oleh

Apindo : Daya Beli Menurun, APBN Fokus Tanggulangi Covid19

Selamat Idul Fitri 1441 H

Jakarta, Tribunasia.com,- Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan, daya beli masyarakat cenderung terus melemah. Kondisi itu terjadi dalam dua tahun terakhir ini.

Kecenderungan melemah itu terlihat dari pola konsumsi masyarakat. Misal pola konsumsi makanan, minuman, serta kendaraan bermotor yang menunjukkan pertumbuhan tapi tidak banyak, jelas Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani, pada Kamis (22/4).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Adapun penurunan inflasi inti Desember 2019, dari 3,07 persen year on year (yoy) pada tahun lalu menjadi 3,02 persen yoy, memang dipengaruhi rendahnya daya beli konsumen. Penurunan inflasi seiring dengan penurunan daya beli, kata Hariyadi.

Sementara Disejumlah daerah terjadi gagal panen yang dialami pada awal bulan ini. Lihat saja di enam kelompok tani (poktan) di Desa Bontojai, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Sawah seluas 33,75 hektare yang mengalami gagal panen.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, usaha tani merupakan kegiatan yang tergantung fenomena alam, sehingga diperlukan tindakan yang cermat dalam menghadapinya.

Saat musim kemarau, petani harus dapat mengantisipasi agar tidak terjadi kekeringan. Begitu juga saat musim penghujan, banjir bisa mengancam. Fenomena alam ini dapat dihadapi jika prasarana dan sarana siap serta sesuai, katanya, Jakarta, Sabtu (4/4/2020).

Selain itu, Puluhan hektar sawah di Jorong Lubuk Hijau, Nagari Langung, Kecamatan Rao Utara, Kabupaten Pasaman, terancam gagal panen usai dihantam banjir luapan sungai Batang Asik, Minggu (5/4/2020) dini hari.

Petani setempat harus menelan kerugian hingga ratusan juta akibat tanaman padi berusia tua itu hanyut terbawa derasnya arus air. Ketinggian air rata-rata mencapai satu meter, bahkan lebih.

Ditambah penyebaran corona berdampak pada banyak sektor, diantaranya adalah kurangnya produsi yang berdampak pada pekerja. Selain itu daya beli masyarakat menurun dikarenakan masyarakat terpaksa berada di dalam rumah sebagai cara memutus mara rantai penyebaran Covid-19.

Dengan Alasan Korona Perusahaan Seenaknya Potong Gaji 50 Persen, Semakin memperparah daya beli yang makin anjlok. Padahal kalau kita menggunakan pendekatan keynesian, seharusnya belanja diperbesar saat krisis, sehingga daya beli tetap kuat. Apakah Pengusaha tidak sadar, dengan memotong gaji karyawan berarti masuk dalam “lingkaran Setan” atau Vicious Circle Krisis Ekonomi ?

Seharusnya perintah fokus kepada kasus corona daripada sibuk soal pemindahan ibu kota dan infrastruktur. Ia dengan tegas meminta agar dana yang akan digunakan untuk dua proyek itu dialokasikan untuk masyarakat Indonesia yang saat ini dalam kondisi kesusahan. Dengan melakukan Bantuan Langsung untuk meningkatkan daya beli.

Oleh karena itu pemerintah harus menggunakan Sisa Anggaran Lebih (SAL). dengan merealokasi anggaran sebesar Rp 430 triliun dari pos infrastruktur dan pembangunan ibukota baru. Selain itu juga ada dana SAL dan SILPA senilai Rp 270 triliun untuk membantu pekerja harian dan rakyat miskin. Hentikan dulu semua proyek infrastrukur termasuk proyek mercusuar ibukota baru. (GN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *