oleh

Pemicu Anarkis di AEON Mall Cakung, DPRD DKI Minta Polisi Selidiki AMDAL Pengembang JGC

Jakarta, TribunAsia.com – Kejadian anarkis di AEON Mall Cakung Jakarta Timur bukan tanpa alasan karena pemukiman disekitar pusat perbelanjaan itu terendam banjir. Namun demikian, dengan berdirinya bangunan megah yang berada di Kompleks Jakarta Garden City (JGC) disinyalir sebagai pemicu banjir.

“Jadi ada beberapa sisi yang kita lihat terkait kejadian AEON kemarin. Bahwa masyarakat melakukan tindakan anarkis itu bukan serta merta karena sakulasi kemarahan mereka bertahun-tahun setiap musim hujan mereka selalu banjir,” jelas Syahroni dari Fraksi PAN Dapil 4 kepada TribunAsia.com di Jakarta Timur, Jum’at (28/2/2020).

AEON Mall di Jakarta Garden City, Cakung, Jakarta Timur. (Foto : TribunAsia.com/Didi W)

Komisi D Bidang Pembangunan DPRD DKI Jakarta meminta pihak kepolisian untuk mengecek kembali Analisis Dampak Lingkungan/AMDAL di AEON Mall yang sempat digeruduk warga sekitar. Hampir nyaris setidaknya pemukiman warga yang terdapat di 4 RW itu mengeluhkan banjir berkepanjangan terlebih ketika hujan turun.

“Pertanyaannya JGC dibangun ini sudah melakukan Amdal atau belum ?. Sehingga dibangun, 4 RW terendam dan setelah dibangun banjir kemana-mana,” kata dia lagi.

Mediasi perihal keluhan warga tersebut pun tak kunjung membuahi hasil hingga akumulasi emosi memuncak hingga aksi anarkis tak terhindarkan di AEON Mall. Massa saat itu protes keras terhadap pengembang dan berujung pengerusakan fasilitas umum di JGC pada hari Selasa lalu (25/2).

“Persoalan mediasi juga tidak berjalan dan hal itu dilakukan akumulasinya. Saya juga bertemu dengan Pak Kapolres (Jaktim) yang saya katakan ke Pak Kapolres (Kombes Pol Arie Ardiansyah) harus bijak juga mengapa mereka melakukan demikian. (Harus) objektif, mengapa mereka melakukan demikian,” ungkap pria berbatik itu.

Kemudian, dia menyampaikan polisi harus bijak dalam menyikapi permasalahan tersebut. Menurut Syahroni, warga kerap menderita banjir dan pihak pengembang dinilai tidak memikirkan nasib warga sekitar.

Masih kata politisi PAN, polisi diharapkan menyelidiki juga kewajiban-kewajiban dari pengelola kawasan JGC terutama AMDAL. Jika telah memenuhi kewajiban itu.

Justru, bukan hanya anarkis saja yang ditindaklanjuti oleh polisi. Akan tetapi, dia meminta dampak lingkungan akibat pembangunan pun harus diselidiki.

“Mungkin Kapolres harus bisa menyelidiki lebih dalam dan dan kewajiban kewajiban pengembang itu sudah dijalankan atau belum sehingga banjir,” imbuhnya.

Dengan peristiwa itu, mendatang solusi bagi masyarakat terdampak banjir perlu di musyawarahkan dan membuat saluran pembuangan air ke Banjir Kanal Timur (BKT).

Hal yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan permasalah itu dibutuhkan pompa dan pintu air disekitar JGC. Upaya-upaya tersebut kata anggota DPRD DKI Jakarta itu bisa dilakukan bersama pihak pemerintah.

“Bagaimana tentunya kita mencari jalan keluar dan saya sudah meninjau salah satunya air harus dibuang ke BKT. Sebetulnya tidak sulit karena menembus 300-500 meter enggak pakai pembebasan tinggal bekerja sama dengan pemerintah itu bisa terlaksana,” tandasnya.

“Tinggal rembuk saja bagaimana membuat pompa sehingga tidak hanya membuat aliran ke BKT. Terkadang BKT itu lebih tinggi harus dibuat semacam stasiun jadi kalau kondisi normal itu air mengalir tapi saat di BKT airnya tinggi maka pintunya air ditutup dan itu harus dilakukan pemompaan supaya air bisa mengalir ke laut,” papar Roni. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *