oleh

Slamet Ma’arif : Korupsi Sekarang Lebih Dasyat Dibanding Zaman Orde Baru

Jakarta, TribunAsia.com – Slamet Ma’arif mengatakan diera Presiden Jokowi Widodo saat ini tindak pidana korupsi lebih dahsyat dibandingkan pemerintahan orde baru. Kemudian, diutarakan dia, korupsi di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ditemukan lebih banyak.

“Bersyukur kita hari ini hadir (aksi 212) punya rasa dan hati karena sekarang korupsi lebih dahsyat dari zaman orde baru,” kata Ketua Persaudaraan Alumni 212 di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta pada Jum’at (21/2/2020).

Iklan 52 Khutbah Jum'at
(Foto : TribunAsia.com/Didi W)

Ia menilai diera pemerintahan lalu korupsi dilakukan dibawah meja, akan tetapi saat ini korupsi lebih terbuka diatas meja dan merajalela. Lantas, akibat maraknya tindak pidana korupsi disebutkan Slamet Ma’arif negara Indonesia tengah bermasalah.

Untuk itu, aksi 212 menolak korupsi dan memberikan catatan terhadap Istana agar segera menyelesaikan permasalah korupsi di negeri ini.

“Sekarang ini banyak korupsi di BUMN berarti kalau banyak korupsi bermasalah negara ini. Mangkanya kita keistana untuk memberikan amanat sekarang korupsinya dengan meja-mejanya,” ungkapnya.

Maraknya kasus korupsi di Indonesia, dia menyatakan sikap melawan tindakan tersebut. Jika nantinya penguasa terlibat kasus korupsi Slamet Ma’arif menyerukan kepada massa aksi untuk melakukan revolusi.

“GNPI 212 menyatakan sikap melawan korupsi hari ini kita. Bahkan nanti penguasa yang terlibat kita menuntut revolusi siap melawan korupsi,” jelas Mujahidin 212 itu.

Diatas mobil komando dia menyampaikan tidak takut diancam dengan pelemparan batu yang sebelumnya sempat terjadi dirumahnya. Karena lantang menyuarakan korupsi, Slamet Ma’arif berpesan kepada peserta aksi untuk tidak takut menyuarakan aspirasinya perihal itu meskipun mendapat ancaman.

“Entar diancam lagi rumahnya dilempar batu. Jangan-jangan yang lempar batu kerumah saya pingsan nantinya,” sebut dia lagi.

Selain itu, Ahmad Sobri Lubis mengatakan muak mendengar kasus korupsi yang dapat menghancurkan negara. Terlebih, hutang Indonesia kian bertambah besar dan diperkirakan negara akan bubar.

(Foto : TribunAsia.com/Didi W)

“Kita muak berlomba lomba korupsi dampaknya besar sekali bukan menghancurkan desa, kabupaten, provinsi bahkan bisa bikin bangkrut suatu negara. Bisa bikin bubar negara ini belum seratus tahun negara ini ngutang terus,” tegasnya.

Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) juga mengungkapkan KPK saat ini tak sanggup menyelesaikan korupsi. Sobri pun menyampaikan korupsi yang melibatkan pentinggi partai PDI-P dipertanyakan.

Namun demikian, tidak hanya itu oknum-oknum penegak hukum yang terindikasi korupsi perlu diseret ke jalur hukum.

“Bahkan petugas utamanya KPK tak sanggup memberantas korupsi di PDIP dan juga dilakukan okeh aktor-aktor penegak hukum,” paparnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *