oleh

5 Alasan Rizal Ramli Minta RI Tolak IMF

Jakarta, TribunAsia.com,- Ekonom senior Rizal Ramli menyesali sikap tim ekonomi pemerintah yang kerap mengandalkan utang dari IMF. Padahal menurutnya, Indonesia tidak perlu bergantung kepada Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF), supaya pertumbuhan ekonomi bisa bangkit.

Adapun saat ini menurutnya, Indonesia masuk dalam kategori negara miskin. Salah penyebabnya karena pemerintah terlalu bergantung pada saran dari Bank Dunia maupun IMF.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Salah satu kita miskin karena korupsi. Kedua karena garis ekonominya, kebijakan ekonominya manut sama Bank Dunia dan IMF. Tidak ada negara hebat ikut saran dari IMF bank dunia. Harus ada perubahan, ujarnya,

Mantan angota tim panel penasihat ekonomi PBB ini menjelaskan, bahwa negara-negara maju di dunia tidak pernah mengikuti saran kebijakan ekonomi dari Bank Dunia maupun IMF. Contohnya seperti Jepang dan Cina. Jepang setelah perang dunia tumbuh 12% selama 20 tahun. Cina tumbuh 12% dalam 25 tahun, karena tidak pakai memakai cara-cara Bank Dunia, IMF, tidak mengandalkan utang. Cina utangnya tidak ada, kecuali domestik,  tuturnya

Sebetulnya sudah 2 tahun lalu  Rizal Ramli sudah Prediksi terkait adanya kejutan terhadap kondisi perekonomian RI sebelum lebaran tampaknya bukan isapan jempol belaka. Hal ini ditandai dengan adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), karyawan yang dirumahkan serta perekonomian yang semakin tidak stabil.

Apa yang  ia ungkapkan tentunya bukan tanpa sebab, karena setidaknya menurut Rizal, ada lima hal penting di sektor ekonomi yang saat ini tengah memiliki masalah besar. Lima hal tersebut yakni, pertama indikator makro ekonomi yang merosot. Kedua, daya beli yang menurun. Lalu ketiga, pemerintah gagal membayar Jiwasraya. Keempat, ekonomi digital mengalami koreksi valuasi dan yang terakhir gagal panen para petani.

Nah kelima gelembung ini akan terjadi bersama. Kalau masih satu-satu terjadi bisa diatasi. Kalau semua terjadi bersamaan, bisa terjadi sesuatu besar di Indonesia sebelum Lebaran. Bisa terjadi perubahan politik di Indonesia, bukan karena ada oposisi yang hebat, tapi karena krisis itu sendiri menciptakan suatu perubahan.

Ini kan sudah terjadi pelan-pelan, the beginning. Sebetulnya sudah 2 tahun lalu kami ingatin, bahwa Rizal Ramli ngomong begini, solusinya begini. Tapi pemerintah terlalu jumawa, padahal nggak ngerti-ngerti amat. Akhirnya masalah itu semakin besar, gelembungnya semakin besar, ungkap Rizal, beberapa waktu lalu di Surabaya Town Square, Minggu (8/3/2020).

Mantan Menko Ekuin era Presiden Gusdur ini mencontohkan pada era kepemimpinan Soeharto. Dimana menurutnya, setiap kritikan dan analisa yang ia sampaikan tanpa sadar telah dikumpulkan oleh intel pemerintah untuk disampaikan kepada sekretaris negara, dan akhirnya dijadikan secon opinion, sebagai solusi dalam memecahkan masalah, baik ekonomi, politik dan sejumlah masalah lainnya.

Meski memang, paling banyak menurutnya adalah prediksi mengenai kondisi perkonomian RI. Bukan karena Rizal Ramli punya indra ke-6. Karena kita sudah terbiasa memonitor semua masalah dengan angka. Kita bikin prediksi, simulasi, sehingga ramalan itu kebanyakan terjadi semua. seperti contoh Soeharto dulu, tambah Rizal.

Adapun menurutnya, kelima hal penting di sektor ekonomi yang menyebabkan krisis, pada indikator makro ekonomi, menurutnya angka saat ini turun dan merosot bahkan lebih buruk keadaannya ketimbang di era 10-15 tahun yang lalu.

Dari defisit perdagangan, transaksi berjalan, balance anggaran, tax ratio dan lainnya. Kalau semua indikator makro merosot, harusnya rupiah melemah. Tapi tidak terjadi karena doping. Doping ini pemerintah pinjam uang besar dari luar negeri dengan bunga lebih mahal, agar rupiah menguat sedikit, tegas mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB itu.

Terkait doping, Rizal juga mengaku bahwa sejak awal memang berjalan baik. Tapi ketika suatu ekonomi terus didoping dengan pinjaman, maka yang terjadi ekonomi akan kacau dan kelagapan. Selain itu, faktor yang mempengaruhi krisis ekonomi yakni turunnya daya beli masyarakat. Rizal sering mendapat keluhan dari pedagang di Jakarta bahwa penjualan merosot pada tahun 2019.

Banyak tanya, apakah turun karena online? Saya katakan tidak. Karena ekonomi perdagangan online volume bisnisnya hanya 8 persen dari total perdagangan. Sisanya 92 persen perdagangan biasa, jadi tidak benar, lanjutnya.

Ia pun mengatakan, penjualan merosot karena pertumbuhan kredit di Indonesia hanya menyentuh angka 6,02%. Padahal, bila pertumbuham ekonomi mencapai angka normal di 6,5%, kredit akan tumbuh sekitar 15-18%.

Tidak salah, daya beli turun, penjualan merosot. Pertumbuhan kredit hanya 1/3 dari angka normal, makanya penjualan susah banget, peredaran uang juga terbatas, karena tersedot untuk membayar hutang.

Mengapa setiap Menkeu menerbitkan surat utang negara (SUN), 1/3 dana di bank itu tersedot dipakai untuk beli SUN karena dijamin 100 persen. Kemudian bunganya lebih mahal 2% dari deposito. Itulah mengapa di bawah uang seret sekali. Tahun ini prediksi saya pertumbuhan kredit 4 persen, akan lebih merosot lagi, lanjutnya.

Sementara itu, indikator ketiga krisis ekonomi di Indonesia, menurut Rizal yakni kasus gagal bayar Jiwasraya oleh pemerintah. Ini hanya sebagian total Rp 33 triliun, tapi perkiraan saya ada reksadana yang nggak mampu bayar, dana pensiun dan lainnya, total Rp 150 triliun. Jadi ekonomi kita ibarat petinju itu udah goyang kebanyakan utang, dengan gagal bayar ini ya jadinya krisis, sambung Rizal.

Sementara yang ke-4, Rizal melihat ekonomi digital akan mengalami koreksi valuasi. Dan yang terakhir, banyak petani di Indonesia gagal panen yang akan memperparah kondisi ekonomi. Karena harusnya mereka menanam padi pada September tahun lalu, tapi kekeringan luar biasa, akhirnya baru bisa tanam bulan Januari ini. Akhirnya panennya molor Mei-Juni, tandasnya.

Kemudian yang kelima adalah masalah pertanian. Di gudang, Bulog punya cadangan beras impor 1,7 juta ton. Jadi kasihan petani kita pas panen, yang beli nggak ada. Di desa itu sederhana, ada panen, ada uang, nah kalau nggak ada panen ya nggak ada uang, susah benar, pungkasnya. (berbagai sumber/GN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *