oleh

Transformasi FPI dan Revolusi Sosial

TribunAsia.com

Oleh : Dr. Syahganda Nainggolan (Sabang Merauke Circle)

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Jumat, 21/2 FPI (Front Pembela Islam) akan menggelar demo besar2an untuk melawan wabah korupsi yang semakin merajalela di Indonesia sejak kepemimpinan Jokowi. Pembobolan institusi keuangan, misalnya, di jaman Habibie berjumlah sebesar Ro. 400 Milyar, kasus “cessie” Bank Bali. Pembobolan jaman SBY naik tajam sebesar 6,7 Triliun. Kasus Bank Century. Nah, di jaman Jokowi ini naik menjadi 13 Triliun, kasus Jiwasraya. Ditambah Asabri akan menjadi Rp. 25 Triliun. Semua ini berujunga pada sebuah skandal politik. Karena pembobolan itu terkait kekuasaan. Bahkan, Soesilo Bambang Yudhoyono menantang rezim Jokowi dan DPR membongkar keterkaitan pembobolan Jiwasraya dengan pendanaan pilpres 2019.

Ini adalah gerakan pertama FPI dalam tema strategis di luar urusan keagamaan an sich. Atau dengan kata lain, perjuangan Islam memang dikatakan strategis kalau perjuangan itu sudah masuk kepada tema2 struktural, menyangkut nasib rakyat yang dihancurkan melalui agenda kekuasaan.

 

Transformasi FPI

Beberapa bulan lalu ketika saya di panel dengan Rocky Gerung (RG), di acara talk show Rahma Sarita, saya kaget dengan statement RG. Katanya, dia dulu paling benci lihat FPI dan Munarman. Dulu, di mata RG, FPI hanyalah preman berjubah. Namun, RG mengatakan bahwa FPI saat ini sungguh luar biasa, karena FPI, dimata Rocky, telah mengambil peran yang sangat positif, sebagai pembela rakyat.

Beberapa hari lalu, hal senada kita lihat dalam berita yang menyajikan pandangan Rizal Ramli. Rizal sangat kagum ketika menjadi pembicara pada acara yang diadakan FPI (bersama GNPF dan Alumni 212) tentang BPJS (Badan Pelaksana Jaminan Sosial). Menurutnya, dia tidak membayangkan FPI dan kelompok2 Islam militan ini konsern pada isu strategis seperti kenaikan iuran BPJS yang menyakitkan rakyat.

Bagi Rizal Ramli dan Rocky Gerung, tokoh sekuler yang di masa lalu alergi dengan FPI, pengapresiasian mereka terhadap FPI bisa dimaknai dengan terjadinya transformasi FPI, menjadi organisasi yang lebih dewasa dan bertanggung jawab. Namun, sebenarnya di sisi lain kita bisa juga melihat bahwa baik Rizal Ramli maupun RG, mungkin juga bertransformasi ke arah pemahaman yang utuh tentang pergerakan Islam. Kedua hal di atas, apapun faktanya, perlu diteliti dan di apresiasi.

Pergerakan Islam maupun pergerakan ideologis lainnya memang ditahap awal membutuhkan doktrin tunggal kepada pengikutnya. Hal ini penting untuk menjaga pertumbuhan awal organisasi agar tidak disusupi pemikiran lain yang merusak maupun pembelokan arah gerakan. Dengan itu kita melihat sejak berdirinya FPI tahun 1998 sampai tahun 2014, tema2 perjuangan FPI masih fokus pada isu “sektarianisme” seperti anti maksiat, anti Syiah, anti Ahmadiyah, anti Komunis serta fokus melindungi diri dengan ajaran Ahlussunnah Waljamaah (versi Habaib).

Pada tahun 2015, khususnya sejak aksi Parade Tauhid, bulan Juni, FPI masuk pada agenda kekuasaan (power). Pada tahun yang sama, bulan Desember, pada aksi 4/11 dan 2/12, gerakan FPI total berkembang pada isu kekuasaan. Isu kekuasaan maksudnya adalah FPI secara terbuka menentang kekuasaan yang sedang eksis, yakni kekuasaan Jokowi. Bahkan, pada tahun 2017, FPI berhasil mendongkel Ahok dari kekuasaannya di Jakarta. Padahal Ahok di dukung penuh oleh semua kekuasaan rezim Jokowi.

Setelah masuk pada isu kekuasaan, FPI berkembang seiring dengan munculnya mazhab “Rizieqisme”, yang menggambarkan pergolakan pikiran dan ajaran Habib Rizieq tentang Ideologi Negara, Pancasila, pembelaan atas orang2 miskin, konsep negara syariah, dlsb. Dalam tulisan saya sebelumnya, Rizieqisme yang saya maksud mencakup ajaran HRS, yakni 1) perjuangan Islam adalah perjuangan keadilan sosial. 2) perjuangan harus diakar rumput. 3) Islam sebagai alat persatuan. 4) Radikal atau tidak mengenal kompromi. 5) Tanggung jawab sosial alias solidaritas.

Informasi Professor Sri Edi Swasono, Guru Besar ekonomi UI, yang juga menantu Proklamator Bung Hatta, ternyata HRS menguasai Pancasila jauh di atas rata2 elit nasional. Hal ini dikatakannya setelah Sayidiman, jenderal tertua yang masih hidup, bersama dia, berdiskusi soal Pancasila dengan HRs. Banyak hal yang luar biasa tentang konsep Pancasila dari HRS, melebihi pemahaman Jenderal Sayidiman dan Prof Sri Edi tersebut.

Kembali pada perubahan sikap Rocky pada FPI, memang kita melihat bahwa tranformasi telah terjadi pada FPI secara keseluruhan. Dengan agenda2 besar negara, seperti menolak merajalelanya korupsi di kubu rezim Jokowi, transformasi FPI telah menjadikan organisasi itu sebagai kekuatan “civil society” terdepan.

 

Revolusi Sosial

Sebuah perjuangan pada akar rumput selalu berarah pada revolusi sosial. Jean Jacques Rousseau, pemikir besar revolusi Prancis beberapa abad lalu, sebagaimana dikutip Wikipedia, berpikir bahwa “Rousseau posits that the original, deeply flawed Social Contract (i.e., that of Hobbes), which led to the modern state, was made at the suggestion of the rich and powerful, who tricked the general population into surrendering their liberties to them and instituted inequality as a fundamental feature of human society.” Intinya segelitir orang2 kaya dan penguasa curang telah memanipulasi masyarakat agar meraka terus bisa memperkaya diri dan agar percaya ketimpangan sosial merupakan kewajaran.

Pembebasan manusia dari cengkraman “kontrak sosial” palsu, yang menghancurkan peradaban, menurut Rousseau adalah keharusan. Manusia adalah makhluk mulia yang dipasung sistem kekuasaan masyarakat jahat. Ajaran Rousseau tentang sebuah kontrak sosial baru yang berisi kebebasan dan persamaan derajat semua manusia, telah mengantarkan revolusi di Prancis abad ke 18 dulu.

Rizieq di Indonesia dan FPI nya telah bertransformasi dari ajaran perjuangan ahlak dan baik buruk telah berkembang pesat menjadi ajaran revolusioner saat ini. Mereka telah mendorong adanya sebuah konsep sosial baru di mana keadilan harus diletakkan pada rakyat mayoritas., bukan segelintir taipan pengendali negeri alias sembilan naga. Pikiran dan ajaran ini bukan bukan perbenturan antara Pancasila vs. Islam, namun ini adalah pertentangan historik antara, yang disebut Jacques Rousseau tadi, “Kontrak Sosial Palsu” vs “Kontrak Sosial Sempurna”.

Keuntungan kelompok FPI dalam perjuangannya adalah pikiran mereka sejalan dengan cita-cita pendiri negara (founding fathers) bahwa negera dalam kontrak sosial adalah melindungi segenap tumpah darah dan menciptakan keadilan sosial secara total.

 

Penutup

Perubahan sikap yang dalam dari tokoh2 sekuler seperti Rocky Gerung dan Rizal Ramli terhadap eksistensi FPI terjadi belakangan ini. Mereka tidak lagi menganggap FPI sebagai preman bersorban. Mereka meyakini telah terjadi transformasi di mana FPI saat ini adalah organisasi perjuangan rakyat yang utama.

Memang, tanpa disadari, selama 5 tahun terkahir, FPI masuk pada perjuangan strategis dengan isu2 keadilan sosial, anti korupsi dan pemerintah yang baik. Basis argumentasi FPI dan khususnya Habib Rizieq, semakin lama semakin kuat dan komprehensip. Perjuangan yang dahulu terkenal sektarian, kini menjadi terbuka pada front nasional yang lebih luas.

Dalam agenda terbaru, FPI masuk pada kritik kenaikan iuran BPJS yang memberatkan rakyat. Sedangkan pada Jumat, 21/2, nanti FPI masuk pada agenda aksi anti korupsi (Jiwasraya, Asabri, dll). Sebuah agenda besar rakyat mengjancurkan kezaliman struktural.

Situasi ke depan Indonesia akan masuk pada tahun-tahun sulit, dengan kemunduran pembangunan ekonomi. Keploporan FPI dalam perjuangan rakyat mungkin akan disambut diseluruh pelosok negeri. Tinggal rakyat berharap sejauh apa perubahan sosial yang mampu tercipta.

Semoga ada kontrak sosial baru tentunya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *