oleh

Kejagung Blokir Aset Koruptor Jiwasraya  

Jakarta, TribunAsia.com – Kejaksaan Agung kembali mengajukan pemblokiran terhadap sejumlah aset yang dimiliki oleh tersangka dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Beberapa aset tersebut diketahui berupa bangunan yang pengajuan blokir tersebut akan diberikan kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan juga sejumlah kendaraan.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

“Tim Penyidik juga melakukan Pelacakan Aset berupa permohonan pemblokiran tanah, bangunan dan kendaraan bermotor,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Hari Setiyono melalui keterangan resmi, Kamis (5/3).

Lebih lanjut, Hari merinci terdapat enam tanah dan rumah di Jalan Mas Murni Blok D2 dan Blok D11, Jalan Puri Casablanca, Jalan Hang Jebat Raya, Jalan Denpasar Raya, dan Simprug Golf yang diajukan untuk pemblokiran. Seluruh aset itu berlokasi di Jakarta Selatan.

Kemudian, satu unit kamar di Apartemen Ambassade Residences, Karet Kuningan, Jakarta Selatan.

“STNK dan BPKB Kendaraan bermotor (Koordinasi) ke Kantor Korlantas Polri,” jelas Hari.

Pemblokiran aset-aset tersebut dilakukan oleh pihak penyidik karena diduga terkait dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh para tersangka dalam kasus Jiwasraya.

Nantinya, aset-aset yang telah diblokir tidak akan dapat diubahnamakan kembali oleh para tersangka. Apabila status aset tersebut sudah menjadi barang sitaan, maka aset akan digunakan sebagai alat bukti ataupun untuk mengembalikan kerugian negara.

Sejumlah aset milik tersangka sudah banyak yang disita. Kejaksaan memperkirakan sementara aset-aset sitaan tersebut dapat mengembalikan kerugian negara hingga Rp11 triliun.

Sementara itu, kerugian negara akibat tindak pidana korupsi tersebut ditaksir mencapai Rp17 triliun. Namun, pihak kejaksaan belum dapat memastikan lantaran masih menunggu hasil penghitungan dari Badan Pemeriksa Keuangan.

 

Kejagung : Jiwasraya Sengaja Dibobol

Kejaksaan Agung (Kejagung) menyatakan mulai mendapatkan titik terang atas penyelidikan kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah sudah berani memperkirakan angka yang bakal dirilis Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) dan menyebut Jiwasraya sengaja dibobol.

“[Sekitar 17 triliun?] Sekitar itu lah. Tapi komanya, angka komanya tunggu teman-teman BPK lah,” kata Febrie di Gedung Bundar Jampidsus Kejagung, Rabu (4/3/2020).

Ia memang enggan merinci berapa angka pasti yang akan dirilis. Namun, ia memastikan BPK sudah menemukan angka pasti tersebut. “Sudah-sudah (ada angka pasti),” katanya.

Kemarin, Selasa (3/3), Kejagung sudah melakukan sinkronisasi dengan BPK terkait tahap akhir perhitungan kerugian negara. Dari pertemuan ini, diselaraskan hasil temuan dari kedua institusi negara tersebut.

“Kita makin mantap lah, dari alat-alat bukti yang dihimpun penyidik dan teman-teman auditor (BPK). Makin mengerucut dan kita yakini bahwa memang Jiwasraya sudah direncanakan untuk dibobol,” sebut Febrie.

Maksud dari Febrie tersebut adalah, kasus Jiwasraya ini memang direncanakan untuk merugi. Diantaranya, beberapa saham yang awalnya dibeli dengan harga tinggi lalu kemudian jatuh. “Ini dilakukan tentunya yang sudah penyidik sudah sampaikan dari awal. Ini by design,” sebutnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *