oleh

Belajar dari Lukmanul Hakim

TribunAsia.com

Di antara 114 surah dalam Alquran, ada beberapa yang menggunakan nama nabi atau rasul. Contohnya, Surah Muhammad, Surah Yusuf, ataupun Surah Yunus. Namun, ada satu surah yang menggunakan nama orang, yaitu surat ke-31, Lukman. Salah satu tokoh dunia yang terus dikenang sepanjang zaman, seorang yang berkulit hitam, berbibir tebal, dan bertelapak kaki lebar. Ia seorang budak. Namun, dengan keterbatasan fisik dan status sosialnya itu, ia justru berhasil menembus waktu hingga era yang tak terperi.

Meski sejumlah ulama masih memiliki perbedaan pandangan soal siapa dan dari mana Lukmanul Hakim, para ulama percaya, Lukman adalah orang yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT berupa hikmah. Baik dalam aspek kedalaman ilmu maupun nilai-nilai kebaikan dan keimanan. Hal ini seperti tercantum dalam Surah Lukman ayat 12, ”Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman.”

Selain itu, Lukman juga dikenal sebagai sosok seorang ayah yang banyak memberikan nasihat kepada anaknya. Nasihat-nasihat ini seperti yang tertuang dalam penjelasan di Surah Lukman, mulai nasihat untuk tidak menyekutukan Allah SWT hingga nasihat untuk tidak sombong dan memperlunak tuturan. Ketika tidur dan begitu bangun, kata-katanya sarat dengan hikmah. Kata-kata bijak Lukman sungguh menyentak kesadaran banyak orang, meluluhkan, melembutkan hati yang keras, menjadikan orang rendah hati, dan sejatinya bisa menjadikan orang merunduk dan makin khusyuk di hadapan Allah SWT.

Kendati begitu, dalam khazanah keilmuan agama Islam, nama Lukman juga dikenal memberikan berbagai nasihat bijak kepada anaknya dalam mengarungi hidup. Salah satunya yang paling terkenal adalah nasihat Lukman kepada anaknya yang berbunyi, ”Wahai anakku, sesungguhnya dunia ini adalah lautan yang dalam, banyak orang yang tenggelam di sana. Maka, buatlah perahumu berupa takwa kepada Allah, isinya iman kepada Allah, dan dayungnya adalah tawakal kepada Allah. Semoga kamu selamat.”

Dalam banyak riwayat, biasanya pesan-pesan luhur itu dituturkan melalui nasihat kepada buah hatinya. Contoh yang lain seperti ujaran berikut, “Duhai anakku, tinggalkanlah sifat sombong, takabur, dan bangga diri, karena ketahuilah bahwa engkau akan menjadi penghuni kubur. Karena engkau akan bertetangga dengan iblis di kampungnya. Ketahuilah, barang siapa yang bertetangga dengan iblis maka ia akan jatuh ke dalam kampung kehinaan, yang tidak mati sekaligus tidak hidup.”

“Duhai anakku, neraka wail bagi orang yang sombong dan takabur, karena bagaimana mungkin orang yang terbuat dari tanah itu berlaku sombong? Padahal, ia juga bakal kembali ke tanah dan dia tak tahu apakah akan kembali ke surga sehingga dia meraih kemenangan sejati, atau justru kembali ke neraka sehingga dia mengalami kerugian dan kegagalan yang sesungguhnya. Bagai mana mungkin juga orang bisa sombong dan takabur, padahal (kelahirannya di dunia) melalui aliran air kencing sebanyak dua kali.”

“Duhai anakku, bagaimana manusia bisa tidur lelap, sedang kematian terus mengintai dan mencarinya? Bagaimana ia bisa lalai, sementara kematian tak akan lalai darinya. Duhai anakku, orang-orang pilihan, kekasih dan Nabi Allah pun wafat. Apakah orang-orang selain mereka terus abadi dan dibiarkan hidup selamanya? Duhai anakku, janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong dan angkuh karena engkau tak akan pernah bisa menembus bumi dan tak akan pernah bisa sampai setinggi gunung.”

“Duhai anakku, setiap hari datang kepadamu hari yang baru, yang akan menjadi saksi bagimu di hadapan Rabb Yang Maha Mulia.” Kata hikmah dan bijak bestari ini tentu tidak hanya monopoli Lukman, tetapi juga Allah SWT susupkan untuk segenap hamba-Nya yang berkomitmen dengan adab Islam. Karena ia adalah buah dari amal.

Kata pepatah Arab, ‘al-jaza min jinsil amal’ (balasan seusai dengan amal perbuatan). Lukman sendiri berucap, “Hai saudaraku, jika engkau mau mendengarkan apa yang kukatakan padamu, tentu kamu pun bisa seperti diriku.”

Tentang amalnya, ia bertutur, “Aku selalu menundukkan pandanganku (dari hal-hal yang diharamkan), lisanku selalu kujaga, makananku selalu bersih, kemaluanku selalu kupelihara, ucapanku selalu jujur, janjiku selalu kutepati, tamu-tamuku selalu kumuliakan, tetanggaku selalu kuhormati, dan aku tidak pernah melakukan hal-hal yang tiada guna bagiku. Itulah amal yang mengantarkan diriku hingga sampai ke kedudukanku seperti yang engkau lihat sekarang.”

Wallahu a’lam bishshawwab

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *