oleh

SURVIVOR COVID19: SEBUAH TESTIMONIAL

Oleh : Ade Hashman

Izinkanlah saya membagi kisah dari seorang penyintas covid-19, kepada teman-teman FB.
Sumber cerita survivor ini adalah sahabat saya sendiri, (sebut saja namanya Rid).
Ia seorang dokter spesialis yang juga seorang tentara. Dengan posisinya sebagai dokter, saya berharap artikulasi dalam penjelasannya tentang seluk beluk covid, akan lebih mudah dipahami dan dieksplorasi lebih dalam. Saya meminta izin padanya untuk memposting dialog kami ini, karena menurut saya banyak sekali nilai-nilai yang bisa dipetik dari pengalaman luar biasa yang dilalui sahabat saya ini.
Saya menata sedikit kalimat2nya tanpa merubah esensi perbincangan kami, dan juga berusaha menyederhanakan istilah-istilah medis agar dapat dipahami oleh pembaca secara umum.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Rid menjalani perawatan di ruang isolasi RS selama 25 hari. Pengalaman selama di RS, banyak mengandung pembelajaran penting;
Ini kisah tentang survivor yang penuh perjuangan. Kisah tentang harapan yang positif, dukungan pasangan hidup sekaligus beratnya menanggung kerinduan pada keluarga, serta rasa kepasrahan seorang hamba pada kehendak Khaliqnya.
Ini juga ilustrasi tentang dedikasi para petugas medis pahlawan-pahlawan kemanusiaan yang gigih merawat dan menolong para penderita covid-19.

Saya yakin, kita semua sudah sangat faham tentang dunia covid-19 ini, nyaris setiap hari kita mengkonsumsi berita-berita tentangnya di segala media. Harapan terbesar dari dialog ini dapat lebih mendorong suatu kesadaran dan rasa tanggung jawab bersama; BAHWA KITA SEMUA (TANPA KECUALI) punya kontribusi penting untuk berpartisipasi memutus mata rantai wabah ini.
Semoga wabah ini segera dapat cepat berlalu,… biidznillah.
****
Berikut petikan dialog-dialognya…

# RID, JIKA MENCOBA KILAS BALIK MEREKONSTRUKSI, KIRA-KIRA DIMANA RID PERTAMA KALI KEMUNGKINAN “TERTULAR” CORONA INI ?
Aku nggak bisa pastikan De dimana tertularnya, bisa di poliklinik, atau di bangsal, atau boleh jadi juga di kamar operasi. Secara umum, atmosfer sosial saat itu, belum terbangun suatu kondisi yang mengantarkan kita harus bersikap ekstra ketat dalam berinteraksi dengan pasien. Saat itu, aku memeriksakan pasien-pasien di poli belum mengenakan masker apalagi APD yang standard. Hal yang sama kurasa pasien-pasien juga masih belum familier dengan istilah seperti ODP, PDP dsb

# OK. WALAU RID TIDAK BISA MEMASTIKAN PERSIS DIMANA TERINFEKSI, TAPI BESAR KECURIGAAN PENULARAN DIPEROLEH DI LINGKUNGAN KERJA YA? SEHINGGA LUMRAH BILA KINI RS-RS MEMBERLAKUKAN ATURAN YANG SANGAT KETAT, DIANTARANYA LARANGAN MEMBESUK PASIEN. BOLEH CERITAKAN, APA KELUHAN PADA SAAT-SAAT AWAL?
Jum’at (6 Maret), Bermula ketika aku hadir dalam rapat darurat untuk menghadapi wabah covid di RS ku, Aku merasa kurang fit, gampang somnolen ( “ngantukan”). Mungkin itu awal gejala-gejala nya, sama sekali tidak khas, hanya badan rasa lemah tidak bertenaga.
Sabtu malamnya, aku mulai demam dan minggu nya aku tirah baring total. Seninnya, mungkin karena pengaruh obat pereda panas, demamku rada turun dan aku mencoba tetap masuk kerja, melakukan satu operasi. Pasca operasi, kondisiku drop. Badan kembali demam dan semakin tinggi suhunya, aku benar-benar merasa tidak berdaya dan minta di rawat ketika itu.

# APAKAH KETIKA MULAI DEMAM ITU, RID SUDAH PUNYA KECURIGAAN DINI BAHWA PENYEBAB DEMAM INI KARENA INFEKSI CORONA?
Tidak sama sekali De, karena memang gejala awal tidak khas. Demam naik turun disertai nyeri kepala hebat, nyeri otot dan linu-linu di persendian. Internis yang merawatku waktu itu curiga demam berdarah (DHF) atau Tifus (Typhoid). Pada hari ketiga perawatan, baru muncul keluhan pada sistem pernafasan. Aku mulai batuk-batuk kering, terasa sesak bila aku bergerak, batuk reda dan menghilang kalau dipakai tidur.
Esoknya, Internisku meminta pemeriksaan rontgen dada, tapi saat diminta menarik nafas, aku tidak kuat. Istriku (kebetulan juga dokter spesialis), akhirnya ikut membantuku memeriksakan CT Scan dinding dada. Hasilnya mengejutkan, ada gambaran peradangan pada dinding paru (pneumonia). Barulah mulai ada kecurigaan terhadap infeksi covid-19 setelah itu. Gejala ini baru tampak 4 hari setelah demam.

# LALU DENGAN KECURIGAAN PADA INFEKSI COVID-19 INI, TINDAKAN APA YANG DILAKUKAN RID?
Team medisku mengubungi manajemen RS untuk segera merujuk ke fasilitas yang lebih komplit, yakni RSPI. Namun rencana dirawat di RSPI terpaksa gagal, karena begitu sampai disana, IGD-nya sudah penuh padat dengan pasien-pasien.Terbayang dalam benakku, apakah begitu banyak pasien-pasien lain di luar sana bernasib serupa denganku? Jumlah kasus yang sudah demikian banyak, tentu membuat team medis kewalahan dan fasilitas perawatan habis terpakai. Aku terpaksa kembali masuk ruang isolasi di RS asalku dirawat. Alhamdulillah, jelang satu hari, ada informasi bed yang kosong di RS lain yang cukup baik dan lengkap fasilitasnya, maka aku dirujuk kesana dan masuk ruang isolasi yang cukup standard, (ruangannya bertekanan negatif).

# BISA RID JELASKAN DENGAN BAHASA YANG MUDAH, SECARA KRONOLOGIS KEADAAN-KEADAAN KLINIS YANG DIRASAKAN SELAMA DI RAWAT DI RS BARU ITU?
Ya, batuk-batuk yang utama. Setiap kali batuk aku merasa sesak. Sesak terasa memberat jika kupakai posisi duduk atau bergerak. Di awal-awal, aku masih mencoba memaksakan diri untuk berjalan menuju toilet, tapi dengan berjalannya waktu ternyata aku semakin tidak memiliki tenaga. Hingga suatu saat, aku nyaris terjatuh. Pada layar monitor tanda vital, terbaca saturasiku mulai turun sampai angka 75. Aku diberikan oksigen dengan masker NRM, saturasi beranjak naik ke angka 90-an. (belum merupakan angka ideal yang diharapkan). Para perawat ruang isolasi dengan mengenakan setelan APD, secara periodik mengambil darah arteriku yang pembuluhnya seakan mulai kolaps, untuk memeriksa analisa gas darah (AGD). Resiko gagal nafas sewaktu-waktu mungkin saja terjadi, bila kemampuan kompensasiku menghirup oksigen atau menghembuskan CO2 sudah terganggu.

# INI BERARTI MOMEN KRITIS DARI PERJALANAN KLNIS YANG KAMU ALAMI YA RID?
Ya benar, memasuki hari ke-14 masa perawatan dari RS, AKU DIPINDAHKAN KE ICU, untuk mewaspadai respon imunitas yang berlebihan. Menurut informasi medis, reaksi kekebalan diri yang berlebihan ini dapat menjadi malapetaka yang paling berbahaya dalam masa perawatan covid-19. Yakni istilahnya terjadi ancaman “badai sitokin” yang potensial menyebabkan ARDS (sindrom Gagal Nafas Akut). Untuk mengantisipasi keadaan yang ada, RS tempat ku dirawat sampai-sampai meminjam ventilator dari RS lain, demi menjaga-jaga jangan sampai ventilator tidak tercukupi demi kebutuhan pasien-pasien yang dirawat.

# RUANG ICU TENTU JAUH BERBEDA DENGAN PERAWATAN DI RUANG ISOLASI. DI ICU, BANYAK PASIEN-PASIEN YANG KRITIS, BANYAK ALAT-ALAT MEDIS YANG DIPERBANTUKAN DAN PROSEDUR YANG KETAT. BISAKAH RID CERITAKAN SEPERTI APA NUANSA YANG DIRASAKAN SAAT BERADA DI ICU?
Ya terasa dramatis bahkan mencekam. Tentu terasa“kurang nyaman” berdampingan dengan pasien-pasien krtitis tersebut, apalagi bila kita sempat menyaksikan masa-masa terminal hidupnya. Pasien-pasien yang terbaring di kanan kiriku, ada yang tidak tertolong, terutama mereka yang telah menggunakan mesin bantu pernafasan (ventilator). Di depan bed-ku persis seorang tentara yang masih muda usianya, di ventilator namun tidak tertolong. Pasien disebelahku merasa sesak dan gelisah bolak balik memanggil perawat jaga. Pada malam harinya dia mengalami henti nafas (apneu). Naluriku sebagai dokter sempat berkecamuk, ingin turun membantu tapi jelas tak mampu. Dengan desain sistem sirkulasi udara tertutup beserta AC centralnya yang ada di ruang ICU muncul rasa khawatir akan situasi yang ada. Apakah mungkin infeksi ini akan berputar-putar seperti lingkaran setan, yakni risiko saling menulari? Momen di ICU pada akhirnya mengantarkanku pada kepasrahan total kepada Allah.

# RID, BERBARING LAMA, TENTU BUKAN PERKARA YANG MUDAH DIJALANI. KONDISI APA YANG DAPAT MENGHIBUR RID SAAT ITU? APAKAH ADA MISALNYA TEMAN SECARA LIVE YANG BISA DIAJAK NGOBROL?
Ketika berbaring, yang paling banyak dilihat adalah langit-langit kamar, variasi pemandangan adalah untuk membaca keadaan waktu, aku melihat perubahan warna pada jendela di ruang ICU. Tidak ada keluarga, teman apalagi pasien yang terbaring lemah tak berdaya yang bisa diajak menjadi teman bicara. Istri dan keluargaku hanya dapat memonitoring lewat telepon. Berat menanggung rasa rindu. Apalagi unit ICU dimasa covid tidak memperkenankan kesempatan untuk dibesuk. Sukar sebenarnya, istirahat di ruang ICU, ritme tidur terganggu karena kunjungan rutin petugas medis saat seperti pengambilan darah, pemberian obat-obat rutin atau saat aku di nebulizer (uap inhalasi). Bunyi denyut jantung monitor setiap pasien mendominasi ruangan ICU, bunyi-bunyi lainnya dari mesin-mesin ventilator atau alarm dari alat-alat penunjang obat saling bersahut-sahutan seperti sebuah konser. Setiap 15 atau 30 menitnya terasa tekanan pemompaan manset di lenganku untuk mengevaluasi keadaan tekanan darah. Paginya, ada upacara rutin, dimana perawat mulai memandikan pasien-pasiennya. ICU harus selalu bersih dan tidak berbau.

# BAGAIMANA RID MENGGAMBARKAN PEKERJAAN PARA MEDIS KITA DISANA?
Perawatan covid-19 cukup berat, banyak sekali kondisi ketergantungan pasien untuk dapat sekedar melakukan aktivitas sehari-hari. Aku sendiri sangat tidak tega-an, kalau harus bolak balik memanggil perawat ICU. Sebisa mungkin aku berusaha mandiri, jika dirasa tidak urgen atau darurat sekali sifatnya, aku sangat mengurangi memanggil mereka. Perawat-perawat ICU itu bekerja luar biasa, beban secara fisik dan psikis di tempat beresiko tinggi seperti itu terasa demikian berat. Mereka harus mengenakan APD standard yang pakaiannya mirip astronot bila masuk kedalam ruangan. Bisakah dibayangkan, setelan seragam seperti itu tentu terasa tidak nyaman, ;panas, ketat menekan dan sesak buat bernafas. Mereka rutin visitasi ke bed-bed pasien sesuai jadwal pemberian obat atau sewaktu-waktu ada keluhan panggilan-panggilan dari pasien. Aku selalu bersaha terjaga kalau perawat-perawat datang, dan berusaha tetap tersenyum tak lupa mengucapkan terima kasih berulang-ulang atas segala dedikasi pengabdian mereka yang luar biasa. Do’a ku semoga mereka tetap diberi kekuatan, ketabahan dan kesehatan dalam melayani pasien-pasiennya.

# BAGAIMANA DENGAN SARANA HIBURAN ATAU INFORMASI (TV ATAU HP) ADAKAH BISA MENGUSIR KEJENUHAN ? ATAUKAH SAAT ITU BAGI RID LEBIH MEMILIH UNTUK TENGGELAM DALAM AKTIVITAS SPIRITUAL, KARENA DALAM KONDISI BEGITU BIASANYA HATI KITA AKAN CENDERUNG LEBIH KHUSYU DAN DEKAT PADA ALLAH ?
Televisi ada, terutama ketika aku berada di ruang isolasi, tapi aku tidak minat sama sekali menonton acara-acaranya, bahkan ketika itu malah terasa mengganggu. Kalaupun ada channel TV, yang aku pilih sebatas audionya saja untuk mendengarkan murotal ayat-ayat Qur’an siaran dari tanah suci. Begitu juga berita-berita yang berseliweran dimedia sosial, terasa begitu berat. Dan sebagai pasien covid menurutku akan terasa bertambah beban psikisnya, ketika membaca informasi-informasi medsos yang serba menakutkan. Aku menjauh dari segala perbincangan dunia maya ketika itu. Aku lebih memilih menenangkan diri dengan terus menerus berdzikir dan pasrah pada Allah SWT. Efek yang terjadi, hati ku terasa lebih sejuk, tenteram dan Alhamdulillah cukup membantu meringankan nafasku yang terasa sesak.

# SUNGGUH SEBUAH PENGALAMAN LUAR BIASA, DAN RID DALAM HAL INI LEBIH MEMILIH MENCARI HIKMAH ATAS SEGALA PERISTIWA YANG ADA, KETIMBANG HANYUT DALAM FIKIRAN WAS-WAS ATAU KECEMASAN. DALAM KONDISI SEPERTI APAPUN, KITA MEMANG MASIH TETAP DAPAT MEMILIH RESPON YANG TERBAIK. SAYA RASA PILIHAN TERHADAP CARA KITA MENSIKAPI KONDISI YANG ADA, JUGA SANGAT BERPENGARUH TERHADAP PROSES PEMULIHAN SAKIT YANG KITA ALAMI.
Ya bener De, Allah pasti memberikan suatu hikmah dibalik sakit yang kualami. Aku yakin itu. Aku belum pernah diuji dengan penyakit berat seperti ini sebelumnya. Sepertinya Allah ingin me-reset ulang kehidupan ku, agar Aku mulai kembali lembaran baru kehidupan dengan berbekal permenungan yang dalam atas apa yang kujalani selama hampir sebulan menjadi pasien di RS. Ini sebuah pengalaman spiritual teramat penting dan mahal bagi hidupku. Banyak hal yang menyangkut kehidupan pribadi yang tidak mungkin aku ceritakan secara detail satu persatu disini. Jika harus disimpulkan dengan satu kata mungkin “RESET”, adalah istilah yang tepat atas pengalamanku ini.

# BERAPA LAMA DI ICU RID?
Tiga hari perawatan De, Alhamdulillah kondisiku berjalan relatif stabil membaik, terhindar dari ancaman gagal nafas sehingga diperkenankan ke ruang isolasi kembali.

# SAAT MULAI MASUK EPISODE PEMULIHAN, APA MASIH ADA PROBLEM SETELAH BED REST PANJANG INI?
Iya benar, jelang 4 hari sebelum pulang aku didiagnosa terkena DVT. DVT adalah suatu penyakit akibat sumbatan bekuan darah di pembuluh darah tungkai bawah akibat imobilisasi lama. Jika datang sakit nya terasa begitu nyeri di pinggang sehingga kalau mencoba duduk terasa mau jatuh. Pendek kata susah mencari cari posisi yang dirasa nyaman. Ini membuat aku tetap berbaring, aku belajar mobilisasi secara perlahan dan bertahap. DVT ini juga suatu penyakit yang serius, ibaratnya belum lepas dari kandang harimau, aku seperti terjebak lagi masuk ke kandang singa.

# BAGAIMANA UJUNG KISAH INI RID?
Ya Alhamdulillah akhirnya ALLAH MASIH MEMBERIKU “KESEMPATAN KEDUA” dalam hidup ini. Suatu anugerah besar yang amat ku syukuri. Betapa amat bernilainya itu kesehatan. Orang bilang, kesehatan bukan segalanya, tapi yakinlah tanpa kesehatan segalanya menjadi bukan apa-apa. Aku melihat kehidupan secara amat berbeda pasca menderita penyakit ini. Dua hari menjelang pulang aku belajar mobilisasi. Saat mau turun ke toilet masih terasa bagiku sulit dan berat, seakan-akan mau menyebrangi samudera rasanya. Alhamdulillah, pada tangggal 28 Maret, aku mendapat izin pulang dari dokter yang merawatku.
Ketika di rumah aku ingin melakukan sholat dengan kayfiat “yang normal”, ternyata kakiku masih belum mampu untuk melakukan formasi duduk iftirosy. Mohon do’anya, ujian yang kuhadapi masih berlanjut De. Istriku kini gantian yang dirawat di ruang Isolasi. Aku berhutang nyawa padanya. Anak-anak kami sementara aku titipkan pada mertuaku. Betapa amat rindu berpisah dengan mereka semua. Tapi Insya Allah aku tetap yakin semua ada hikmahnya, Allah lebih tahu apa yang terbaik buat hamba-hambaNya.

# AMIIIN, BERSAMA KESULITAN SUDAH TERBENTANG KEMUDAHAN, ITU JANJI-NYA RID. ALLAH BERIKAN KESEHATAN DAN PERLINDUNGANNYA YA RID, BUAT KAMU, ISTRI DAN JUGA SEMUA KELUARGAMU, SEMOGA UJIAN INI CEPAT BERLALU BAGI NEGERI KITA.

TERIMAKASIH SUDAH BERBAGI KISAH PENGALAMANNYA YANG LUAR BIASA INI, INSYA ALLAH BANYAK MANFAATNYA

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *