oleh

Dipandang Sebelah Mata, Pekerja Seks Berhasil Biayai Anaknya Kejenjang Sarjana

Jakarta, TribunAsia.com – Meski dipandang sebelah mata dan kerap dipojokkan dipemberitaan pekerja seks perempuan (PSP) juga memiliki kebanggaan dan prestasi dalam membina keluarga. Seperti apa yang diutarakan Mufitasari, pekerja seks butuh pemberitaan humanis sebab diantara mereka mampu membiayai sekolah anaknya ke jenjang sarjana.

Namun demikian, dia mengingatkan kepada wartawan untuk tidak memojokkan pekerja seks dimedia massa terutama saat penggerebekan dan penertiban. Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DKI Jakarta mengatakan, pemberitaan diharapkan lebih proporsional termasuk keberhasilan pekerja seks perlu diangkat.

Kejaksaan Negeri Jakarta Timur - ZONA INTEGRITAS (Wilayah Bebas Korupsi)

“Selain keberhasilan perempuan misalnya pekerja seks perempuan yang berhasil menyekolahkan anaknya ke jenjang sarjana. Membangun keluarganya lebih baik begitu hal-hal yang sangat humanis,” kata Mufi kepada TribunAsia.com di Cipinang, Jakarta Timur, Jum’at (29/11/2019).

Saat ini, pekerja seks dibawah naungan Komunitas Jingga berharap mendatang para jurnalis untuk tidak lagi menulis dalam berita dengan sebutan PSK (pekerja seks komersial). Akan tetapi, dia lebih nyaman dalam pemberitaan ditulis dengan sebutan PSP (pekerja seks komersial).

“Sebenarnya ini kegiatan yang menarik dan bermanfaat karena kegiatan ini sebagai jembatan untuk membangun persepsi yang lebih positif tentang pekerja seks perempuan,” tandasnya.

Salah seorang pengurus Komunitas Jingga menyampaikan, tercatat sekitar 150 orang yang tergabung diwadah tersebut untuk mendampingi permasalahan yang muncul dilapangan. Untuk struktur kepengurusan itu sendiri, dijelaskan Yuli Risciani pengurus organisasi diisi oleh mantan para pekerja seks.

“Tadinya pengurus lapangan yang mendampingi teman-teman pekerjaan seks. Pengurus ada yang mantan pekerja seks dan memperdayaan pekerja seks dan transgender,” tutur dia.

Ia menambahkan, Komunitas Jingga juga telah merajut hubungan kerjasama dengan diberbagai instansi baik Kesehatan maupun Sosial. Namun, pembuatan kartu identitas elektronik secara massal pun telah dilakukan komunitas itu secara massal.

“Kumunitas Jingga ini sudah bekerjasama dengan Kemenkes dan Kemensos. Puskesmas dan stakeholder-stakeholder lainnya seperti berkesinambungan kita bekerja sama buat KTP gratis,” kata Yuli. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *