oleh

Covid-19, Faktor Utama Penyebab Melemahnya Rupiah dan IHSG

Jakarta, TribunAsia.com – Wawancara Eksklusif DR. Fithra Faisal Hastiadi, S.E.,MSE.,M.A.

Kondisi nilai rupiah yang telah memasuki level psikologi baru yakni Rp16 ribu per dolar AS, memaksa otoritas keuangan Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi pasar. Pertanyaannya, sampai seberapa jauh langkah intervensi pasar akan dimungkinkan, karena selain cadangan devisa juga harus dijaga, wabah Covid-19 ditengarai menjadi faktor utama melemahnya nilai rupiah dan IHSG.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Ekonom muda berbakat, DR. Fithra Faisal Hastiadi, S.E.,MSE.,M.A, akademisi Universitas Indonesia (UI) dan Direktur Eksektutif “Next Policy” menjelaskan kondisi sebenarnya yang terjadi dan apa saja langkah yang seharusnya dilaksanakan oleh otoritas keuangan kita.

Berikut di bawah ini rangkuman hasil wawancara jarak jauh dengan sosok yang dikenal punya analisa yang dingin dan objektif, tetapi tajam.

“Rupiah memang sudah bergerak di luar fundamentalnya, dan nilai nya menjadi terlalu rendah atau undervalue. Ada beberapa sebab, diantaranya adalah kebijakan “The Fed” Bank Central Amerika yang menerapkan quantitative easing (QE) yang jika ditilik, sebenarnya bisa menjadi faktor positif buat rupiah.

Kedua, kinerja ekpsor RI yang pada Februari 2020 cukup siginifikan daripada biasanya. Tetapi kemarin ketika kinerja ekspor kita meningkat, impor justru melemah sehingga menciptakan surplus yang lumayan.

Dalam kondisi seperti ini semestinya rupiah masih berada di level Rp13 ribu – Rp 14 ribuan per dolar AS. Tidak sampai ke level Rp15 ribu – Rp16 ribu. Menghadapi kondisi tersebut langkah Bank Indonesia (BI) sudah tepat yakni menurunkan suku bunga acuan. Tidak kemudian larut dengan depresiasi rupiah karena itu memang bukan fundamental, tapi lebih ke arah menjaga pasar agar tetap likuid dengan membanjiri likuiditas dan menurunkan sukubunga.

Penurunan sukubunga memang harus dilakukan dan bukannya melakukan langkah pengetatan pasar. Sebab, sekali lagi saat ini rupiah dan juga IHSG melemah lebih dipicu oleh merebaknya wabah Covid-19.

Dari simulasi yang sudah kami lakukan, Covid-19 itulah yang menyebabkan rupiah dan IHSG terpuruk sampai ke level 4000 an. Jadi bukan karena faktor fundamental.

Lagipula Langkah menurunkan sukubunga akan menurunkan cost of finance secara umum di dunia usaha sehingga hal itu juga menjadi berita baik untuk IHSG. Sebab, mereka juga membutuhkan ruang untuk bergerak hal mana ketika sukubunga BI diturunkan, diharapkan cost of finance mereka akan lebih rendah.

Ihwal cadangan devisa RI yang terus menyusut akibat intervensi pasar BI, sebenarnya dengan adanya kinerja ekpsor yang positif pada Februari 2020 lalu cadangan devisa menjadi agak lumayan. Namun, sayangnya hal itu juga dipergunakan untuk intervensi pasar. Tetapi langkah itu memang harus dilakukan untuk menjaga agar nilai rupiah tidak terpuruk semakin dalam. Apalagi kemarin rupiah sudah masuk ke level psikologis baru ke level Rp16 ribu per dollar AS.

Sampai kapan BI akan cukup kuat untuk terus intervensi pasar, tidak ada yang bisa memperkirakan karena Covid-19 saja tidak bisa diprediksi kapan akan berhenti. Kita masih berjuang untuk bisa mengatasi wabah ini. Kiranya kita harus melihat pada dua minggu ke depan apa yang akan terjadi.

Pada tahapan ini sepertinya tidak akan sampai menimbulkan “rush” pada dunia perbankan kita. Karena sejak reformasi 98 dunia perbankan kita sudah melakukan reformasi perbankan dan menjadi jauh lebih prudent. Lagipula sekarang kita sudah mempunyai Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang bisa lebih spesifik mengatur sektor keuangan.

Jadi peluang untuk rush di perbankan agaknya masih jauh. Kondisi perbankan kita masih belum cukup buruk sampai sejauh ini. Semuanya masih undercontrolled. Tinggal lagi kita akan melihat bagaimana perkembangan ke depan.

Kecuali nanti jika wabah Covid-19 akan terus memanjang, maka BI tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi. Jika kondisi semakin serius, maka bisa jadi akan ada social defenting, dan lain-lain. Diharapkan pada kondisi itu pemerintah juga akan melakukan langkah insentif fiskal untuk merelokasi anggaran guna menciptakan bantalan perekonomian. Misalnya dengan merilis Bantuan Langsung Tunai (BLT), dan tambahan dana untuk healthcare, BPJS, rumah sakit, pengadaan fasilitas kesehatan, dan Rapid Test. Langkah-langkah itu yang sepertinya harus dilakukan. (Pso)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *