oleh

ADZAN DI TENGAH WABAH COVID-19

 

(Oleh: Amir Kumadin, SF)

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Masih banyak orang atau institusi masjid yang menafsirkan berlebihan atau jika tidak, malah mengada-ada, tentang Fatwa MUI No. 14 Tahun 2020 dan SK ataupun Sekda Kepala Daerah di daerah kita masing-masing.

Dampak dari hasil penafsiran itu, misalnya tidak diselenggarakan sholat fardhu lima waktu berjama’ah, tidak ada adzan pakai speaker, bahkan sampai pintu gerbang masjid ditutup dan dikunci rapat-rapat.

Jika kita melihat konteksnya, melihat kondisi obyektif yang ada di kawasan kita masing-masing, maka seharusnya kita fleksibel dan bijak.

Jika di sini kita bicara soal adzan, maka *”kisah”* dan *”penjelasan”* di bawah ini, yang mengungkapkan eksistensi adzan di tengah-tengah mayoritas kaum Muslimin akan sangat mencerahkan kita semua, semoga.

Dikisahkan oleh seseorang dalam Face Book-nya, yang kemudian menjadi sangat viral di jagat dunia maya.

Dia bercerita, “Adalah teman saya, yang kebetulan non muslim, bertanya kepada saya, “Kenapa kalau adzan harus dibunyikan keras-keras dengan speaker pula?”

Saya yang bukan ahli agama kemudian berpikir sejenak mencari jawaban yang mudah dicernanya, menjawab seperti ini:

“Bro, adzan itu adalah panggilan sholat, pasti dong namanya panggilan tidak mungkin dengan cara yang sama seperti berbicara atau berbisik-bisik”.

Teman saya membalas “Tapi kan di orang-orang sekitar tidak semuanya muslim?”.

Saya jawab lagi “Benar. Bro, kita sekarang sedang ada di bandara, dengar kan *announcement* bandara selalu memberikan panggilan boarding? Apakah kamu juga mempertanyakan ke mereka mengapa melakukan panggilan boarding pesawat YANG LAIN keras-keras padahal bukan panggilan pesawatmu?”

*Dia tersenyum namun membalas lagi “Tapi kan hari gini semua orang sudah tahu dengan teknologi jam berapa waktu sholat apa, apa masih harus adzan keras-keras?”.*

*Saya pun kemudian menjawab “Ya setiap penumpang juga kan sudah tau jadwal penerbangannya sejak pesan dan memegang tiket, kemudian check-in, sudah tercetak jadwal keberangkatannya di boarding pass, sudah masuk ruang tunggu, tapi tetap bandara melakukan panggilan boarding bukan?*

Dan ada satu hal lagi mengapa adzan harus dikumandangkan, itu bukan hanya sebagai penanda sudah masuk waktu sholat tapi benar2 panggilan sholat, karena kami harus menyegerakan sholat.

Sama halnya semua penumpang harus menyegerakan masuk pesawat setelah panggilan boarding, walaupun masih ada waktu naik pesawat sampai pesawat tutup pintu”.

Kali ini senyumnya bertambah lebar, lalu dia setengah memeluk aku sambil menepuk-nepuk bahuku dan berkata “Super… I got it bro“.

*Adzan Di Tengah Wabah Covid-19*

1. Adzan itu merupakan peringatan dan pengingat bahwa sudah masuk waktu shalat.

2. Adzan itu juga merupakan penanda/pemberitahuan bahwa sudah masuk waktu sholat.

3. Adzan itu benar-benar panggilan sholat, karena setiap muslim harus menyegerakan sholat. Tidak hanya bagi kaum kaki-laki, tapi juga bagi kaum perempuan, yang harus menyegerakan sholat. Meskipun para muslimah menegakkan sholatnya di rumah masing2. Tapi jika tidak ada suara adzan, bagaimana mungkin kaum muslimah di rumah masing2 bisa menyegerakan sholat?

4. Adzan itu merupakan syi’ar Islam. Kata syi’ar berbentuk mufrad, sedang jamaknya sya’a-ir. Syi’ar artinya moto, lambang, tanda, merek, atau slogan. Syiar adalah merupakan simbol kemuliaan dan kebesaran Islam.

5. Masih banyak orang yang sudah diingatkan dan dikasih tahu tanda bahwa sdh masuk waktu shalat, mereka tetap meneruskan aktivitas, pekerjaan, urusan, dan rutinitasnya dengan mengabaikan peringatan dan pemberitahuan tersebut. Apalagi tidak diperingatkan dan tidak diberitahu *(tidak ada suara adzan)*, dapat dipastikan jauh lebih banyak lagi orang yang terlena, terlupa, kesiangan bangun pagi, lalai, dan bahkan wassalaam selamat tinggal shalat apalagi shalat berjamaah…!!!

6. Dalam sikon seperti sekarang ini, adanya wabah virus corona, panggilan adzan di masjid dengan speaker/toa, justru sangat penting agar kita umat Islam bisa disiplin dan tepat waktu menegakkan shalat fardhu *(ash-shalaatu ‘alaa waktihaa)*, sehingga salah satu berkahnya dari ribuan berkah lainnya, adalah agar kita ditolong dan dilindungi oleh Allah swt dari virus tersebut.

Jika shalat kita acak-acakan, bagaimana mungkin pertolongan dan perlindungan Allah akan turun kepada kita…?!!!

7. Dalam faktanya, saat adzan dikumandangkan, di masjid kita masing-masing, tidak semua orang Islam berduyun-duyun memenuhi masjid, dimana sebagian dari kita sangat khawatir karena sedang terjadi pandemi covid-19, tapi orang yang datang ke masjid hanya sebagian kecil dari umat Islam di sekitar masjid, hanya jama’ah tetap masjid tersebut, yang terkadang hanya segelintir orang, ditambah musyafir yang pas ikut shalat demi memenuhi kewajibannya, yakni shalat tepat pada waktunya.

Dalam sikon terjadinya wabah Covid-19 saat ini, juga ada fakta yang memprihatinkan dari banyak fakta lainnya, dimana masih banyaknya orang, ribuan orang, yang melintas di jalan raya di setiap wilayah kita masing-masing, karena memang belum diberlakukan “lockdown”, demi sebuah urusan penting dan lainnya yg tidak bisa ditinggalkan. Tentu, saat tiba waktu shalat fardhu, mereka sebagai muslim dan musyafir, banyak yg berhenti di masjid-masjid yang mereka lewati demi menegakkan sholat tepat pada waktunya. Tapi alangkah kagetnya mereka, karena beberapa masjid tidak mengumandangkan adzan dgn speaker dan bahkan pintu gerbang masjid yg mereka lewati dikunci gembok besar dan rantai. Sementara perjalanan mereka masih jauh. Mau sholat di mana mereka, jika masjid-masjid ditutup dan dikunci…?!!!

8. Masih banyak orang tidak rela ketinggalan pesawat dibanding ketinggalan sholat.

Wassalaam


*
(Oleh: Amir Kumadin, SF)

Masih banyak orang atau institusi masjid yang menafsirkan berlebihan atau jika tidak, malah mengada-ada, tentang Fatwa MUI No. 14 Tahun 2020 dan SK ataupun Sekda Kepala Daerah di daerah kita masing-masing.

Dampak dari hasil penafsiran itu, misalnya tidak diselenggarakan sholat fardhu lima waktu berjama’ah, tidak ada adzan pakai speaker, bahkan sampai pintu gerbang masjid ditutup dan dikunci rapat-rapat.

Jika kita melihat konteksnya, melihat kondisi obyektif yang ada di kawasan kita masing-masing, maka seharusnya kita fleksibel dan bijak.

Jika di sini kita bicara soal adzan, maka *”kisah”* dan *”penjelasan”* di bawah ini, yang mengungkapkan eksistensi adzan di tengah-tengah mayoritas kaum Muslimin akan sangat mencerahkan kita semua, semoga.

Dikisahkan oleh seseorang dalam Face Book-nya, yang kemudian menjadi sangat viral di jagat dunia maya.

Dia bercerita, “Adalah teman saya, yang kebetulan non muslim, bertanya kepada saya, “Kenapa kalau adzan harus dibunyikan keras-keras dengan speaker pula?”

Saya yang bukan ahli agama kemudian berpikir sejenak mencari jawaban yang mudah dicernanya, menjawab seperti ini:

“Bro, adzan itu adalah panggilan sholat, pasti dong namanya panggilan tidak mungkin dengan cara yang sama seperti berbicara atau berbisik-bisik”.

Teman saya membalas “Tapi kan di orang-orang sekitar tidak semuanya muslim?”.

Saya jawab lagi “Benar. Bro, kita sekarang sedang ada di bandara, dengar kan *announcement* bandara selalu memberikan panggilan boarding? Apakah kamu juga mempertanyakan ke mereka mengapa melakukan panggilan boarding pesawat YANG LAIN keras-keras padahal bukan panggilan pesawatmu?”

*Dia tersenyum namun membalas lagi “Tapi kan hari gini semua orang sudah tahu dengan teknologi jam berapa waktu sholat apa, apa masih harus adzan keras-keras?”.*

*Saya pun kemudian menjawab “Ya setiap penumpang juga kan sudah tau jadwal penerbangannya sejak pesan dan memegang tiket, kemudian check-in, sudah tercetak jadwal keberangkatannya di boarding pass, sudah masuk ruang tunggu, tapi tetap bandara melakukan panggilan boarding bukan?*

Dan ada satu hal lagi mengapa adzan harus dikumandangkan, itu bukan hanya sebagai penanda sudah masuk waktu sholat tapi benar2 panggilan sholat, karena kami harus menyegerakan sholat.

Sama halnya semua penumpang harus menyegerakan masuk pesawat setelah panggilan boarding, walaupun masih ada waktu naik pesawat sampai pesawat tutup pintu”.

Kali ini senyumnya bertambah lebar, lalu dia setengah memeluk aku sambil menepuk-nepuk bahuku dan berkata “Super… I got it bro“.

*Adzan Di Tengah Wabah Covid-19*

1. Adzan itu merupakan peringatan dan pengingat bahwa sudah masuk waktu shalat.

2. Adzan itu juga merupakan penanda/pemberitahuan bahwa sudah masuk waktu sholat.

3. Adzan itu benar-benar panggilan sholat, karena setiap muslim harus menyegerakan sholat. Tidak hanya bagi kaum kaki-laki, tapi juga bagi kaum perempuan, yang harus menyegerakan sholat. Meskipun para muslimah menegakkan sholatnya di rumah masing2. Tapi jika tidak ada suara adzan, bagaimana mungkin kaum muslimah di rumah masing2 bisa menyegerakan sholat?

4. Adzan itu merupakan syi’ar Islam. Kata syi’ar berbentuk mufrad, sedang jamaknya sya’a-ir. Syi’ar artinya moto, lambang, tanda, merek, atau slogan. Syiar adalah merupakan simbol kemuliaan dan kebesaran Islam.

5. Masih banyak orang yang sudah diingatkan dan dikasih tahu tanda bahwa sdh masuk waktu shalat, mereka tetap meneruskan aktivitas, pekerjaan, urusan, dan rutinitasnya dengan mengabaikan peringatan dan pemberitahuan tersebut. Apalagi tidak diperingatkan dan tidak diberitahu *(tidak ada suara adzan)*, dapat dipastikan jauh lebih banyak lagi orang yang terlena, terlupa, kesiangan bangun pagi, lalai, dan bahkan wassalaam selamat tinggal shalat apalagi shalat berjamaah…!!!

6. Dalam sikon seperti sekarang ini, adanya wabah virus corona, panggilan adzan di masjid dengan speaker/toa, justru sangat penting agar kita umat Islam bisa disiplin dan tepat waktu menegakkan shalat fardhu *(ash-shalaatu ‘alaa waktihaa)*, sehingga salah satu berkahnya dari ribuan berkah lainnya, adalah agar kita ditolong dan dilindungi oleh Allah swt dari virus tersebut.

Jika shalat kita acak-acakan, bagaimana mungkin pertolongan dan perlindungan Allah akan turun kepada kita…?!!!

7. Dalam faktanya, saat adzan dikumandangkan, di masjid kita masing-masing, tidak semua orang Islam berduyun-duyun memenuhi masjid, dimana sebagian dari kita sangat khawatir karena sedang terjadi pandemi covid-19, tapi orang yang datang ke masjid hanya sebagian kecil dari umat Islam di sekitar masjid, hanya jama’ah tetap masjid tersebut, yang terkadang hanya segelintir orang, ditambah musyafir yang pas ikut shalat demi memenuhi kewajibannya, yakni shalat tepat pada waktunya.

Dalam sikon terjadinya wabah Covid-19 saat ini, juga ada fakta yang memprihatinkan dari banyak fakta lainnya, dimana masih banyaknya orang, ribuan orang, yang melintas di jalan raya di setiap wilayah kita masing-masing, karena memang belum diberlakukan “lockdown”, demi sebuah urusan penting dan lainnya yg tidak bisa ditinggalkan. Tentu, saat tiba waktu shalat fardhu, mereka sebagai muslim dan musyafir, banyak yg berhenti di masjid-masjid yang mereka lewati demi menegakkan sholat tepat pada waktunya. Tapi alangkah kagetnya mereka, karena beberapa masjid tidak mengumandangkan adzan dgn speaker dan bahkan pintu gerbang masjid yg mereka lewati dikunci gembok besar dan rantai. Sementara perjalanan mereka masih jauh. Mau sholat di mana mereka, jika masjid-masjid ditutup dan dikunci…?!!!

8. Masih banyak orang tidak rela ketinggalan pesawat dibanding ketinggalan sholat.

Wassalaam

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *