oleh

Virus baru selain Covid 19

 

Oleh :
Dimas Harun
Mahasiswa Universitas Negeri Makassar

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah pernyataan yaitu ada virus baru yang muncul selain dari Covid-19 dan lebih berbahaya. Saat ini, kita sudah disibukkan dan membuatnya masyarakat meningkatkan kewaspadaannya dengan hadirnya Covid-19 ini yang mengancam keselamatan banyak orang. Entah masyarakat disibukkan dengan virus ini ternyata kita tidak tahu ada virus baru yang hadir ditengah-tengah masyarakat. Ini semakin membuat masyarakat menjadi tidak karuan dalam menjalani kehidupan karena hadirnya virus baru ini. Virus apa itu?

Virus yang dimaksud penulis saat ini yaitu “STIGMA YANG HADIR DITENGAH MASYARAKAT TERHADAP COVID-19”. Kenapa penulis menganggap virus stigma lebih berbahaya dari Covid-19?

Perlu kita ketahui bersama bahwa stigma adalah pandangan buruk masyarakat terhadap seorang yang terkena penyakit tertentu. Saat ini, Sulawesi Selatan memiliki 222 orang yang positif Covid-19, ada penambahan 44 kasus dari yang sebelumnya 178 kasus. Ini membuat masyarakat semakin was-was terhadap Covid-19 ini. Masyarakat saat ini sudah melakukan berbagai cara untuk meningkatkan kewaspadaan mereka dan untuk memutus penyebaran Covid-19. Mulai melakukan penyemprotan disenfektan, memakai masker, mengurangi aktivitas diluar rumah dan melakukan penutupan akses jalan di setiap kampung mereka.

Jadi setiap orang yang merantau di Kota Makassar dan balik ke kampung mereka, pasti sebelum pulang mereka berpikir bagaiamana situasi disana jika saya pulang di saat seperti ini. Ini membuktikan kekhawatiran orang yang ingin pulang. Itu dari pradigma dirinya belum lagi paradigma masyarakat kepadanya jika sampai di kampung. Suatu bukti nyata terjadi di kampung saya, ada salah seorang perantau yang balik ke kampung. Sesampai di kampung orang tersebut langsung di vonis sebagai positif Covid-19. Dengan cepat cerita itu merembet ke tetangga-tetangganya.
Ini sudah sangat jelas membuktikan virus stigma yangtertanam di kepala masyarakat sudah terlalu berlebihan. Mungkin karena mereka melihat beberapa media yang melangsir berita yang hoax atau tidak pasti kebenarannya.

Dengan adanya stigma tersebut itu menurunkan semangat kita untuk hidup dan menjalani kehidupannya. Seakan-akan masyarakat mengasingkan orang lain dan menganggap Covid-19 ini sebagai Aib. Dan bahkan tidak sedikit perantau tidak diterima di kampung mereka disebabkan ketakutan masyarakat. Hal ini hampir sama dengan kasus HIV/AIDS, stigma yang tumbuh ditengah-tengah masyarakat terkait ini sangat luar biasa yang memberikan dampak kepada orang yang mengidapnya kehilangan semangat untuk hidup dan menjalani hari-harinya.

Sebenarnya yang terjadi di masyarakat saat ini adalah kurangnya sosialisasi yang bersifat mengedukasi mereka terkait Covid-19. Sehingga mereka dengan mudah mencerna setiap informasi yang mereka dengar. Sebaiknya masyarakat perlu dipahamkan bahwa tidak semudah itu kita vonis seseorang positif Covid. Ada beberapa tahapan yang perlu dilewati untuk sampai ke tahap positif Covid-19. Jadi, terakhir ”Jauhi penyakitnya, Bukan orangnya”.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *