oleh

Cari Calon Walkot Baru Melalui Survei CESPELS Mama Pede Serahkan Hasil ke Sekda Kota Depok

Depok, TribunAsia.com – Peraturan KPU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2019 tentang Tahapan, Program dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati dan/atau Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tahun tahun 2020, bahwa tahapan sudah dimulai.

Selanjutnya, Kata Ketua KPU Kota Depok Nana Sobarna, ta pihaknya juga sudah mengumumkan penyerahan dukungan Bakal Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota sudah mulai dapat diserahkan kepai pada tanggal 19 Februari 2020. Sedangkan pendaftaran calon oleh Partai Politik pada Tanggal 16-18 Juni dengan penetapan calon 8 Juli.

Menyikapi perhelatan suksesi demokrasi ini, antusiasme Warga Kota Depok mulai menggeliat. Seperti yang dilakukan Komunitas Masyarakat Madani Peduli Depo (Mama Pede). Disebutkan pegagas Mama Pede, Buyung Binasri melakukan survei bersama Center Social, Political, Economic, Laws Studies (CESPELS) Ubedilah Badrun.

“Tujuannya untuk melihat secara objektif dan akademis keinginan dari warga kota. Nah dari tanggal 16 – 19 kami melakukan survei pada pemahaman warga di bidang politik dan pembangunan, seperti di sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pekerjaan, untuk mengetahui sikap warga, ” ujar Buyung. Senin (13/1/2020).

Paparnya, dari riset tersebut, terpetakan bahwa ada 68,2 persen masyarakat berpendapat kewalian Kota Depok gagal melaksanakan visinya yang Unggul, Nyama, dan Religius. Kemudian ada 50.4 persen warga responden yang menginginkan pemimpin baru. Dari pilihan calon pemimpin baru ini muncul tiga belas figur.

Dari 13 figur ini muncul nama pejabat Sekda Kota Depok Hardino di antara politisi PKS Imam Budi Hartono dan Politisi PPP Qonita Luthfiyah dengan masing masing perolehan persentase 18,7, 8,0, dan 7,5.

“Nah, dengan melihat munculnya nama Pak Hardiono, kami jadi tertarik untuk mendukung dia, semoga saja partai politik dapat melihat keinginan masyarakat. Mengapa Pak Har, sebab beliau adalah figur birokrasi profesional yang mengerti manajemen pembangunan kota. Belum semua pejabat sekda juga bagus. Tapi, dari pengamatan kami Pak Har bisa berhasil seperti sosok Tri Rismaharini, dari seorang ASN yang berhasil dan sukses sebagai Wali Kota Surabaya,” ulas Buyung.

Tegas, Buyung setelah mendapat hasil survei CESPELS inilah, Mama Pede berani serahkan pendukungannya kepada Hardiono. Dia berharap, selama 20 tahun Kota Depok berdiri mendapat kesempatan kepada figur ASN yang profesional. Sebelum menjabat Sekda, Hardiono adalah Kepada Bappeda Kota Depok.

“Dari pengamatan kami di masyarakat dan media massa, Hardiono mendapat penilaian yang bagus, tidak ada yang negatif. Jauh dari aktivitas politik. Tapi coba perhatikan, tapi mendapat perhatian dari masyarakat dari hasil survei tersebut. Bersanding dengan politisi yang memang sudah popular karena sudah kampanye dan jadi legislator berkali-kali. Biarlah mereka jadi politisi yang ahli dibidang politik sedang pembangunan, birokrasi, dan pemerintahan diberikan kepada yang berpengalaman,” sebutnya.

Hari Senin (13/1), Mam Pede nekat menyerahkan hasil survei CESPELS ini kepada Hardiono sekaligus menyampaikan dukungannya.

“Saya surprise juga diberikan hasil survei ini dan mereka mendukung. Saya apresiasi. Baru ini saya melihat ada pendukungan kepada seseorang figur untuk maju di pilkada dengan terlebih dahulu mareka survei, riset mandiri. Jadi tidak asal main perasaan dan ngomong aja dukung. Ini model cerdas dapat dipertanggungjawabkan secara akademis,” jelas Hardiono.

Hardiono menyambut baik dukungan dari Mama Pede, sebab setiap pribadi atau komunitas punya hak konstitusional untuk, mengusung, mendukung, dan memilih pemimpin dalam demokrasi.

“Ini bukan hasil dari saya pribadi. Saya sendiri yang publikasi. Tapi yang bicara adalah oleh komunitas masyarakat. Tidak mungkin orang jadi memimpin tanpa didukung masyarakat. Mudah mudahan semua awal yang baik ini, dapat menghasilkan yang baik,” harap Hardiono.

Diakui, dirinya sadar dengan statusnya sebagai ASN birokrat yang terikat dengan peraturan perundangan. Maka, walaupun tidak menampik sebagai penghormatannya kepada demokrasi, Hardiono sangat berhati-hati.

“Ada parpol yang tawarkan untuk jadi punya kartu anggota atau ikut konvensi. Semua saya hargai dan saya berterima kasih sebab saya dinilai layak untuk jadi calon kontestan pilkada. Tahapan masih berproses,” jawabnya.

Pantauan, dari hasil survei CESPELS 16-19 Desember 2019 ini, dari hasil popularitas, dari 15 figur calon pemimpin yang timbul, patahan yaitu Wali Muhammad Idris dan wakilnya, Pradi Supriatna beroleh 28 an 21,8 persen, diikuti posisi Alya Rohali, Qonita, Imam Budi Hartono, Hendrik Tangke Allo, Hasbullah Rahmat, Farabi al Fouz, Hardiono, Acep Azhari, Habib M Reza, Farida Rahmawati, Supariono, Amri Yusra, dan M Hafid Nasir.

Dari 15 Figur ini, lima figur yang masuk adalah politisi kader yang unggul dalam Pemilihan Raya (Pemira) internal PKS Kota Depok.

“Kalau mengamati hasil survei ini, harus menjadi peringatan bagi petahana. Dan juga selain itu bagi PKS, sebab kadernya yang diseleksi melalui pemira juga kurang mendapat perhatian dari warga yang disurvei,” ujar Direktur Konsultasi dan Kerjasama CESPELS Fuad Adnan. (Hira)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *