskipun terdapat hikmah dan manfaat di dalamnya, sehingga dia merasa puas dan rela melakukannya.”_

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Catatan saya:

Sudut pandang yang digunakan seorang mufassir tentunya banyak dipengaruhi oleh ilmu, pengalaman dan pemahamannya. Dalam hal ini saya melihat betapa Syekh Sayyid Quthb memiliki jiwa yang sensitif dan memperhatikan benar sisi pendidikan jiwa-jiwa manusia. Maka dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an beliau sangat memperhatikan diksi dan kaitannya dengan jiwa-jiwa manusia yang disentuh dan dipanggil oleh ayat-ayat tersebut.

Contoh yang jelas ada dalam penafsiran beliau mengenai ayat-ayat puasa ini.

Hal pertama yang beliau tinjau bukanlah “kewajiban dan bagaimana cara melaksanakannya” melainkan tinjauan tentang bagaimana Allah SWT menurunkan wahyu yang akan menyentuh jiwa-jiwa manusia sehingga termotivasi untuk melaksanakan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara sukarela.

Jadi, pertama-tama Syekh Sayyid Quthb menjelaskan bahwa Allah SWT adalah Mahasuci dari segala kekurangan sehingga tak heran bila Dia Maha Mengetahui adanya kebutuhan jiwa-jiwa manusia untuk dimotivasi, sehubungan dengan kewajiban yang akan dibebankan.

Bagaimana cara Allah SWT memotivasi?

InsyaaAllaah bersambung….

Toto Abi Ihsan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *