oleh

APBN 2020 Pasca Perpu Covid 19

Selamat Idul Fitri 1441 H

Awalil Rizky

Outlook defisit APBN 2020 dari Pemerintah sebesar 5,07% PDB. Defisit nominalnya Rp852,9 triliun. Berarti PDB nominal dianggap Rp16.822 T, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 2,3% dan inflasi 3,9% (scenario berat). PDB nominal naik 6,24% dari 2019. Bagaimana jika pertumbuhan ekonomi -0,4% dan inflasi 5,1% (skenario sangat berat)?
Rata-rata kenaikan PDB nominal 2012-2019 sebesar 9,21% per tahun, mencerminkan pertumbuhan di kisaran 5% dan inflasi 4%. PDB tahun 2020 berdasar asumsi APBN sebesar Rp17.400 T, naik 9,89%. Outlook APBN 2020 terbaru skenario sangat berat naik 5,0%, PDB hanya Rp16.600 T. Berapa defisit?
Dalam skenario sangat berat, jika defisit masih Rp852,9 T maka rasionya 5,14%. Jika defisit akan membengkak, karena pemerintah terpaksa menambah lagi alokasi anggaran antisipasi dampak covid-19. Juga karena outlook pendapatan (Rp1.760 T) akan turun. Jika defisit Rp1.000 T maka rasionya 6,02%.

Iklan RB

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam keterangan pers 1 April lalu menyampaikan outlook APBN 2020 karena adanya wabah covid-19 defisit APBN 2020 dapat mencapai 5,07% dari PDB. Penulis menghitung berdasar rincian data outlook itu sebenarnya defisit akan 5,14%. Jika “skenario sangat berat” dalam paparan Menkeu dihitung cermat, maka rasionya menjadi 6,63%.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *