oleh

Politik Kelabu Malaysia dan Kisah Operasi Senyap Jusuf Kalla

TribunAsia.com

Oleh : Hamid Awaluddin

Iklan 52 Khutbah Jum'at

POLITIK Malaysia hari-hari ini adalah politik kelabu. Penuh intrik dan intimidasi. Surplus dengan tipu daya dan muslihat. Defisit dalam akhlakul karimah.

Mahatir Mohamad malah menyebut dirinya dikhianati oleh Muhyiddin Yassin, yang kini tengah menjabat Perdana Menteri.

Sebelum itu, tokoh oposisi lain, Anwar Ibrahim, merasa dirinya ditipu dan dihianati oleh Mahathir Mohamad.

Praktik politik di Malaysia hari-hari dan pekan-pekan terakhir adalah pengukuhan ajaran Machiavelli, tujuan menghalalkan segala cara (end justifies the means).

 

Permufakatan Mahathir dan Anwar

Pangkal kekisruhan diawali oleh permufakatan antara Mahatir Mohamad dan Anwar Ibrahim dua tahun silam. Dua seteru itu tiba-tiba menyatu mendirikan partai koalisi untuk menggempur Najib Razak dan mendongkelnya. Sukses gemilang.

Mahathir jadi Perdana Menteri lagi dan mengangkat Wan Azizah, isteri Anwar Ibrahim sebagai Timbalan Perdana Menteri.

Mahatir Mohamad meyakinkan Anwar Ibrahim bahwa ia hanya menduduki jabatan itu dua tahun. Tongkat kepemimpinan Malaysia akan diserahkan ke Anwar Ibrahim setelah dua tahun berlalu.

Saya masih ingat, Jusuf Kalla mengingatkan Anwar Ibrahim ketika itu.

Apa betul permufakatan Anda dengan Mahatir sudah ditimbang-timbang? Bukankah Mahathir yang mengakhiri karier politik Anda dan memenjarakanmu, begitu Jusuf Kalla menasihati Anwar Ibrahim.

“Itu yang lalu Pak Jusuf. Insya Allah, Mahatir Mohamad akan memenuhi janjinya,” jawab Anwar ke Jusuf Kalla.

Sebelum dua tahun masa kepemimpinan Mahatir berakhir, Anwar sudah melakukan berbagai gerakan tagih janji.

Mahatir dengan pengalaman jam terbang politik yang begitu lama, mengambil sebuah gerakan politik spektakuler.

Ia mengundurkan diri dan mendemisionerkan kabinetnya sendiri. Pengunduran dirinya diterima oleh Raja.

Tujuan politik Mahatir sangat jelas. Ia ingin meneruskan kekuasaannya dan tidak ingin ditagih oleh Anwar Ibrahim.

Asumsinya, setelah mengundurkan diri, ia kembali dipilih oleh Parlemen Malaysia. Maka, segala hal ihwal yang berkaitan dengan komitmen, janji atau perikatan politik antara dirinya dengan Anwar Ibrahim, putus secara otomatis.

Mahatir melanggengkan kekuasaan. Bill tagihan dari Anwar Ibrahim tinggal disobek begitu saja.

Menyaksikan itu, Awar Ibrahim mulai meradang.

“Mahatir Muhammad mengkhianati saya,” katanya.

Kehendak Yang Kuasa berkata lain. Muhyiddin Yassin melakukan gerakan politik, menggembosi suara Mahatir Muhammad di parlemen. Lalu, ia sendiri mengumpulkan suara-suara Mahatir Muhammad itu menjadi miliknya.

Raja pun menolak mengangkat Mahatir Muhammad. Maka, jadilah Muhyiddin Yassin sebagai Perdana Menteri.

Mahatir Muhammad gigit jari. Anwar Ibrahim tinggal mengenang harapan-harapan indah.

Di sini berlaku peribahasa: Siapa yang menabur angin, dia akan menuai badai. Mahatir Muhammad dan Anwar Ibrahim menuai badai itu.

 

Operasi senyap JK

Menyaksikan politik Malaysia tersebut, saya pun teringat kejadian di tahun 2013.

Saat itu, dua seteru, Najib Razak dan Anwar Ibrahim saling berhadap-hadapan untuk memperebutkan kursi Perdana Menteri, yang ketika itu sedang dijabat oleh Najib Razak.

Kampanye hitam kedua belah pihak tak terelakkan. Keduanya saling menohok.

Keduanya membujuk Jusuf Kalla (JK) untuk memediasi mereka untuk tidak saling menghabisi. Mereka percaya, Jusuf Kalla tidak akan memihak karena keduanya adalah sahabat dekat JK.

JK pun bergerak cepat. Saat itu adalah bulan puasa. JK dan saya bolak balik antara Jakarta dan Kuala Lumpur. Tinggalkan Jakarta usai buka puasa dan balik lagi ke Jakarta usai makan sahur di Kula Lumpur.

Semuanya dilakukan dengan prinsip operasi senyap. Tidak ada yang tahu.

JK menemukan formula jitu: harus ada power sharing. Siapa pun yang menang, maka yang kalah harus mengakuinya. Yang menang akan memilih yang kalah sebagai Timbalan Perdana Menteri.

Saya bersama Professor Yusril Ihza Mahendra membuat draft perjanjian politik tersebut, di suatu malam di Hotel Sheraton, Kuala Lumpur.

Begitu membaca draft perjanjian, Anwar Ibrahim senyum tersipu-sipu, langsung menerimanya. Dengan ucapan Bismillah, di depan JK, saya, dan Professor Yusril Ihza Mahendra, Anwar Ibrahim menorehkan tanda tangannya. JK langsung memeluknya.

Di malam itu juga, JK, saya, Yusril Ihza Mahendra menuju kediaman Najib Razak., membawa draft tersebut. Begitu membaca, Najib Razak pun langsung akur.

Hasil pemilu ternyata memihak ke Najib Razak. Anwar Ibrahim kalah. Namun, Anwar menolak hasil pemilu karena dianggap curang.

JK tidak bisa menerima sikap Anwar tersebut karena dianggap lari kesepakatan. Anwar membangun alibi. “Pendukung saya menolak, Pak,” kata dia kepada JK.

JK meninggikan suara. “Pemimpin itu tidak boleh diatur oleh pendukung. Pemimpin yang mengatur pendukung,” kata JK ke Anwar Ibrahim.

“Pak Jusuf, pada hari pemilu berlangsung, ada orang asing dari Bangladesh dan Sri Lanka masuk sebanyak 50 ribu orang. Mereka dimobilisasi oleh najib untuk mencoblos Najib,” Anwar Ibrahim tetap berkelit.

JK merespons Anwar dengan pemikiran logisnya.

“Anda tahu jumlah 50 ribu itu? Bila pesawat Boing 747 mengangkut 500 penumpang, maka harus ada seratus penerbangan Boing 747 hari itu mendarat di Malaysia. Logika Anda di mana? Lagian, bagaimana mereka mencoblos bila tidak bisa berbahasa Melayu? Mereka itu kan orang asing,” kata JK.

Najib masih memberi waktu beberapa hari sebelum mengumumkan kabinetnya. Anwar tetap menolak.

Beberapa waktu setelah itu, Anwar Ibrahim kembali masuk bui.

JK hanya mengatakan, “Nah, bila Anwar konsisten dengan kesepakatan, semua itu tidak perlu terjadi. Ia sudah jadi Timbalan Perdana Menteri dan sebentar lagi jadi Perdana Menteri.”

Dengan kisruh politik Malaysia kini, saya kira JK duduk santai menonton televisi sembari diam-diam berkata dalam hati, “Anwar, I told you. You pay so much price. I feel sorry for you.”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *