oleh

Ada Dukungan Jadi Calon Wali Kota Depok, Sekda Hardiono: Hak Masyarakat

Depok, TribunAsia.com – Sekda Kota Depok Hardiono tak menampik ada sejumlah komunitas masyarakat yang mendorongnya untuk maju jadi kontestan di Pilkada Kota Depok 2020.

“Ya ada komunitas-komunitas yang mendorong saya. Mareka melakukan survei secara mandiri. Terimakasih. Saya senang bila masyarakat aktif peduli pada pilkada. Berarti masyarakat acuh pada proses sosial politik atau suksesi kepemimpinan kota,” jawab Hardiono mengenai namanya muncul dalam survei Center Social, Political, Economic, and Law Studies (Cespels) seperti dilaporkan TribunAsia.com, Senin (27/1/2020).

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Hardiono menilai, siapa saja dapat mendukung, mencalonkan, atau dicalonkan dalam pilkada harus sesuai dengan peraturan. Jika sebagai ASN, sebutnya, maka harus sudah menanggalkan status ASN-nya tatkala sudah diajukan sebagai bakal calon (balon) kepada KPU oleh partai politik.

Baru-baru ini, pada 16-19 Desember 2019, Cespels melakukan survei di Kota Depok mengenai tingkat kepuasan pembangunan warga dan harapan dan pilihan warga mengenai kriteria wali kota baru. Kemudian hasil survei ini jadikan oleh komunitas Masyarakat Madani Peduli Depok (Mama Pede) untuk gaed sosok pilihan yang diyakini mampu memimpin.

“Pendapat Mama Pede ini dari hasil survei. Bukannya dari perkiraan perasaan. Penilaian dan pilihan kami dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, akademis, dan metodelogis. Kami perhatikan, ada 60 lebih persen masyarakat yang menilai gagal visi Kota Depok Unggul, Nyaman, dan Religius. Sedangkan tingkat keterpilihan petahana Wali Muhammad Idris dan Wakil Wali Pradi Supriatna berada dikisaran 28 dan 21 persen,” ujar Ketua Mama Pede, Buyung Binasri.

Menarik adalah munculnya seorang birokrat yaitu Hardiono. Sedangkan di sisi lain ada 60 persen lebih responden memilih calon figur pemimpin baru. Dari temuan ini, Mama Pede menilai figur profesional yang pengalaman secara langsung tepat sekarang memimpin.

Bagi Hardiono hasil survei Cespels dan dukungan Mama Pede ialah model yang bagus bagi komunitas masyarakat yang berpartisipasi di pilkada, tidak menyatakan dukung-mendukung sekadar perkataan saja.

“Sarannya bagus. Bisa saya pedomani. Ini adalah kebutuhan masyarakat. Tidak mungkin seseorang jadi pemimpin tanpa dukungan masyarakat. Itu yang harus dipahami. Tidak ada dukungan masyarakat. Bagaimana mau jadi. Kalau ada peluang, Bismillah,” sebut Hardiono.

Hardiono apreasiatif terhadap inisiatif Mama Pede ini. Dia mengaku terkejut dengan survei dan dukungan tersebut. Sebagai bentuk apresiasi dan kepedulian terhadap kota tempatnya berkarier, bila mendapat dukungan masyarakat dan partai politik, mantan Kepala Bappeda ini bersedia mengabdi dan melayani warga untuk membangun Kota Depok.

Buyung Binasri sebut, awalnya, munculnya sosok Hardiono di dalam survei Cespels ini diluar perkiraannya. “Setelah melihat hasil survei inilah, muncul ide kami untuk menyampaikan kepada Pak Sekda lantaran dia yang figur senior di birokrasi pemkot. Semoga saja ada parpol yang mau kasi tiket untuknya,” jelasnya.

adapun tokoh baru yang menonjol dari persentase faktor popularitasnya yaitu artis Alya Rohali (24,6), politisi PKS Imam Budi Hartono (18,7), Hardiono (8,0), politisi PPP Qonita Luthfiyah (7,5), dan pegiat pendidikan Acep Azhari (7,5). (Isnn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *