oleh

Suami Istri Tipu Jama’ah Umroh, Terdakwa: Sudah Berangkatkan 900 Orang

Jakarta, TribunAsia.com – Arfiah mengaku, uang calon jama’ah itu disetorkan melalui tangan Zesfy. Bahkan, bukti pembayaran dan sertifikat telah dimiliki oleh agen perjalanan. Akan tetapi, dia sendiri tidak melengkapi surat izin travel.

Penipuan perjalanan haji dan umroh telan uang calon jama’ah sebesar Rp 10 miliar lebih. Arfiah Agustina Sari bersama suaminya Gilang Sujatmiko kini berstatus Terdakwa di PN Jaktim.

“Kurang lebih dari 10 M (miliar) itu semuanya global, karena dia juga menyetor syarat-syaratnya sebagian. Didalam surat pernyataan itu, dia (Zesfy) sudah punya donatur,” ungkap Arfiah dimuka persidangan, Selasa (10/12/2019).

Ia menambahkan, uang biaya perjalanan haji maupun umrah disetorkan langsung oleh Zesfy ke donatur. Lantas, Terdakwa juga menyebutkan awal perkenalan dengan sosok Zesfy sejak tahun 2012-2017 lalu. Perkara penipuan itu terdaftar pada Nomor Perkara 1131/Pid.B/2019/PN Jkt.Tim .

Namun, untuk biaya umroh dikenakan kepada calon jama’ah dijelaskan Terdakwa mulai dari harga Rp 18 juta hingga Rp 25 juta dan selain itu perjalanan pun ada juga yang ke Turkey. Kata dia, dalam agenda pemeriksaan tercatat 900 orang telah di berangkatkan dan mendapatkan peralatan umroh.

“Sudah 900 orang. Ada semua wisata juga yang diberangkatkan, sebagai umroh itu dibagikan peralatan. Gilang (suami terdakwa) sebagai pendamping itu saja, kadang travel juga ada pendamping,” ujar Arfiah lagi.

Para korban kepincut iming-iming biaya haji dan umroh oleh Terdakwa dengan biaya ringan, sebab ongkos perjalanan tersebut telah mendapat subsidi.

Sejauh itu, diutarakan Terdakwa, “Saya menerima kwitansi (pembayaran) dan nama-nama orang bukan uangnya. Rekayasa travel untuk visa itu sendiri bisa dirubah-rubah dalam dua minggu. Sejumlah nama karena manifes yang punya agen,” kata dia lagi.

Sementara, JPU perkara penipuan perjalanan haji dan umroh ditangani penuntut umum Yan Ervina, SH dari Kejati DKI Jakarta. Kala itu, Teguh Suharyanto ,SH dari Kejari Jaktim sebagai JPU pengganti mengatakan kepada Terdakwa perihal dana umroh tersebut.

“Yang mengumpulkan dana itu siapa, tahun berapa,” tanya dia.

Majelis Hakim PN Jaktim yang menangani perkara itu dipimpin oleh Dwi Dayanto, SH., MH dengan didampingi Ninik Anggraini, SH., MH dan Antonius Simbolon, SH., MH.

Ketika pemeriksaan, Dwi sempat mempertanyakan perihal izin dan sistem pembayaran umroh dibawah harga standar. Kemudian, dia meminta keterangan Arfiah calon jama’ah umroh direkrut untuk tahun mendatang.

“Kan yang namanya punya izin, kan saudara nggak punya izin setelah bayar dibawah standar. Apakah anda merekrut calon jama’ah tahun 2025,” kata majelis.

Menurut Ninik, sebelumnya saksi-saksi menjelaskan uang biaya perjalanan umroh senilai Rp 11 miliar diterima langsung kepada Terdakwa. Untuk saksi-saksi yang dihadapkan kepersidangan kata dia telah diambil sumpah saat memberikan keterangan.

“Saksi menerangkan bahwa ada senilai 11 miliar diserahkan ke anda (Arfiah). Saksi ini dibawah sumpah dan ada beberapa orang tidak diberangkatkan,” sebut dia. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *