oleh

Tidak Ada Alasan Lagi Shalat Jum’at dan Berjamaah Dilarang Di Masjid…!!!

Selamat Idul Fitri 1441 H

(Oleh: Amir Kumadin, SF)

Masih banyak orang yang salah menafsirkan Fatwa MUI No. 14 Tahun 2020 tentang Wabah Covid-19, atau malah gara2 saking takutnya sama SK walikiota dan surat edaran Sekda propinsi, atau lebih malah lagi, ada vested interest orang tertentu, maka hasilnya meniadakan shalat Jum’at dan Berjama’ah di masjid.

Iklan RB

Bahkan ada sebagian DKM masjid yg tidak berani mengumandangkan adzan dengan speaker/toa, dan lebih akut dan paranoid lagi, malah mengunci rapat2 pagar masjid.

Memang tidak semua begitu, karena masih banyak masjid yg tetap menyelenggarakan shalat Jum’at dan Fardhu Berjamaah seperti biasa.

Bagi DKM-DKM yg selama ini belum/tdk menyelenggarakan shalat Jum’ah, sementara di kawasan mereka mukim, penyebaran Covid-19 masih sangat terkendali, maka segera melakukan loby2, diskusi, dan konfirmasi secara informal, dari hati ke hati, dengan pihak kepala desa, camat, dan aparat setempat.

Dengan tujuan akan menyelenggarakan shalat Jum’at ataupun Fardhu Berjama’ah, dengan pertimbangan bahwa di daerah/kawasan masjid kita masing2 dalam faktanya, penyebaran Covid-19 masih sangat terkendali.

Dan dengan indikator bahwa, belum diberlakukan lockdown, kemudian presentase yg terkonfirmasi Covid-19 masih di bawah 1% (masih enol koma enol sekian persen) dari jumlah penduduk di kawasan tersebut.

Kemudian, bahwa sholat Jum’ah akan dilakukan dengan syarat. Yakni, dengan *menerapkan protocol pencegahan covid-19 dari WHO dan menkes.*

Protocol tersebut diantaranya:

👉 Masjid dipel tiap hari.
👉 Masjid disemprot disinfektan tiap pekan.
👉 Karpet masjid digulung.
👉 Setiap jama’ah dicek suhu badan dgn alat pengukur suhu. Jika ada jama’ah yg memiliki gejala abnormal, misal suhu 38° c ke atas, pilek/flu, batuk2, dll disarankan utk shalat di rumah saja.
👉 Social/fisical distanching diterapkan dlm shof sholat. Misal, keramik lantai ditandai tulisan *”berdiri di sini”* dan dgn jarak 1/2 meter.
👉 Disediakan sanitizer di setiap pintu masuk masjid.
👉 Disediakan handsoap/sabun pencuci tangan di setiap tempat wudhu.
👉 Jika mampu, setiap masjid menyediakan *”bilik disinfektan”*. Tiap orang sebelum masuk masjid, terlebih dulu masuk bilik tersebut.
👉 Tiap orang/jama’ah diusahakan/wajib pakai masker. Jika salah satu dari jama’ah bersin, maka sdh aman karena tertutup masker.
👉 Diumumkan agar tiap jama’ah tidak usah bersalaman saat bertemu dan saat setelah usai shalat.
👉 Dan seterusnya….!!!

Karena tiap kerumunan masa, misal saat di bank, di bandara, di kantor, di samsat, di pasar, dan seterusnya, yang menerapkan protocol pencegahan covid-19, juga tidak dilarang.

Dan yg lebih berbahaya lagi adalah, mini market Alfamart dan Indomaret yg berjumlah diatas 75 ribu outlet, dan ada jutaan mini market, toko, dan warung di seluruh Indonesia.

Ada jutaan apotek, toko pakaian bayi, alat dapur, ATK, serta fasilitas umum, angkotan umum, dll.

Dimana ada ratusan juta orang keluar masuk pintu yang sama, memegang pintu yang sama, memegang-megang barang yg akan dibelinya, memegang-megang fasilitas umum dan angkotan umum, dan seterusnya. Yang pastinya, memiliki peluang sangat besar adanya penularan wabah covid-19.

Sedangkan masjid:

1. Tidak ada pintu atau barang2 yang dipegang oleh jama’ah.

2. Para ulama yg beda dengan himbauan/kebijakan pemerintah pusat/daerah masing2 tetap mewajibkan umatnya melaksanakan shalat Jum’at dan shalat fardhu berjama’ah lima waktu di masjid/musholla dengan syarat ketat:

A. Di kawasan/daerah penyebaran corona terkendali/zona hijau, dengan indikator di bawah 1% atau masih *enol koma enol sekian persen* dari jumlah penduduk di suatu kawasan/daerah. Dan di suatu kawasan penyebaran covid-19 terkendali ini, sesuai dengan Fatwa MUI No. 14 Tahun 2020 tentang ibadah di tengah wabah covid-19 pada poin 5.

B. Jamaah internal pesantren, lingkungan RT, RW dan desa, lingkungan perumahan, lingkungan kantor, dll.

C. Dengan persyaratan ketat dan sesuai protokol kesehatan WHO dan Menkes seperti telah disebutkan di atas.

Itu yg dipukul rata oleh pemerintah dan ulama pendukungnya. Tidak melihat konteks, tidak melihat kondisi obyektif yang ada, tidak memahami bahwa Fatwa MUI tersebut bersifat sangat kondisiinal. Dimana pemerintah seharusnya ke depan, apalagi saat memasuki bulan suci Romadhon, harus lebih bijak, ada komoromi-kompromi dengan para ulama dan DKM-DKM masjid di daerahnya masing2.

Sekali lagi, bahwa syarat2 ketat, dan apa yg diterapkan oleh sebagian ulama dan DKM yg tetap menyelenggarakan shalat Jum’at, shalat fardhu dan taroweh berjama’ah di masjid adalah *JUSTRU HAKIKATNYA SEDANG MEMATUHI FATWA MUI ITU SENDIRI* pada poin 5 dari Fatwa MUI tersebut.

Kita para ustadz, ulama, DKM dan umat Islam *harus kreatif.* Kita tetap kerahkan sekuat tenaga utk mencegah covid-19 di manapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun, tanpa harus meninggalkan shalat Jum’at dan shalat fardhu berjama’ah, dan shalat tarowIh di masjid *sebagai kewajiban kolektif umat Islam*.

Wassalaam

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *