oleh

Jan Koum CEO WhatsApp, dari Tukang Sapu Jadi Miliarder

TribunAsia.com

(Kisah Di Balik Sebuah Produk 13)

Iklan 52 Khutbah Jum'at

Pada 1992, Jan Koum berusia 16 thn tiba di Mountain View, USA. Bersama ibunya, Koum adalah imigran yg memutuskan pindah dari Kiev, Ukraina, dgn mimpi meraih kehidupan yg lebih baik.

Di AS, mereka mengalami masa² sulit. Keluarga Koum tinggal di apartemen kecil hasil bantuan pemerintah. Mereka terpaksa bergantung pada jaminan sosial & mengantre kupon makanan krn tak punya uang.

Koum pun bekerja sbg tukang sapu di sebuah toko untuk memenuhi kebutuhan hidup, sementara ibunya mengambil profesi baru sbg baby sitter.

Di Amerika & mulai bersekolah di sana, keluarga Koum adalah satu²nya di kelas yg tdk memiliki mobil. Jadilah Koum terpaksa bangun lebih pagi untuk mengejar bus.

Koum kmdn masuk kuliah, mempelajari ilmu komputer & matematika, ttp tdk sampai selesai. “Prestasi saya buruk, ditambah lagi dgn rasa bosan.”

Maka, dia pun memutuskan drop out, lalu mulai bekerja sbg pembungkus barang belanjaan di supermarket, setelah itu di toko elektronik, internet provider, hingga perusahaan audit. Sampai kmdn pada 1997 Koum bertemu dgn Brian Acton dari Yahoo. Akhirnya Koum mulai bekerja di Yahoo.

Koum menjalin persahabatan dgn Acton, yg banyak membantu Koum ketika sempat hidup sebatang kara setelah ibunya meninggal pada tahun 2000. Sang ayah yg masih di Ukraina telah lebih dulu wafat pada 1997. “Dia (Acton) sering mengajak saya ke rumahnya,” tutur Koum.

Menghabiskan 9 thn bekerja di Yahoo, Koum merasa tdk nyaman dgn banyaknya iklan yg hrs diurus & bertebaran di mana².

Acton rupanya merasakan hal serupa. Koum & Acton kmdn memutuskan keluar dari Yahoo pada hari yg sama, yaitu 31 Okt 2007. Koum ketika itu berusia 31 thn & telah mengumpulkan uang untuk memulai bisnisnya sendiri. Dia bertekad bahwa bisnisnya ini tak akan direcoki oleh iklan yg mengganggu.

Koum & Acton pisah jalan, tetapi masih sering bertemu untuk mendiskusikan rencana bisnis. Keduanya sempat mencoba melamar di Facebook & sama² ditolak.

Pada 2009, setelah membeli sebuah iPhone, Koum mendpt ide untuk membuat aplikasi yg bisa menampilkan update status seseorg di daftar kontak ponsel.

Nama yg muncul di benak Koum adalah WhatsApp krn terdengar mirip dgn kalimat what’s up yg biasa dipakai untuk menanyakan kabar. Pada 24 Feb 2009, dia mendirikan perusahaan WhatsApp Inc di California.

WhatsApp versi pertama benar² dipakai sekadar untuk update status di ponsel. Pemakainya kebanyakan hanya teman² Koum dari Rusia. “Lalu, pada suatu ketika, ia berubah fungsi jadi aplikasi pesan instan. Kami mulai memakainya untuk menanyakan kabar masing² & menjawabnya,”

Koum pun tersadar bhw dia secara tak sengaja telah menciptakan layanan pengiriman pesan. “Bisa berkirim pesan ke org di belahan dunia lain secara instan, dgn perangkat yg selalu Anda bawa, adalah hal yg luar biasa,” kata Koum.

Ketika itu, satu²nya layanan messaging gratis lain yg tersedia adalah BlackBerry Messenger. Namun, aplikasi ini hanya bisa digunakan di ponsel BlackBerry. Google G-Talk dan Skype juga ada, tetapi WhatsApp menawarkan keunikan tersendiri.

Jumlah pengguna aktifnya langsung melonjak jadi 250.000 org. Dia kmdn menemui Acton yg masih menganggur. Acton bargabung dgn WhatsApp & membantu mencarikan modal dari teman² eks-Yahoo.

Kini, WhatsApp telah menjelma jadi layanan pesan instan terbesar dgn jumlah pengguna aktif per bulan mencapai 450 juta. Setiap hari, sebanyak 18 miliar pesan dikirim melalui jaringannya. Semua itu ditangani dgn jumlah karyawan hanya 50 org saja.

Kini, WhatsApp telah dibeli Facebook dgn nilai 19 miliar USD (sekitar Rp 223 triliun). Kekayaan Koum yg memiliki 45 persen saham WhatsApp diperkirakan melonjak jadi 6,8 miliar USD.

Kendati dmkn, dia tak melupakan masa lalu. Koum menandatangani perjanjian bernilai triliunan rupiah dgn Facebook itu di depan bekas kantor Dinas Sosial North County, Mountain View, tempat dia dulu mengantre kupon makanan bersama² warga kurang mampu lainnya.

Ia menyandarkan kepalanya ke dinding tempat ia dulu antri. Mengenang saat bhk untuk makan ia tdk punya uang. Pelan² matanya meleleh. Ia tak pernah menyangka perusahaannya dibeli oleh Facebook (perusahaan yg pernah menolak lamaran kerjanya) dgn harga Rp 223 triliun!!!

Ia lalu terkenang ibunya yg sdh meninggal (krn kanker). Ibunya yg rela menjahit baju agar dia menghemat.

“Tak ada uang, nak…!” ia teringat kalimat ibunya.

“Di tempat ini, nasib hidup saya pernah dipertaruhkan…”, begitu Jan Koum berbisik dlm hati.

Remaja miskin yg dahulu hanya makan dari jatah yg diberikan pemerintah itu kini menjadi salah satu miliarder di Dunia.

Sobatku …

Cerita hidup Jan Koum akan berbeda sekali kalau umpamanya waktu itu dia & Acton diterima bekerja di Facebook. Justru ketika Koum tdk diterima Facebook, dia membuat WA yg kita pakai skrg ini. Yg akhirnya WA dibeli Facebook dgn nilai yg fantastis.

Ini namanya blessing in disguise, UNTUNG dibalik peristiwa BUNTUNG.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *