oleh

SIAPAKAH FILANTROFIS SEJATI DISAAT KRISIS COVID 19

 

Secara Bahasa, Filantrofi, (bahasa Yunani : philein berarti cinta, dan anthropos berarti manusia). Perbuatan seseorang yang mencintai sesama manusia serta nilai kema usiaannya, sehingga menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain (Wikipedia).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Istilah Filantrofis relevan untuk diangkat ditengah pandemi musibah virus covid 19 yang kini melanda Indonesia. Isolasi, karantina, Pembatasan Sosial yang Berskala Besar (PSBB) semua mengandung problema, stagnasi, kesulitan, kesedihan, penderitaan lahir dan batin. Kemerosotan ekonomi, anjoknya pendapatan negara, hilangnya kinerja baik individu, korporasi maupun negara. Kehilangan pekerjaan, pengangguran dan ancaman kejahatan maupun penjarahan. Itulah problem besar yang dihadapi bangsa Indonesia kini. Memang keadaan ekonomi sudah memburuk, apa daya, lalu diterpa pula virus Corona (covid 19).

Tentu semua berharap pada negara, melalui Pemerintah. Mampu atau tidak mampu negara mesti bertindak mengatasi problem besar itu. Tetapi tentu akan sangat membantu apabila ada juga Filantrofis mau mengulurkan tangannya secara ihlas untuk berbuat baik demi kemanusiaan. Mengetuk hati mereka yang kaya raya mau mengulurkan tangan.Bukan menjadikan momentum untuk mencari pujian dan popularitas.

*Logika Armando*
Kita terkesima, ketika menyaksikan video Yutub Ade Armando yang beredar di medsos. Dalam Video itu dia menyampaikan logikanya. Dia sangat membanggakan para Konglomerates Indonesia, yang disebutnya kebanyakan orang-orang Tionghoa (China).Katanya mereka selama ini disebut bukan pribumi, penghianat NKRI dan hanya mengambil kekayaan Indonesia dibawa negeri leluhur.

Untuk membantah semua tuduhan itu, Armando memaparkan sumbangan para Konglomerates (China) itu. Lalu berkesimpulan menyatakan bahwa para Konglomerates bukan penghianat.
Buktinya Konglomerates bersama Yayasan Budha Tsu Chi menyumbang kepada Pemerintah Pusat sebesar Rp 500 Miliyar (setengah Triliun), katanya sungguh besar, untuk membantu penanganan Virus Corvid 19. Disebutnya group Konglomerate Adharo, Sinarmas, Djarum, Indofood, dsb.

Dia lalu membandingkannya dengan sumbangan Liga Muslim Dunia (LMD) yang cuma menyumbang kepada DKI Jakarta (Gubernur Anis Baswedan) sebesar Rp 4,3 M. Dari perbandingan itu, lalu dia berkesimpulan betapa besar sumbangan para Konglomerates Indonesia itu.

Juga Armando menyebutkan kebaikan kebaikan orang-orang Tionghoa yang bukan Konglomerates telah berbuat baik dalam membantu Penanganan covid 19.

*Ada apa, kenapa Istilah Pribumi kembali Menguat*
Tulisan ini bukan untuk berpolemik dan sesungguhnya semula tak ingin ikut ikutan masuk ke soal rasis menggunakan istilah pribumi dan Tionghoa (China).

Oleh Penjajah (Belanda) orang-orang lokal asli dipanggil “inlander” atau pribumi. Istilah pribumi diera penjajahan digunakan untuk membedakan antara yang yang lemah atau tertindas dan diekaploitasi (Pribumi) oleh Penjajah (Belanda).

Menguatnya kembali istilah pribumi kini di era Pemerintahan Jokowi yang menunjukkan era kebangkitan Tionghoa (China) di Indonesia. Kalau Presiden Jokowi berdarah Tionghoa, bukan masalah bagi bangsa Indonesia karena yang dinilai adalah pengabdiannyaApakah sungguh- sungguh untuk Indonesia? Para Konglomerates Tionghoa (China) duduk nenjadi Dewan Penasehat Presiden Jokowi dan Pemerintahannya. Seperti Datok Sri Taher, Jan Darmadi, Sofwan Wanandi, dll. Mereka mengarahkan arah dan kebijaksanaan ekonomi, investasi dan perdagangan Indonesia. Mereka menentukan materi pembuatan peraturan perundang undangan.

Menguatnya kembali sebutan pribumi membuat hati kita bertanya tanya, apakah kini ada penindasan, baik ekonomi maupun politik pada pribumi setelah lebih 70 tahun kemerdekaan Indonesia. Inikah kemajuan atau kemunduran yang dicapai dan kegagalan integrasi nasional setelah sekalian lama merdeka. Jangan menghadap hadapkan orang-orang Tionhoa (China) dengan pribumi karena bisa memicu gerakan rasialis yang membahayakan persatuan bangsa. Pengaruh kekuatan global sedang menanti Indonesia hancur.

Mari menggunakan akal sehat dan nurani. Kalau pun merasa tangan diatas, tidak perlu sombong dan tetaplah rendah hati. Jangan sampai memicu perpecahan bangsa. Jangan sampai muncul revolusi kemerdekaan yang kedua oleh kaum pribumi. Tentu mengerikan kalau itu terjadi. Tinggal hanya penyesalan.

*Budaya Beda*
Sedikit juga kecewa karena dalam soal kepedulian pada sesama, Armando juga membandingkan orang-orang Tionghoa (China) dengan etnis Jawa, Sunda, Padang, Ambon dsb. Katanya kalau ada orang-orang Tionghoa (China) yang kurang peduli, wajar karena orang-orang Jawa, Sunda, Padang, Ambon dsb juga ada yang kurang peduli. Itu bukan eksklusiveme.

Hal itu menunjukkan bahwa pembelaan Armando itu karena kurang faham budaya asli Indonesia (pribumi) yaitu adanya kebersamaan (budaya kolektivitas) yang kuat dan hidup yang disebut gotong royong. Dulu pada awal kemerdekaan mereka bersatu membangun jembatan, irigasi dan rumah2 ibadah. Bahkan ketika membangun rumah tinggal didesa dengan cara gotong royong. Dan sikap hidup gotong royong itu hingga kini diera serba uang, masih nampak, baik didesa maupun dikota kota. Hal itu nampak disetiap perumahan mereka sering bergotong royong memperbaiki kebersihan lingkungan, mendirikan rumah ibadah ( mesjid-mesjid atau mushollah) baik yang sederhana maupun yang mewah.

Sedangkan umumnya orang-orang Tionghoa (China) hidup dikota dengan budaya individuslistis atau kurang sosial. Enggan membaur terlibat dalam kegiatan sosial seperti gotong royong memperbaiki lingkungan dan membangun rumah ibadah. Mereka lebih fokus pada mencari uang untuk menumpuk kekayaan. Dan dengan semangat individualisme yang dimiliki umumnya memang berhasil (sukses) dalam busnis dan mayoritas menikmati pendidikan yang bagus dan jadi orang kaya.

Mengapa pribumi kurang berhasil dalam bisnis, kalau ada yang berhasil sedikit sekali. Karena kaum pribumi punya semangat kolektivitas (kebersamaan-gotong royong). Semangat itu juga dibawa dalam bisnis. Tidak tega untung sendiri tapi orang lain rugi. Tidak tega kaya-raya diatas penderitaan orang lain. Itulah kesejatian budaya pribumi. Selalu menengok kekiri dan kanan, atas bawah kalau melangkah.

Faktor lain yang membuat pribumi kurang berhasil dalam bisnis karena takut berhutang. Karena hutang itu menjadi beban keluarga dan mesti dipertanggung jawabkan diakhirat. Coba lihat kalau ada Bank yang bangkrut atau bermasalah, yang punya credit macet tidak sampai 5 persen orang-orang pribumi.

Juga kaum pribumi terlalu berharap jadi pegawai negeri yang aman sehingga kurang berminat pada wira usaha yang penuh tantangan.

Biarlah perbedaan budaya itu ada dan tidak perlu mesti dikatakan sama. Yang perlu dibangun adalah budaya saling tenggang rasa dan solidaritas sosial dalam lingkungan masing-masing dan dalam negara. Mari saling mengharga kehadiran masing-masing

Semua ciptaan Tuhan ada hikmahnya.Tuhan menjadikan bakat yang berbeda yang membuat tingkatan hidup yang berbeda beda, agar bisa saling bantu dan tolong menolong serta bekerja sama.Tidak mungkin pengusaha punya pabrik bisa jalan kalau tidak ada buruh. Tidak mungkin distribusi barang (pabrik, makanan-minuman) bisa jalan kalau tidak ada yang mau jadi sopir truck. Para penjual roti mengantarkan roti dihadapan rumah-rumah orang kaya. Kota-kota menjadi bersih karena ada yang mau memungut sampah dan jadi tukang sapu.

*Perbandingan yang keliru*
Kembali ke soal sumbangan. Sungguh suatu kekeliruan kalau membandingkan sumbangan Konglomerates Indonesia dengan sumbangan Liga Muslim Dunia (LMD) kepada rakyat DKI Jakarta. LMD sebagai Lembaga non Government dengan 60 anggota dari 22 negara. Dia peduli bukan hanya Indonesia (DKI Jakarta) tetapi juga semua negara Muslim. Buktinya LMD juga telah memberikan sumbangan obat2 an kepada Pakistan untuk membantu masalah covid 19. Negara lain akan menyusul. Uang LMD itu bukan hasil bisnis dari bumi Indonesia, tetapi dana dari iuran anggotanya dan sumbangan lainnya. Jadi kalau Konglomerates Indonesia menyumbang jauh lebih besar dari LMD adalah wajar bahkan sumbangan nya itu tidak ada apa apanya jika dibandingkan dari keuntungan yang sudah didapat dari hasil mengekploitasi kekayaan Indonesia selama ini.

*Siapakah Filantrofis yang Sejati*
Dari Kabar Baik Medsos beredar sumbangan para Konglomerates tersebut, dicatat sbb :
– Datok Sri Taher menyumbang Rp 52
M.
– Bakri Group = 25 M
– Adharo Group menyumbang Rp 20 M.
-Prayogo Pangestu menyumbang Rp 2 M.
– Astra Group = 63 M

Armando menyebutkan total sumbangan Konglomerates China sebesar Rp 500 miliar. Jumlah itulah mungkin yang disebut sumbangan Erick Thohir dkk sebesar Rp 500 M atau setengah triliun.

Nama nama yang disebutkan itu adalah berada dalam Daftar Forbes 50 orang terkaya (Konglomerates) di Indonesia. Jumlah kekayaan 50 orang terkaya itu bila digabung sebesar Rp 1,898 trillion (2019)

– Nurhayati Subakat bos Cosmetic Wardah jugà menyumbang Rp 40 Miliar. Kalau kita cari dalam Daftar Konglomerates dari 50 terkaya sampai 150 Konglomerates terkaya (baik menurut Forbes maupun Asia Globe), nama Nurhayati Subarkat tidak masuk. Tetapi kok bisa nyumbang lebih besar dari orang-orang Konglomerates terkaya itu. Ini tak ada maksud tendensius untuk memuji Nurhayati Subarkat, karena diyakini beliau tentu ihlas dan tidak mengharapkan pujian sesuai ajaran Islam. Tetapi kita bisa menilai siapa sih sesungguhnya Filantropis yang sejati ketika bangsa ini menghadapi krisis musibah besar virus covid 19.
Ada Salahuddin Uno (Mantan Cawapres) menyiapkan bantuan apa bila ada yang kehilangan Kepala Keluarga karena covid 19.

Ada artis Ashanti donasikan Rp 1,5 Miliar untuk APD 300 RS di Indonesia. Ashanti cuma artis biasa, tidak masuk daftar 150 Kinglomerates terkaya. Tapi besarnya sumbangan dia hampir menyamai sumbangan Konglomerates papan atas yang punya kekayaan ratusan triliun.
Ada kelompok yang mengatakan kalau warga Jakarta tak ada uang untuk beli beras silahkan hubungi Humanity Careline.
Jaka ada yang tidak punya uang untuk beli sembako silahkan hubungi ACT. Kelompok kelompok itu bukan dari Konglomerates (orang-orang terkaya) tapi mereka mau membantu secara ihlas tanpa menentukan batas bantuan. Sungguh ajaib.

Belum lagi ribuan kelompok masyarakat mengumpulkan dana untuk membantu mereka yang kesusahan.

Kalau Armando bisa membandingkan sumbangan Konglomerats Orang-orang Tionghoa dengan LMD. Maka izinkanlah disini mencari nama yang bisa di setarakan dengan 50 Konglomerates Indonesia. Nama itu adalah Bill Gates. Kekayaan 50 Konglomerates Indonesia seperti disebut diatas adalah Rp 1,898 trilliun (2019). Sedangkan Bill Gates punya kekayaan USD 110 M atau Rp 1.540 trilliun. Artinya kekayaan 50 Konglomerates itu lebih besar, ya kan dari pada kekayaan Bill Gates. Apalagi kalau kekayaan 150 Konglomerates digabung bisa lebih dua kali lipat dari kekayaan Bill Gates.
Tetapi Konglomerates Indonesia menyumbang hanya Rp 500 miliar (setengah triliun) untuk membantu penanganan virus covid 19. sedangkan Bill Gates menyumbang Rp 3, 9 trilliun untuk penanganan virus covid 19 sesudah Trump bekukan dana WHO.

Memang sumbangan Konglomerates Indonesia dianggap sangat besar bila dibandingkan dgn sumbangan LMD. Tapi kalau dibandingkan dengan sumbangan Bill Gates yang kekayaannya lebih kecil dari 50 KonglomerateMungkin saja bisa berkata, itu kan Bill Gates tidak layak jadi perbandingan. Memang Bill Gates adalah filantrofis hebat. Diberitakan bahwa dia rela mendonasikan2/3 kakayaanya untuk amal. Kekayaan Bill Gàte bukan diperoleh dari eksploitasi kekayaan bumi. Tetapi dari hasil memeras otaknya. Sedangkan sebagian besar Konglomerates Indonesia menjadi kaya karena mengekploitasikekayaan Indonesia. Karena itu sumbangan Konglomerates Indonesia agaknya memalukan. Boleh dibilang Konglomerates Indonesia belum bisa disebut Filantropis yang sejati. Tapi bukan kita nengingkari Datuk Sri Taher yang selama ini dikenal sebagai Filantrofis.

Kita mengetuk pintu hati semua Konglomerates Indonesia, karena masih ada kesempatan, untuk membantu dana mengatasi krisis covid 19.

Jangan menahan kekayaan karena takut jatuh miskin. Tuhan telah menjanjikan balasannya yang berlipat ganda.

“Perumpaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh sebutir, pada tiap-tiap butir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunianya) lagi Maha Mengetahui.”( Qs. 2 : 261).

Allah menanti uluran tangan untuk membantu jutaan orang-orang susah dan jatuh miskin karena krisis ekonomi dan dampak covid 19. Membantu mereka sama dengan mengabdi kepada Allah.

Kelaparan mulai melanda takyat Indonesia. Yulia di Serang akhirnya meninggal karena terlambat bantuan diberikan. Pemerintah Banten dan Jawa Barat telah nekat menjamin bahwa rakyatnya tidak akan ada yang kelaparan. Tentu Pemerintah itu butuh uluran tangan dari para Filantrofis.

*Membangun Kesetiaan pada NKRI*
Ukuran kesetiaan pada NKRI bukan materi saja yang disumbangkan. Sungguh murah kesetiaan itu kalau hanya diukur dari nilai sumbangan Rp 500 milyar (setengah triliun).

Ukuran kesetiaan pada NKRI adalah memelihara nilai-nilai ke-Indonesiaan yang menunjukkan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Sumber nilai-nilai ke Indonesiaan adalah Pancasila dan UUD 1945. Merupakan kesepakatan para pendiri bangsa (founding fathers) yang menjadi warisan kepada generasi kemudian. Soekarno menyebut Pancasila digali dari bumi Indonesia. Masyarakat Indonesia yang agamis dan berahlak mulia adalah sesuai sila ke-1 Ketuhanan Yang Maha Esa. Masyakat Indonesia peduli dan mau berkorban untuk kemanusiaan sesuai dengan sila ke -2 Pancasila. Memelihara persatuan, keutuhan NKRI dari Sabang sampai Marauke sesuai dengan sila ke-tiga Pancasila. Memelihara prinsip kerakyatan dan permusyawaratan sesuai sila ke-4 Pancasila. Mewujudkan keadilan sosial sesuai dengan sila kelima Pancasila.

Khususnya Keadilan sosial tidak mungkin terwujud kalau Anda membuat Undang-undang yang hanya menguntungkan para investor tetapi merugikan para buruh (lihat UU Òmnibus law). Indonesia tidak butuh investor asing kalau hanya ingin mengeksploitasi buruh Indonesia.

Tidak mungkin mewujudkan keadilan sosial kalau investor asing masuk hanya untuk membuka mayoritas lapangan kerja bagi TKA asal China dan membiarkan pengangguran buruh Indonesia.

Selanjutnya, Indonesia jadi negara demokratis merupakan kesepakatan bersama. Tugas bersama Pemilihara demokrasi Indonesia, jangan dirusak dengan oligarchi kapital. Jangan merampas kedaulatan rakyat untuk kepentingan kelompok yang didukung Pemodal. Hal itu bisa membuat NKRI hancur. Memelihara demokrasi Indonesia menunjukkan kesetiaan pada NKRI

Mari bersama membangun ekonomi Indonesia dengan mengindahkan pasal 33 UUD 1945 untuk mewujudkan tujuan nasional yaitu keadilan sosial bagi seluruh takyat Indonesia.

Pasal 33 UUD 1945 menyebutkan kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar -besarnya kemakmuran rakyat.

Apakah eksploitasi kekayaan alam Indonesia di Morowali (Sulteng) dan Ketapang ( Kalbar) yang dilakukan oleh investor China sudah sesuai dengan pasal 33 UUD 1945..?. Apakah itu bisa disebut memakmurkan rakyat Indonesia kalau TKA China jauh lebih banyak, sedangkan buruh lokal (pribumi) hanya sedikit.
Berapa kekayaan alam Indonesia yang sudah digali dari Morowali dan Katapang yang sudah dibawa ke China. Berapa bagian yang diterima Pemerintah Indonesia..?. Sistemnya bagi hasil atau bagaimana..?
Kalau cinta pada NKRI nggak boleh membiarkan pengambilan kekayaan Indonesia, tapi bukan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

Mari koreksi diri. Apakah kita sudah melaksanakan Pancasila Dan UUD 1945 secara konsekwen. Jangan ada keinginan mengganti Pancasila dan UUD 1945 dengan menyuburkan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila Tunjukan kesetiaan pada NKRI dengan mempertahankan dan mengamalkan Pancasila Dan UUD 1945.

Kalau betul-betul cinta Indonesia, mari jaga Indonesia. Tanamkan rasa memiliki. Kalau merasa memiliki tentu akan menjaga dan memeliharanyaJaga persatuan dan persaudaraan sebangsa dan setengah air. Jaga kekayaan Indonesia, untuk dipergunakan bagi sebesar besarnya kemakmuran rakyat.

*Hikmahjalan
Asp Andy Syam
Peduli Kepemimpinan Bangsa. 22/04/20

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *