oleh

Tree Hugger Movement

TribunAsia.com ­-

Oleh : Farid Gaban

Senang melihat sikap kritis warga Jakarta dalam soal revitalisasi Monas.

Mereka memprotes penebangan 190 pohon; beberapa menyebutnya sebagai kejahatan lingkungan. Akibat protes, proyek itu dihentikan.

Kesadaran seperti ini layak diperluas dan dipertajam. Kesadaran itu mengingatkan saya pada “Tree Hugger Movement” yang marak di berbagai negara: kelompok pecinta lingkungan yang makin radikal.

Ada dari mereka secara harafiah mengikatkan diri pada pohon-pohon yang terancam ditebang, baik untuk kepentingan pemerintahan maupun bisnis, mencegah buldozer merangseknya.

Betul para pemrotes. Revitalisasi Monas tak boleh dilakukan semau-mau gubernur atau pemerintah kota. Bahkan jika akhirnya harus menebang pohon, revitalisasi Monas, yang cuma beberapa ratus meter persegi, menuntut kajian dampak lingkungan (AMDAL) secara serius.

Senang melihat sikap kritis warga kota dan negara. Mudah-mudahan itu juga berlaku untuk sejumlah proyek mercusuar Pemerintahan Jokowi, antara lain:

1. Proyek ibukota baru yang mengubah hutan alami jadi hutan beton ala Jakarta.

2. Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang menyulap kebun teh jadi kota.

3. Proyek jalan tol Trans Jawa dan Sumatra yang tak hanya menebang pohon tapi juga melancarkan eksploitasi hutan.

4. Proyek reklamasi teluk yang menghancurkan hutan mangrove di Jakarta dan Bali.

5. Proyek biofuel sawit yang akan potensial memperluas kebun sawit dengan mengorbankan hutan primer (kini merambah ke Papua, setelah hutan Sumatra dan Kalimantan habis).

Senang dan mendukung protes Revitalisasi Monas yang menebangi pohon. Ini harus dilanjutkan dengan protes terhadap rencana Pemerintahan Jokowi yang akan menerbitkan Omnibus Law: mengabaikan AMDAL demi investasi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *