oleh

Pedagang Masker : Dirumah Lapar atau Jualan Melawan Resiko Covid 19

Jakarta, TribunAsia.com – Masa pandemi pedagang kaki lima beralih profesi menjual masker demi berjuang menyambung hidup. Herman yang biasanya berjualan jas hujan kini banting stir menjajakan dagangannya berupa masker, sarung tangan dan slayer.

Pria yang memiliki 2 buah hati tersebut terpaksa harus bekerja keras demi kebutuhan hidupnya sehari-hari dijalan. Pasalnya, jika dirumah dan mengikuti himbauan pemerintah otomatis kedua anaknya tidak bisa memperoleh makan.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

” Justru banyak pedagang-pedagang yang tidak bisa jualan larinya ke masker (beralih). Kadang-kadang saya sering mutar-mutar juga (keliling). Kalau sudah malam kadang-kadang mangkal. Kalau sekarang karena mendadak kemarin sempat barang (masker) itu tidak ada dan banyak nanyain masker tentang sensi (merk). Ini dulunya harga Rp 1.000 (per buah) sekarang meningkat ratusan ribu,” kata pria yang telah ditinggal meninggal dunia oleh isterinya, Selasa (7/4/2020).

Kemudian, dengan dibantu menggunakan sepasang tongkat Herman yakin turun kejalan bisa mendapatkan keuntungan ditengah-tengah merebaknya Virus Covid-19/Korona. Herman sendiri dalam kondisi keterbatasan pisik ditemani oleh putra keduanya bernama Abdil Ardiansyah yang kini duduk dibangku kelas 3 SD.

Dengan kendaraan sepeda motor yang dimodifikasinya itu, Herman termasuk bagian dari penyandang disabilitas dan tak kenal lelah meskipun himbauan menyerang bertubi-tubi ditelinganya perihal untuk “social distancing”.

” Melihat perkembangan ekonomi saat ini kecewa, apalagi korona para pedagang sempat disuruh di stop dulu. Jangankan orang lain saya sendiri pun ngerasain kalau dagang di suruh tutup penghasilan tidak ada dan saya juga membutuhkan biaya atau dana untuk kehidupan sehari-harinya,” ungkapnya kepada tribunasia.com di Pasar Pulo Jahe, Kelurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.

Ia menambahkan, harga masker yang dijualnya itu dipasarkan dengan harga bervariasi sesuai corak dan jenisnya. Dia sendiri memasang harga masker mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu.

” Kalau penjualan jauh meningkatnya justru banyak pedagang-pedagang yang tidak bisa jualan larinya ke masker (beralih). Dari harga maskernya dari harga Rp5.000 sampai Rp15.000 bervariasi, sebelum jual ini jual jas hujan saya. Slayer ada, buff, sarung tangan ada,” kata pria yang ngontrak di RT 01/14.

Hari Rabu ini, dia keluar rumah sekitar pukul 13.00 Wib dan telah berhasil memasarkan masker sebanyak 25 buah kepada konsumen disisi jalan yang dapat dilintasi antara Pulogadung dan Durensawit, Jakarta Timur.

Diketahui, Herman dikaruniai dua orang anak dan anak pertama dia bernama Siti Nur Habibah saat ini duduk di bangku kelas 3 SMP.

” Hari ini tadi saya buka siang hari alhamdulillah laku hampir 25 potong. Saya beli barang-barang ini dari teman-teman konveksi yang kecil-kecilan belanja kadang-kadang kita ke grosiran seperti Pasar Senen, Jatinegara dan Kota (Jakbar) sudah menutup harga pun selangit,” terang dia lagi.

Selain itu, Herman mengkritisi kebijakan pemerintah belakangan ini dianggap ‘blunder’ dalam penanganan Virus Covid-19. Bahkan, dia mengeluhkan sulitnya membayar biaya sewa kontrakan karena calon pembeli takut berada diluar rumah.

” Saya ngontrak rumah satu petak, sebulan 400-an diluar air sama listrik. Memang ini andalan kita (dagang). Ngilangin korona dan lanjutin hidup ini-lah. Satu pinta kita kepada pemimpin pemimpin yang diatas, pemerintah cuma bisa memerintahkan tapi tidak bisa mengatasi itu yang saya sayangkan,” cetus pedagang itu.

Jaminan sosial dalam situasi pandemi, juga sempat disinggung oleh dia sebab kebijakan Pemerintah Pusat belum dapat dirasakan masyarakat. Keringanan kredit kendaraan, PLN hingga sembako pun belum dapat terwujud ke masyarakat.

Sikap pesimistis itulah yang membuat dia enggan berpangku tangan dan nekat keluar rumah untuk mengais rezeki dilapangan tanpa jaminan kesehatan.

” Itu belum bisa saya percaya seperti contoh listrik ada yang gratis ada potongan sekian persen, sampai saat ini saya belum mendapatkan. Bantuan masalah korona sembako segala macam belum pernah saya dapatkan selama korona ini berjalan,” sambungnya.

Ia kembali melanjutkan, “Terus ada juga masalah cicilan Bank, Jokowi pernah bilang bisa ditunda selama 2 bulan 3 bulan itu juga mendapat kesulitan orang Bank, orang kredit ini tidak bisa menerima hingga saat ini belum bisa dibuktikan,” beber Herman.

Tidak hanya itu, cibiran terhadap pejabat publik yang telah duduk dan berhasil ke kursi Presiden maupun DKI Jakarta sempat terlontar dari bibir kritistis pejuang rupiah menanti kepedulian mereka kepada kaum ekonomi lemah.

” Beda dari contoh baik dari kampanye ataupun waktu Pilkada banyak yang bagi-bagi kaos tapi cobalah diwaktu korona ini orang membutuhkan masker. Jangankan buat dikasih, membeli saja orang-orang sulit mendapatkan,” urainya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *