oleh

Prof Dr Hasyim Djalal : RRC Ingin Dukungan RI Hadapi AS

Jakarta, TribunAsia.com – Perebutan Zona Ekonomi Exclusip (ZEE) 200 mil laut di Natuna Utara antara RRC dan RI hingga akhir zaman tidak akan selesai. Setiap negara akan mempertahankan wilayahnya sampai titik darah terakhir.

Isu China mengklaim Perairan Natuna mengemuka. Peta Nine Dash Line atau 9 Garis Putus-putus China beririsan dengan perairan Natuna.

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Kini, masyarakat Indonesia mengenal China menggunakan dasar 9 Garis Putus-putus (Nine Dash Line) sebagai batas Laut China Selatan. Ujung dari 9 Garis Putus-putus itu menabrak Natuna, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

Sebenarnya, istilah 9 Garis Putus-putus lebih akrab digunakan oleh publik internasional ketimbang publik dalam negeri China. Dilansir Time, Rabu (15/1/2020), media-media China sendiri jarang menggunakan istilah itu. Dalam sejarahnya, China bahkan menyebut garis imajiner itu sebagai 11 Garis Putus-putus. Demikian pernyataan Hasyim Djalal dan Prof Hikmahanto (Pakar Hukum Internasional di Jakarta Selatan, Senin (13/1/2020).

Terpisah, Seorang jurnalis dan penulis buku pembuatan peta Laut China Selatan dari Chatam House, The Royal Institute of International Affairs, bernama Bill Hayton. Karyanya berjudul ‘The Modern Origins of China’s South China Sea Claims: Maps, Misunderstandings, and the Maritime Geobody’, dimuat dalam jurnal Modern China, Sage Journals, tahun 2018 Bill Hayton sendiri lebih sering menggunakan istilah ‘Garis U’ untuk menyebut 9 Garis Putus-putus itu.

9 Garis Putus-putus memang berbentuk huruf U, berawal dari selatan daratan China dan berujung di kawasan Natuna, melintasi lautan di antara Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, dan Malaysia. (mahdi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *