oleh

UN 2020 ditiadakan Anggaran Bisa dialihkan Untuk Penanganan Penyebaran Covid-19

Selamat Idul Fitri 1441 H

Jakarta, tribunasia. com-Keputusan pemerintah meniadakan UN mulai dari tingkat SD-SMA diapresiasi Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Satriwan Salim sebagai Wasekjen FSGI menilai keputusan tersebut menjadi bagian langkah strategis dalam kondisi darurat pencegahan Covid-19.

” Kami apresiasi dan mendukung keputusan pemerintah meniadakan UN SD-SMA. Ini menjadi langkah strategis di waktu dan kondisi yang tepat dan darurat. Pilihan yang baik demi kesehatan, keselamatan para siswa dan guru, serta mencegah penyebaran Covid-19,” ungkapnya, Selasa (24/3/2020).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Ia menambahkan, UN saat ini sudah tidak relevan terutama di tingkat SMA sederajat. Kata dia, UN dianggap tidak bermanfaat untuk kejenjang Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Kerena masuk ke PTN bukan dari nilai UN melainkan tes UTBK.

” Lagipula bagi FSGI, kedudukan, tujuan, dan fungsi UN sudah tidak ada lagi, sudah tak relevan. Apalagi di tingkat SMA/MA. UN SMA tak bermanfaat secara praktis untuk masuk ke jenjang berikutnya, PTN. Sebab masuk PTN bukan dengan nilai hasil UN, melainkan melalui Undangan (Nilai Raport) dan Tes UTBK,” jelas Satriwan kepada tribunasia.com.

FSGI memaparkan, kedudukan, tujuan, dan fungsi UN untuk tingkat SD-SMP juga tak terlalu relevan lagi. Sebab masuk SMP dan SMA saat ini sudah 3 tahun jalan melalui mekanisme PPDB Zonasi yang memiliki 3 jalur: Jarak rumah (zona), Prestasi Siswa (Akademik, non akademik); dan Perpindahan orang tua termasuk afirmasi.

” Jadi, walaupun ada jalur prestasi dalam PPDB, tetapi prestasi yang dimaksud tak hanya dilihat dari nilai UN, melainkan bisa juga dilihat dari prestasi nilai raport, nilai ujian sekolah, dan prestasi non-akademik lainnya seperti juara vokal, menggambar, mendongeng, debat, olahraga, seni musik dan lainnya. Artinya Nilai UN bukan lagi satu-satunya parameter prestasi siswa,” tandasnya.

Terlebih, bagi FSGI terkhusus untuk SMA/MA ditiadakannya UN 2020 ini justru sangat bermanfaat besar. Sebab energi siswa, guru, dan orang tua akan lebih fokus kepada persiapan Tes UTBK atau Seleksi Mandiri PTN. Ia berpendapat, para siswa akan fokus belajar menyiapkan itu semua.

” Catatannya adalah jangan sampai UN 2020 ditiadakan, tetapi pemerintah tetap membuat penilaian ujian sekolah online (daring) misalnya saja. Semoga ini tidak terjadi. Sama saja akan mempersulit siswa, guru, dan orang tua dari aspek persiapan teknis, kesiapan SDM guru dan tenaga teknis lain kesiapan infrastruktur, mengingat Indonesia sangat luas dengan geografis yang unik. Apalagi di tengah kondisi bencana nasional seperti sekarang,” terang FSGI.

Namun demikian, dengan meniadakan UN 2020 dalam kondisi perebaknya virus Covid-19/Korona anggaran pendidikan yang mencapai ratusan miliar itu dapat dialihkan untuk membantu penanganan Covid-19.

” Kita tahu anggaran pelaksanaan UNBK selama ini masih cukup besar, ratusan milyar. Dengan ditiadakannya UN 2020, alokasi anggarannya bisa dialihkan untuk membantu penanganan penyebaran Covid-19. Ini lebih bermanfaat, ketimbang dana dipakai untuk pelaksanaan UN yang juga tak ada manfaatnya lagi bagi anak-anak kita,” tutupnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *