oleh

ALTRUISME

Musibah, di samping membawa luka, juga selalu memberi kabar: Ada kebajikan universal yang tak pernah bisa dikubur oleh kapitalisme._

Menyaksikan video yang menayangkan momen kembalinya para dokter dan perawat di Wuhan (ibukota provinsi Hubei di China) ke daerahnya masing-masing, setelah serangan virus-mematikan Covid-19 menyerbu mereka, membuat air mataku meleleh. Saya benar-benar terharu. Tidak saja betapa mereka telah berjuang mati-matian untuk melawan Covid-19, tetapi juga bagaimana, justru di titik nadir harapan hidup mereka, terbit kebajikan: altruisme.

Wuhan, dan China secara umum, telah menunjukkan diri sebagai pemenang. Mereka adalah bangsa yang tak kenal kalah. Musibah tak disambut dengan kepasrahan. Memang tak sedikit yang meninggal. Tetapi, di tengah kekalutan akan begitu ‘sadisnya’ virus itu membunuh manusia, bangsa China telah memperlihatkan patriotisme yang tak kenal lelah. Mereka menunjukkan diri sebagai bangsa yang pernah memiliki jejak peradaban dan kebudayaan yang luhur; sebagai bangsa para kesatria.

Tentu saja para dokter dan perawat adalah garda terdepan teladan kebajikan ini. Mereka tak kenal lelah melawan Covid-19. Tak peduli siang, tak peduli malam, mereka berjibaku mengurusi pasien. Menyelamatkan nyawa tiap manusia. Menyelamatkan kemanusiaan. Ada yang tak pernah pulang rumah; ada yang tak pernah beristirahat pulas hingga berhari-hari; ada yang hanya bisa mengintip anak dan keluarga mereka dari kejauhan; dan bahkan ada yang harus meregang nyawa. Itu semua dilakukan demi satu: kemanusiaan.

*Fukuyama*

Dua puluh delapan tahun lalu, ketika pertama kali melaunching karya-fenomenalnya _The End of History and The Last Man_, Francis Fukuyama boleh sesumbar menyatakan: dunia akan berakhir dengan kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal. Tetapi ada yang alpa dari ingatan Fukuyama, bahwa dunia tak pernah berjalan dengan linear. Tidak ada yang namanya determinisme historis–ala Hegelian. Sejarah, dan kehidupan global, akan berjalan dalam logika yang unpredictable. Tak ada yang pasti. Tak ada yang benar-benar bisa ditebak dengan pasti.

Fukuyama mungkin tak pernah menduga bahwa: hanya butuh waktu sekejap bagi Covid-19 untuk menghancurkan kapitalisme dan segala kepongahannya. Modernitas sebagai simbol kemajuan masyarakat kapitalis dibuat tak berkutik oleh Covid-19. Tiba-tiba semuanya tak berarti. Tidak gedung-gedung bertingkat. Tidak teknologi supermaju _(high tech)_. Tidak mall-mall dan pusat keramaian lainnya. Tidak pula kemewahan _lifestyle_ yang ditawarkan.

Masyarakat-dunia tiba-tiba tak peduli dengan semua itu. Gedung-gedung bertingkat menjadi kosong melompong. Pusat-pusat keramaian yang saban hari disesaki oleh perjumpaan antar-manusia mendadak sepi. Orang-orang yang sebelumnya hanya merasa ‘berkelas’ bila bertemu di mall, tiba-tiba menjadi takut. Menjauhinya. _Lifestyle_ sebagai kredo dasar manusia-sosialita menjadi kehilangan makna. Di hadapan Covid-19 kesemua itu tak lebih dari kemajuan yang menyedihkan. Modernitas yang muram.

Yasraf A. Piliang menyebut Covid-19 sebagai pelecut gejala deglobalisasi. Kapitalisme, yang tegak di atas payung globalisasi, tiba-tiba lumpuh. Ia mengalami titik balik yang menakutkan. Sihir keniscayaan globalisasi yang banyak diuraikan oleh para pakar–di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, di seminar-seminar–tiba-tiba tertutup oleh masker bernama Covid-19. Puja-puji atas globalisasi sebagai satu-satunya jalan untuk memakmurkan dunia tiba-tiba runtuh.

Yang terjadi justru adalah _lock-down_. Negara-negara di dunia tiba-tiba takut dengan apa saja yang berbau globalisasi. Mereka ramai-ramai memportal, mengunci, negaranya dari yang lain. Semua warga asing ‘dicurigai’. Tak diberi izin masuk. Pun begitu peredaran barang. Benar-benar diseleksi. Dan hanya diprioritaskan pada barang-barang kesehatan. Dunia berada dalam “isolasi-diri yang masif”, kata Yasraf.

Fokus manusia menjadi berubah. Manusia menjadi lebih sosial. Individualisme (yang narsistik) sebagai ciri masyarakat kapitalistik, justru terjungkal saat Covid-19 memporak-porandakan China (kita tahu persis, China pada akhirnya tak tahan dengan kemilau kapitalisme).

Warga China–dan tentu saja negara-negara lain yang diserbu oleh Covid-19–menjadi sadar bahwa ada hal yang jauh lebih penting untuk diselamatkan ketimbang memperdebatkan segala atribut kehidupan. Kesadaran mereka melampaui agama. Apalagi suku dan tempat tinggal. Mereka menjadi sadar bahwa virus ini tak bisa dikalahkan dengan berpikir ‘sendiri-sendiri’. Dan sebaliknya, ia hanya bisa dikalahkan dengan kebersamaan. Dengan solidaritas yang tulus.

Individualisme mati justru di jantung kekuasaannya sendiri. Ia kehilangan para pemujanya. Selepas Covid-19, kita menyaksikan begitu banyak wajah-wajah religius nan teduh, dalam banyak agama. Mereka muncul sebagai malaikat yang datang menyelamatkan kemanusiaan dengan altruisme yang berkobar-kobar. Mereka datang menyelamatkan kemanusiaan dari individualisme yang bengis.

_Hidup, tentu saja, tak sekadar dicipta untuk memuja diri dan kepentingan-diri (individualisme)._

*Indonesia*

Di Indonesia, hari pertama kasus Covid-19, disambut dengan histeria massal. Masyarakat terkejut. Dan panik. Sayangnya, kepanikan ini tidak berhasil menyublim solidaritas. Ia tak berhasil mengikat warga dalam aksi-bersama yang nyata.

Akibatnya apa? Energi bangsa kemudian habis untuk meributkan soal yang tak substansial; soal yang tak dimengerti oleh ‘bahasa’ kaum awan di pelosok negeri. _Kebijakan yang tepat apakah lockdown atau tidak? Kendali penanganan Covid-19 di Ibukota Jakarta ada di Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Pusat?_

Atau yang lebih menggelitik lagi: _Benarkah atau tidak anjuran pemerintah untuk tidak salat jumat di masjid, selama Covid-19 ini mewabah?_

Media-media massa, baik itu televisi, radio, koran, kemudian ramai memperdebatkannya. Juga di media sosial: _Facebook, WhatsApp, Twitter,_ dan lain sebagainya. Para ustaz (anti sains) memprotesnya. Kemudian diklarifikasi oleh pemerintah (melalui MUI). Tak ketinggalan, sebagian ustaz (yang pro-sains) turut memberi penjelasan. Begitu bolak-balik. Di protes. Diklarifikasi. Di protes. Diklarifikasi.

Padahal, jauh di pojok kesunyian yang memilukan, para dokter dan perawat tengah bekerja mengobati pasien. Di bilik-bilik ruang isolasi, dengan berurai air mata, mereka tengah berjuang menyelamatkan nyawa manusia. Satu demi satu. Mereka tak pernah tahu perdebatan itu. Mereka tak tahu politik. Juga agama. Tak peduli suku. Bagi mereka manusia adalah manusia. Tak penting apa haluan politiknya, apa agamanya, apa sukunya, apa warna kulitnya. Mereka semua wajib untuk diselamatkan.

Para dokter dan perawat tengah mengamalkan laku altruisme yang paling murni. Sebagian di antara mereka mungkin tak pernah mengenal Muhammad SAW karena terlahir Kristen. Tetapi di bilik isolasi, tak ada umat Muhammad. Tak ada pengikut Kristus. Tak ada penganut Buddha. Dan lain sebagainya. Yang ada adalah manusia, yang dicipta Tuhan dari segumpal tanah yang sama.

Para dokter dan perawat–dalam diam–juga tengah mengamalkan laku yang mengkritik keberagamaan yang egoistik. Laku para nabi. Laku yang tak mengorbankan nyawa orang lain demi ritualisme kepada Tuhan. Laku yang mengabdi kepada kemanusiaan.

Para dokter dan perawat bahkan rela menukar nyawa mereka dengan pasien yang sama sekali mereka tidak kenal. Di hari kesekian, sejak Covid-19 muncul di Indonesia, telah berapa dokter dan perawat yang menemui ajal. _Mereka tak sempat bertanya apa agama pasien? Dari mana mereka berasal? Suku apa mereka?_ Yang ada di pikiran mereka adalah, bagaimana dengan peralatan medis yang ada, mereka bisa menyelamatkan nyawa pasien.

_Kemanusiaan di atas segala-galanya._

Jadi, bagi saya, hari-hari kini dan ke depan: usailah kita berdebat. Tinggalkanlah semua itu. Mari kita susun agenda-bersama untuk melawan virus-mematikan ini. Kemanusiaan tak cukup diperdebatkan. Agama mutlak mewujud pada tindakan yang nyata.

Kita bisa belajar dari negara-negara lain. Mereka bisa melewati masa-masa menyedihkan ini dengan kekuatan yang tak berbilang. Mereka bisa membuktikan bahwa dengan solidaritas yang tak terperi, musibah ini bisa diakhiri.

Dan juga, kelak, agar kita tak dikata-katai: _Akh, kamu tak lebih dari seorang pembual. Pengkhotbah altruisme yang sering lupa mengamalkannya._

*[ITHO MURTADHA]*

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *