oleh

Sektor Transportasi Umum Mengenaskan Nasibnya Sejak PSBB diberlakukan

Jakarta, TribunAsia.com-Wabah Covid-19 yang melanda tanah air berdampak kuat pada sektor transportasi khususnya untuk angkutan umum perkotaan (angkot). Di mana sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan, sektor ini bisa dibilang sekarat.

Bagaimana tidak, sebelum Covid-19 masuk ke Indonesia, angkot memang telah “mencuri start” krisis, pasalnya persaingan moda transportasi umum terbilang sangat ketat dengan terus bertambahnya armada bus Transjakarta, dan juga transportasi berbasis digital.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Maka tak heran ketika Covid-19 masuk dan berkembang masif di tanah air khususnya Ibukota Jakarta seperti angkot bak sudah jatuh tertimpa tangga.

Namun sayangnya para penggerak utama sektor ini seperti pengemudi atau sopir seakan terabaikan. Keluhan dan curahan mereka jarang tersiar layaknya derita para pelaku ojek online (ojol) yang kini mendapat perhatian masyarakat luas.

Salah seorang pengemudi angkot di terminal Kampung Rambutan, Fermin Tampubolon mengungkapkan keluhan yang mewakili rekan-rekan sesama sopir angkot bahwasanya selama wabah Covid-19 ini belum pernah menerima bantuan baik dari pemerintah atau pun otoritas terminal.

” Kami sopir angkot selama korona ini belum pernah menerima bantuan dari mana pun. Saya ini KTP DKI Jakarta, saya juga enggak pernah didata,” jelas sang sopir di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Selasa (28/4/2020).

Menurut Fermin sejak ditutupnya terminal saat ini membuat dirinya kesulitan mendapatkan penghasilan. Sehingga saat sore tiba dia terpaksa keluar cari bantuan untuk memperoleh sesuap nasi.

Kendati demikian, para sopir angkot tersebut meminta perhatian dari pemerintah terkait nasib mereka dimasa pandemi.

” Harapan saya agar pemerintah perhatikan rakyat kecil seperti kami sopir angkot yang sudah tidak punya uang lagi untuk makan. Hanya mengharapkan bantuan,” tandasnya.

Hal senada juga diutarakan, Joshua Parlindungan, pengemudi angkot lainnya mengeluhkan imbas pelarangan mudik yang telah diberlakukan pemerintah.

Dia mengaku saat merebaknya virus Covid-19 penghasilan dirasa sangat sulit diperoleh untuk pulang sebab kelangkaan calon penumpang di terminal.

” Sepi enggak ada penumpang, jadi kami ya cuma sabar-sabar aja berharap ada bantuan datang. Saya berharap bantuan dari pemerintah dipercepat,” harapnya.

Parahnya lagi, menurut salah seorang sopir angkot lainnya menyampaikan, masih adanya pungutan untuk pengatur waktu keberangkatan atau dikenal dengan istilah timer di terminal. Nominal pungutan itu sebesar Rp 16 ribu/hari, dan tak ada dispensasi disaat kondisi pandemi sekarang ini.

” Kami kalau bayar timer itu satu hari kami bisa bayar 16 ribu, tapi keadaannya lagi begini kami tidak bisa. Tapi masih ada petugasnya juga enggak ada dispensasi. Bantuan ke kami dari pihak terminal juga enggak ada. Cuma ada bantuan makan siang, itu pun tidak semua,” keluh juru kemudi. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *