oleh

Taman Penangkal Banjir

TribunAsia.com

Oleh : Tatak Ujiyati

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Pemprov DKI Jakarta berkomitmen menambah ruang terbuka hijau. Ada 200 taman yang rencananya dibangun sampai dengan tahun 2022. Yang menarik, taman yang akan dibangun ini punya multi fungsi. Satu, bisa dipakai untuk tempat aktivitas anak dan warga tentu saja. Sehingga gagasan RPTRA (ruang publik terbuka ramah anak) tetap dipertahankan. Dua, taman menjadi sumber supply oksigin dan penyerap polusi udara dengan banyak pohon yang ditanam. Dan Ketiga, yang terbaru, taman juga dipakai sebagai penangkal banjir dengan dibuatnya kolam retensi.

Di posting sebelumnya saya pernah cerita soal konsep zero run off ya. Dimana air hujan yang turun kita cegah jangan sampai keluar pagar rumah kita. Kita biarkan menggenang sementara, guna mencegah banjir di tempat yang lebih rendah. Nah taman-taman di Jakarta akan dipakai seperti itu. Sebagai kolam penampungan air hujan sementara, sehingga banjir bisa dicegah.

Konsep Zero run off ini, salah satu yang dipromosikan di Jakarta sebagai upaya pengurangan banjir dengan cara “naturalisasi”. Maka jika ada yang tanya mana bukti upaya naturalisasi ABW? Ya ini salah satu contohnya.

Namun kelihatannya banyak yang belum paham atas gagasan ini. Bahwa taman-taman di Jakarta mulai dikonsep dengan zero run off. Maka beberapa waktu lalu di twiter ada seorang warga yang menyuarakan penolakan atas pembangunan taman di daerah Kemang V. Alasannya sih bagus. Dia katakan bahwa Kemang adalah daerah banjir. Sehingga ia menyarankan agar dibangun embung ketimbang taman.

Jika mendengar bahwa taman bisa didisain sebagai penangkal banjir, saya yakin ia akan lega. Sebab taman dengan demikian, justru lebih banyak manfaatnya ketimbanh sekedar embung. Di musim hujan taman berubah menjadi kolam retensi pencegah banjir. Sementara di musim panas, taman bisa dipakai untuk bermain anak-anak.

Dan bukan tak mungkin aspirasinya itu terwujud, sebab taman-taman di Jakarta masa kini dibuat dengan melibatkan partisipasi warga. Arsiteknya akan melakukan diskusi dengan warga, dan bersama-sama merancang taman yang sesuai keinginan bersama. Maka itulah kenapa taman-taman itu disebut dengan Taman Maju Bersama. Taman yang dibuat bersama warga, demi kemajuan bersama.

Ini juga wajah baru Jakarta. Apa judul yang tepat untuk wajah baru Jakarta yang ini ya. Jakarta Hijau? Jakarta beratus Taman? Jakarta eco Friendly? Ada usul teman-teman?

 

Tatak Ujiyati

(catatan pagi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *