oleh

Kisah Padang Mahsyar

TribunAsia.com

Konon, ada seorang ulama besar, sedang memimpin satu majlis. Orang berdatangan dari berbagai penjuru untuk mendengarkannya. Usai majlis, semua berhamburan pulang, kecuali seorang perempuan tua – Ia mendekati ulama itu. Ia berkata,

“Duhai guru, sungguh aku ini adalah perempuan yang tertimpah musibah. Usiaku tak lagi muda. Belum lama ini suamiku, tulang punggung keluarga, berpulang keharibaan Tuhan. Rumah yang kami huni dijadikan rebutan. Aku terusir. Anaku dua. Aku tak punya kerja. Sudikah kiranya tuan memberikan bantuan….?”

Ulama itu menjawab singkat, “Apa benar perkataanmu? Mana buktinya?”

Ibu itu terperangah. Sejenak kemudian ia berpaling. Tak sanggup ia menghadirkan bukti. Beranjak ia menjauh, entah ke mana. Malam harinya ulama itu tertidur. Ia bermimipi, ia mimpi yg tidak biasa. Ia melihat dirinya berada di sebuah padang besar. Jutaan orang dibangkitkan dalam tanah. Pastilah ini padang mahsyar, gumamnya. Ia tahu, ia harus berlari ke mana. Ia harus mencari kelompoknya. Makin yakinlah ia karena setiap ummat berlarian mencari pemimpinya. Ada yang bergegas mencari bendera Nabi Musa. Ada yang semangat mendaki bukit Nabi Ibrahim. Ada juga yang tak tahu hendak ke mana, bingung untuk bergabung – salah mengambil teladan ketika dulu hidup di dunia.

Ulama itu merasa, ia ummat utusan yang terakhir. Matanya menerawang mencari bendera kenabian. Tiba-tiba seberkas cahaya terang menarik perhatiannya. Bukit itu, bukit yang tertinggi. Sinar itu, sinar yang paling terang. Di puncaknya ada panji bertuliskan “Muhammad Rasulullah SAW.” Itu nabiku, itu rosulku, batin ulama itu menjerit. Berlarilah ia segera. Bergabunglah ia di sana. Jutaan sosok lain sudah lebih dahulu sampai ke bukit. Satu demi satu, mereka antri berbaris rapi, hendak menemui kekasih hati, berharap memperoleh syafaat suci.

Karena ini cerita di dalam mimpi, dengan sekejap sampailah ulama di hadapan Rasulullah SAW. Rasa haru tak tertrahankan. Rasa rindu tak terkirakan. Secepat bayangan berkelabat, ia peluk Nabi dengan erat. Linangan air mata berhamburan,

“Ya Rasulullah…” ujarnya mengendalikan persaan, “aku ini ummatmu. Aku mencintaimu. Berikankan kepadaku syafaatmu.”

Di padang mahsyar itu, di alam mimpi itu, Nabi menjawab singkat,

”Apa benar perkataanmu..? mana buktinya..?”

Dan ulama itupun terbangun. Ia tahu, baru saja ia disadarkan nabi. Ia teringat di majelis tadi ia menolak seorang perempuan yang meminta bantuan karena tak sanggup menghadirkan bukti-buktinya.

Malam itu ia tak sanggup lagi memejamkan matanya. Ketika pagi menjelang, ia berkeliling ke setiap pintu, mengetuk dan mencari di mana gerangan ibu yang kemarin itu berada. Ia datangi setiap rumah, tapi wajah menghiba itu tak lagi terlihat. Ia semakin gelisah, tak ingin malam nanti ia bermimpi lagi, kembali ditegur Nabi. Masih untung, pikirnya, ia belum ditolak. Malam nanti masih ada kesempatan berbuat. Segalanya belum terlambat. Hampir setiap rumah yang didatang, tak ada berita sang ibu dan dua anaknya. Akhirnya, menjelang magrib, sampailah ia di pintu rumah seorang rahib perempuan – ahlil kitab yang hidup berdampingan.

Ragu-ragu ia melangkah – mungkinkah ibu itu ada di dalam rumah? Mana mungkin ia berada di sana, tapi rasa malu ditegur Nabi berhasil mengalahkan kebimbangannya. Pelan-pelan ia mengetuk pintu rumah itu. Tak terdengar suara menyahut, tapi pintu itu tiba-tiba bergerak juga teramat perlahan dan di balik pintu itu terlihat wajah yang ia cari seharian – wajah ibu, janda dengan dua orang anak yang kemarin datang memohon bantuan. Konon menurut hadist dari keluarga Nabi: Orang yang datang meminta bantuan, sudah kehilangan separuh harga dirinya, jangan hilangkan yang setengahnya lagi dengan menolaknya, apa lagi menghardiknya.

Maka ulama itupun menyadari perbuatannya. Dengan ramah: “Maafkan ucapanku kemarin. Bila engkau mengijinkannya, aku akan sediakan tempat tinngal untukmu dan kedua anakmu, akan kucarikan juga pekerjaan bagimu.

Ibu itu menjawab, “Terima kasih tuan, tapi aku sekarang tinggal di sini. Rahib di sini sudah memberiku tempat tinggal dan pekerjaan.”

Karena tak ingin ditegur Nabi dalam mimpinya, ulama ini memaksa, ”Datanglah engkau bersamaku. Bukankah rahib itu berbeda keyakinan denganmu?”

Maka terdengarlah ajakan dan tolakan berulang kali bersahutan.

Mendengar suara riuh di depan pintu, rahib yang dimaksud kemudian datang mendekat. Ia mencari tahu gerangan apa duduk permasalahan.

Setelah dijelaskan, rahib berkata: “ibu itu tetap bersamaku. Aku akan penuhi kebutuhannya.”

”Tapi mengapa?” tanya ulama itu penasaran.

Rahib itu menjawab, “karena baru saja tadi malam, aku bermimpi. Seorang sosok dengan cahaya membahagiakan datang kepadaku. Ia katakan dirinya Muhammad Rasulullah dan Beliau berterima kasih kepadaku, karena aku sudah menolong satu di antara keluarganya, seorang ummatnya yang membutuhkan.

Nabimu berterimakasih kepadaku. Dan sungguh, itu keutamaan akhlaq yang paripurna. Tanpa ragu, pagi ini akupun berikrar mengikuti agamamu (Islam).”

 

*Dikutip dari buku: “Mencari Senyum Sang Nabi”.

Oleh : Ust.Miftah F.Rakhmat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *