oleh

Hidup Setelah PSBB

 

oleh : Haryoko R Wiryosutomo

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akhirnya dilaksanakan di Jabodetabek, berpayung kepada status Darurat Nasional yang telah dideklarasikan oleh Presiden. Beberapa daerah menyusul mengajukan proposal yang sama. Ada yang sudah disetujui, ada pula yang masih dikaji. Yang jelas, masa implementasinya terbatas. Hanya dua kali masa inkubasi Covid 19, artinya dua minggu.

Sasaran strategisnya? Menghambat laju penularan agar tidak melebihi kapasitas sistem kesehatan nasional kita. Sasaran taktis? Ada tiga. Pertama, merumahkan sebanyak mungkin orang yang bisa dirumahkan dengan berbagai metode kerja pengganti untuk menjaga produktivitas – semisal sekolah online, work from home dan sejenisnya – sehingga menurunkan tingkat probabilitas penularan. Kedua, memberi ruang kepada pekerja informal dan pencari nafkah harian untuk tetap bekerja dengan sejumlah peraturan keselamatan. Ketiga, memberi ruang kepada pemerintah untuk membuat kebijakan pertolongan instan kepada kelompok masyarakat terlemah yang paling berat menerima dampak pandemi.

Berhasilkah? Sejauh ini saya lihat cukup berhasil. Indikatornya? Tak ada ledakan jumlah pasien di rumah sakit-rumah sakit rujukan di Jabodetabek. Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet sejauh ini hanya terpakai seperempat dari kapasitasnya dan semoga terus begitu. Begitu pula di daerah-daerah, sejauh ini situasi masih terkendali.

Pertanyaannya pasca PSBB ini, what next?

Apakah akan dilanjutkan dua kali masa inkubasi lagi? Sampai berapa lama? Bagaimana dengan kekuatan keuangan negara untuk menyangganya? Bagaimana dengan perputaran roda perekonomian dan denyut bisnis di Indonesia? Tak mungkin kita terus-terusan begini. PSBB tidak bisa dilaksanakan sampai akhir tahun ini, bisa ambruk perekonomian kita.

Saya melihat, akan ada masanya PSBB ini dihentikan. Kapan? Akhir Mei, sesuai dengan jadwal masa tanggap darurat BNPB. Itu langkah yang paling realistis. Vietnam sudah menyiapkan exit management dari situasi emergency dan akan mengimplementasikannya minggu depan. Philipina dua minggu lagi, Yordania sudah menyerah dengan lockdown nasionalnya dan Amerika Serikat tengah bersiap-siap untuk memutar kembali mesin perekonomiannya.

Apa artinya? Kita harus realistis. Hingga vaksin Covid 19 ditemukan, kita harus hidup berdampingan dengan virus tersebut. Herd Immunity akan menjadi keniscayaan dan kita tetap akan berurusan dengan orang2 kepala batu yang menghubungkan isu Herd Immunity dengan kemungkinan kematian jutaan orang akibat Covid 19 ini. Faktanya sejak Covid 19 meledak di Wuhan hingga sekarang – empat bulan – tingkat kematian akibat virus ini masih sangat rendah dibandingkan dengan populasi dunia. Artinya kita bisa menyingkirkan hipotesis kematian jutaan orang tersebut tanpa meninggalkan kewaspadaan mengenainya.

Lalu apa yang harus kita lakukan agar bisa hidup berdampingan dengan Covid 19 secara damai? Akan cukup banyak perubahan perilaku yang harus dilakukan bersama, di antaranya :

1. Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara konsisten dan konsekuen. Air, sabun, hand sanitizer dan cuci tangan menjadi sebuat syarat kuat agar terhindar dari penularan.

2. Mengenakan masker di tempat publik dan baju lengan panjang untuk meminimalisir kontaminasi.

3. Melaksanakan dekontaminasi secara teratur pada tempat2 kerja, peralatan kerja, rumah, peralatan rumah tangga dan kendaraan roda empat yang dipakai keluarga.

4. Social distancing tetap ditegakkan dengan meminimalisir kontak fisik (bersalaman, pelukan, cipika-cipiki).

5. Menjaga kesehatan dan daya imun keluarga melalui asupan dengan nilai vitamin dan gizi mencukup.

6. Membangun resiliensi keluarga terhadap bencana, dengan membangun stockpile logistik untuk setidaknya dua minggu hingga satu bulan.

Itulah langkah-langkah yang bisa kita lakukan sebagai warganegara. Selebihnya mari kita percayakan kepada Pemerintah. Tugas kita adalah mematuhi dan melaksanakan arahan yang diberikan; siapapun Presidennya, siapapun Gubernurnya, siapapun Walikota atau Bupatinya.

Cinere, 18 April 2020

Haryoko R. Wirjosoetomo

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *