oleh

Menyikapi Pandemi C-19 dengan Iman dan ‘Amal Nyata

TribunAsia.com

Miris rasanya melihat viralnya tulisan yang seakan-akan mengedepankan keimanan dan mengabaikan (baca: meremehkan) kondisi pandemi Covid 19 yang terjadi saat ini.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Misalnya ada tulisan yg menyatakan:

“Kalau Allah berkehendak pasti mati”

“Lebih takut dengan corona daripada kepada Allah”

“Jika Allah berkehendak tidak terjangkit maka tidak terjangkit”

dan lain-lain semisalnya.

 

Saudaraku…

Jangan sampai salah menempatkan dalil keimanan sehingga mengabaikan bahkan meremehkan perintah syariat dalam perkara ikhtiar.

Karena sungguh tawakkal, berlindung diri kepada Allah dan meminta pertolongan hanya kepada-NYA adalah perkara keimanan yang WAJIB bagi kita.

Dalam rangka tawakkal, berlindung diri dan memohon pertolongan Allah itulah maka kita harus terikat dengan hukum² Allah. Baik hukum alam (sunnatullah) apalagi hukum syari’atnya.

Terkait hukum alam, maka seluruh aturan alam (hukum kausalitas) di mana kita hidup adalah berjalan berdasarkan sunnatullah yang merupakan kehendak dan ketetapan dari Allah SWT.

Contoh: Air khasiatnya dingin dan menenangkan sedangkan api khasiatnya panas dan membakar, itu adalah sunatullah, kita wajib memanfaatkan keduanya dengan benar.

Manfaatkan api agar kita tidak terbakar.. bukan sebaliknya menceburkan diri ke dalam api dengan alasan ‘iman’ karena yakin bahwa Allah-lah yang mengatur kematian. Mati karena menceburkan diri ke dalam api adalah perbuatan bunuh diri yang diharamkam syariat Allah.

Demikian halnya, dengan pandemi (wabah) C-19 ini, para ahli mikrobiologi dan ahli medis sudah memahami apa yang menjadi sunatullah terkait penyebab, gejala, penyebaran, dan cara pencegahannya.

Sehingga ketika kita dengan sengaja abai, meremehkan dan kemudian menyalahi hukum alam itu, maka sama saja kita telah menyalahi keimanan kita terhadap ketetapan² (qadha) dan khasiat² (qadar)nya Allah terkait dgn hukum alam (kausalitas).

Syariah telah mengajarkan apa yang harus dilakukan dalam kondisi wabah (pandemi) penyakit, adalah dengan bersungguh-sungguh menjaga diri agar tidak tetular dan menulari orang lain sesuai dengan hukum kausalitasnya.

 

Karena itulah Rasulullah bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

 

Saudaraku…

Mari secara serius berusaha untuk menjalankan ikhtiar syar’i (mentaati cara pencegahan terbaik yang telah disampaikan/disosialisasikan kepada kita oleh para ahli medis/yang berkompeten) agar terhindar secara sunnatullah dari wabah C-19 ini.

 

Tempatkan iman dan ‘amal dengan benar wahai saudaraku.

Tawakkal itu pasti dan harus selalu di hati kita. Namun, hukum Allah yang bernama hukum alam (kausalitas) tetap berlaku dan syariah juga sudah mengajarkan bagaimana kita harus berbuat untuk itu.

 

Semoga Allah menjaga kita semua dan segera mengangkat pandemi ini.

Allahumma Aamiin.

 

Saudaramu..

Fauzan al-Banjari

Banjarmasin, 18 Maret 2020

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *