oleh

Dampak PSBB, Ahli Pangan: Kebutuhan Sayur dan Protein Masyarakat Berkurang

Jakarta, TribunAsia.com – Dampak dari PSBB tersebut setidaknya dapat mengurangi kebutuhan protein dan gizi dimasyarakat karena distribusi kebutuhan pokok maupun pangan lainnya terganggu.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan oleh pemerintah tak lain dimaksudkan untuk mencegah virus Covid-19/Korona.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Bahkan, hingga kini masyarakat mengurangi aktivitas jual beli dipasar. Sebab masyarakat takut terpapar virus Covid-19 ditengah kerumunan massa.

Menurut Wildan S Nian selaku Ahli dibidang Pangan, saat ini masyarakat lebih memilih persediaan stok beras ketimbang sayur dan protein lainnya.

” Kini konsumsi sayur dan makanan yang mengandung protein berkurang di masyarakat. Orang lebih banyak mengonsumsi karbohidrat seperti beras, karena beras lebih tahan lama dan mudah disimpan sebagai stok,” jelas Wildan kepada tribunasia.com di Jakarta, Sabtu (25/4/2020).

Namun demikian, Ahli Pangan menilai selama pandemi Covid-19 situasi tersebut juga menimbulkan pergeseran pola konsumsi terhadap masyarakat.

Dia berharap dari dampak itu, dibutuhkan kerjasama pihak-pihak terkait untuk menjamin asupan gizi masyarakat ditengah pandemi Covid-19.

” Diperlukan kerja sama banyak pihak untuk mengurangi potensi gangguan kesehatan terutama anak-anak, dengan menyediakan makanan bergizi yang beragam,” tutur Wildan.

Perhatikan Kaidah Distribusi
Masalah utama tanaman pangan hortikultura (sayur-mayur) dan pangan protein (daging sapi, ayam, dan lain-lain) adalah naturnya yang berumur pendek. Karakteristiknya yang mudah rusak juga meniscayakan bahan pangan ini untuk segera mungkin didistribusi.

Sementara itu, penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menambah kesulitan baru dalam proses logistik. Ia pun merinci, permasalah pangan bisa timbul karena distribusi.

” Jika distribusi tidak dipetakan dengan tegas, bisa mengakibatkan dua hal. Pertama, gagal distribusi yakni ketika terjadi penumpukan komoditas pangan di daerah produksi. Atau kedua, gagal konsumsi yakni bahan pangan diterima masyarakat dalam kondisi tidak layak,” tandasnya.

Wildan mengatakan, demi menghindari hal-hal yang tidak diuntungkan, perlu ada langkah penyelamatan hasil produksi masyarakat tani. Terlebih, jangan sampai ketika mereka panen produknya tidak tersalurkan.

” Jangan pula terjadi yang kedua produknya tersalur tapi kualitasnya tidak terjaga,” tambah dia lagi.

Kemudian, sebut dia, langkah yang paling utama adalah peningkatan kapasitas produksi pabrik-pabrik pengolahan pangan, baik BUMN/BUMD maupun swasta.

Dengan meningkatnya kapasitas produksi, pabrik-pabrik pengolahan pangan diharapkan dapat mengatur ulang sistem produksinya menjadi lebih baik. Sehingga, dari uraian tersebut mampu menunjang rantai distribusi di tengah pandemi Covid-19.

” Rantai distribusi perlu ditunjang sejak proses produksinya. Pertama pastikan penyerapan hasil produksi optimal lebih dahulu, lalu berturut-turut tampung, olah, kemas, dan simpan bahan pangan dengan kaidah yang benar,” kata dia.

” Jika itu dilakukan, bahan pangan diharapkan tiba di tangan masyarakat dalam kondisi baik dan layak konsumsi,” sambung Wildan. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *