oleh

FATWA MUI SOAL COVID-19: BUKAN MELARANG SHALAT JUM-AT, TAPI…….!!!

Selamat Idul Fitri 1441 H

Oleh: Amir Kumadin, SF

Pro dan kontra atas Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020, yang berisi 9 poin, yang diterbitkan pada 16 Maret lalu, yakni tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19 istilah dari *pandemi Corona Virus Disease 2019* adalah karena adanya salah dan gagal paham alias keluar konteks atau tidak nyambung, dimana ujungnya tak lain dan tak bukan, adalah ‘kebodohan’.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Segala bentuk kesalahpahaman itu setelah dirunut, diusut, dan diintrogasi, ternyata sumbernya adalah *pemahaman parsial/pemahaman sepotong-sepotong/pemahaman yg tidak utuh* dari fatwa MUI tersebut. Dalam ilmu fisika dikenal dengan diktum: *partialism is ignorance*.

Setelah diusut, ternyata kedua kelompok pro dan kontra itu, memiliki hasil pemahaman yg sama. Yakni, bahwa Fatwa itu berisi larangan shalat Jum-at bagi umat Islam.

Bedanya:

Kelompok yang pro terhadap Fatwa MUI itu menjeneralisasi, tidak melihat konteks dan sikon, bahwa Fatwa itu berisi larangan terhadap umat Islam untuk menyelenggarakan sholat Jum-at. *Dan kelompok ini mematuhinya dalam kondisi apapun, apakah penyebaran Covid-19 itu terkendali atau tidak, tetap tidak menyelenggarakan shalat Jum-at*.

Sebaliknya, kelompok yang menolak/kontra terhadap Fatwa MUI itu, menjeneralisasi, tidak melihat konteks dan sikon, bahwa Fatwa itu berisi larangan terhadap umat Islam untuk menyelenggarakan shalat Jum-at. *Dan kelompok ini tidak mematuhinya dalam kondisi apapun, apakah penyebaran Covid-19 itu terkendali atau tidak, tetap menyelenggarakan shalat Jum-at*.

Saya tidak akan membeberkan 9 poin Fatwa MUI itu satu persatu dalam tulisan ini, tapi saya akan mengutip poin yg disalahpahami oleh kelompok2 yg pro dan kontra yang berimpit dengan penyelenggaraan shalat Jum-at khususnya. Yakni, poin 2, 3, 4, dan 5.

Ini dia Fatwa MUI tersebut:

*Poin kedua*, orang yang telah terpapar virus corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Baginya shalat Jumat dapat diganti dengan shalat zuhur di tempat kediaman, karena shalat jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang, sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal.

Baginya haram melakukan aktivitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan, seperti jamaah shalat lima waktu/ rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan tabligh akbar.

*Poin ketiga*, yang sehat dan yang belum diketahui atau diyakini tidak terpapar COVID-19, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut, yakni dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi, berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, maka ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu/rawatib, Tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya.

Selanjutnya dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah, berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadah sebagaimana biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar virus Corona, seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun.

*Keempat*, dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat Jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat masing-masing. Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran COVID-19, seperti jamaah shalat lima waktu/ rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim.

*Kelima*, dalam kondisi penyebaran COVID-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan shalat Jumat.

Nah itu dia. Jelas, gamblang, dan bahkan tak perlu tafsir lagi. Untuk memahami Fatwa MUI tersebut, tidak membutuhkan ilmu tinggi, seperti ushul fiqh, dll. Cukup dengan akal sehat, kontekstual, dan komprehensip.

Karena Fatwa MUI tersebut sdh merupakan hasil kajian hukum Islam secara mendalam dan komprehensip oleh para ulama dan pakar ushul dan fiqh.

Ringkas kata:

👉 *Fatwa MUI poin kedua* jelas sekali, bahwa titik tekannya adalah, yang dilarang shalat Jum-at itu, orang yang terindap Virus Corona. Tentunya, dengan asumsi bahwa di lingkungan/kawasan dia mukim, potensi penularannya dinyatakan rendah atau bahkan tidak ada, berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang. Sehingga masyarakat muslim beserta institusi masjid/DKM masih tetap menyelenggarakan shalat Jum-at di masjid.

👉 *Fatwa MUI poin ketiga*, masih bersifat individu dan tidak terpapar virus Corona. Bukan dilarang shalat Jum-at, tapi seseorang *boleh tidak shalat Jum’at* dan menggantinya dgn shalat Zhuhur di rumah.

Hal itu, jika dia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya, dinyatakan tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang.

Sebaliknya, jika dia berada di kawasan yang potensi penularannya masih rendah atau bahkan tidak ada, berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, *MAKA* dia tetap melaksanakan shalat Jum-at dan ibadah lainnya seperti biasanya di masjid.

Makna dibalik fatwa poin kedua dan ketiga ini, maka secara kolektif, masyarakat muslim beserta institusi DKM setempat, tetap menyelenggarakan shalat Jum-at.

👉 *Fatwa MUI poin keempat*, sangat clear.
Bahwa umat Islam dilarang menyelenggarakan sholat Jum-at dlm batas waktu tertentu, jika dalam kondisi penyebaran Covid-19 tidak terkendali di suatu kawasan, yang bisa mengancam jiwa, dimana umat Islam bermukim.

Pertanyaannya adalah, apakah di lingkungan, wilayah, ataupun kawasan dimana kita mukim, penyebaran Virus Corona itu sudah tidak terkendali?

Jika jawabannya iya, maka umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat Jum-at.

Jika jawabannya tidak, maka umat Islam beserta institusi DKM, wajib melaksanakan shalat Jum-at di masjid.

Artinya, jika kondisi penyebaran Covid-19 masih terkendali, maka umat Islam wajib melaksanakan shalat Jum-at.

👉 *Fatwa MUI kelima*, sangat, sangat, sangat jelas. Bahwa dalam kondisi penyebaran COVID-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan shalat Jum-at.

Jika kita umat Islam memahami Fatwa MUI tentang Covid-19 dengan akal sehat, secara kontekstual dan komprehensip, tidak parsial, maka perdebatan atau kelompok-kelompok pro dan kontra terhadap Fatwa MUI tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Akhirnya kita umat Islam Indonesia bisa taat dan melaksanakan Fatwa MUI terkait Covid-19 tersebut dengan baik dan benar.

Wassalaam.
Dalam suasana gemericik gerimis, Depok, Sabtu 21:30 malam, 26 Rajab 1441 H/21 Maret 2020 M.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *