oleh

Jika Salah Seorang Narapidana Terkena Covid-19 Akan Berdampak Kuburan Massal

Selamat Idul Fitri 1441 H

Jakarta, TribunAsia.cimWartawan diminta jangan asal buat berita pungli terkait asimilasi di Lembaga Pemasyarakatan Klas I, Cipinang, Jakarta Timur. Menurut Hendra Eka Putra, jika hendak mengangkat berita program asimilasi baiknya berdasarkan data.

Dia melanjutkan, berita diharapkan dapat berimbang sesuai dengan keakuratan informasi. Bahkan, dia juga siap untuk dikonfirmasi perihal program asimilasi.

Iklan RB

” Sebelumnya ditanya dulu jangan asal bikin-bikin, jangan asal katanya-katanya. Ini pencemaran nama baik, harus konfirmasi dulu ke saya,” jelas Kalapas Cipinang, Kamis (16/4/2020).

Buntut dari berita pungli, pihaknya telah memintai keterangan bawahannya tentang proses asimilasi di Lapas Cipinang. Diketahui, asimilasi dilaksanakan ditengah Covid-19 dan bertujuan mencegah penyebaran virus didalam Lapas.

” Itu pencemaran nama baik harusnya konfirmasi dulu ke saya. Harus dibuktikan siapa itu orangnya, bagaimana, jam berapa jangan katanya. Itu tidak ada (pungli) tadi saya cek semua anggota saya,” ungkap Hendra kepada tribunasia.com.

” Makanya kamu harus datang ke kantor ini datanya lihatin data-datanya lihatin cctv-nya siapa-siapa orangnya. Itu-kan sudah diumumkan itu dari Menteri. Kan sudah bilang tidak boleh, gratis semua,” sambung dia lagi.

Ia menambahkan, surat peryataan diisi serta dilengkapi oleh peserta asimilasi sebelum dibebaskan dan disaksikan langsung oleh pihak keluarga.

Lanjut dia, surat pernyataan dibubuhkan dengan materai 6000 dan tidak dipungut biaya seperti yang diutarakan sebelumnya oleh Kemenkumham, Yassona Hamonangan Laoly.

Selain itu, di Lapas Cipinang saat ini dihuni sebanyak 3500 orang warga binaan/napi dan dijaga oleh 32 personil setiap harinya.

Namun untuk data-data narapidana yang tercatat dalam program asimilasi itu, dia menuturkan data tersebut bersumber dari Ditjen PAS Kemenkumham.

” Ada surat pernyataan mereka itu mangkanya mereka itu tidak bayar ada suratnya dikantor. Keluarganya dipanggil biasanya dipanggil orang tuanya dikasih tahu, bagaimana bisa bayar,” tutur Hendra. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *