oleh

Festival Ciliwung 2 Ajak Masyarakat dengan Sentuhan Seni dan Budaya

Jakarta, TribunAsia.com – Festival Ciliwung 2 mengajak masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan dengan sentuhan seni dan budaya. Ketua Padepokan Ciliwung, Maulana mengatakan konsep tersebut dinilai sederhana agar masyarakat dapat memandang langsung daerah aliran sungai Ciliwung yang terdapat di Jalan Munggang, Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

“Yang kita sampaikan di Festival Ciliwung 2 ini ke masyarakat adalah sebenarnya konsepnya sederhana, masyarakat melihat sungai Ciliwung. Kenapa, kok mengajak masyarakat melihat sungai Ciliwung karena persoalannya tidak tersentuh karena regulasi sementara tidak mempunyai edukasi,” ungkap Maulana yang akrab disapa Lantur kepada TribunAsia.com, Sabtu (9/11/2019).

Kemudian, dikatakan dia, sosialisasi terkait pelestarian lingkungan tidak hanya dipasang disepanjang jalan seperti yang tertera pada Perda. Akan tetapi, dia mengharapkan kerjasama dari pemerintah untuk dapat mensosialisasikan sungai Ciliwung.

“Bukan hanya dipasang ditengah jalan atau atau di pinggir jalan dengan sebuah produk politik yaitu Perda. Tapi wajib pemerintah itu mensosialisasi bagaimana caranya itu bisa punya niat untuk sungainya,” kata dia.

Baca Juga : Sudinparbud Jaktim Akan Kembangkan Kawasan Destinasi Wisata Condet

Melalui Keputusan Gubernur Nomor 881 Tahun 2019 mengenai percepatan penataan kawasan Condet sebagai kawasan destinasi wisata agar masyarakat dapat merasakan sungai. Bukan hanya sumber kehidupan, tetapi bermanfaat secara ekonomi untuk memperoleh penghasilan disepanjang bantaran sungai Ciliwung.

Padepokan Ciliwung bersama para pegiat lingkungan lainnya menilai dengan semangat untuk melestarikan lingkungan dan miliki konsep telah diterima oleh pemerintah.

Menurut Lantur, dia tidak menyalahkan pemerintah, karena saat ini perannya hanya berkoordinasi meskipun ada hal-hal yang belum diketahui oleh birokrasi terkait potensi disekitar kawasan Ciliwung.

“Nah ini peran kita untuk melakukan koordinasi sehingga diterima ke pemikiran mereka sehingga mereka tertarik akhirnya. Dan kita tidak menyalahkan begitu ya ke pemerintah atau birokrasi karena mereka mereka tidak tahu mereka harus kita kasih tahu,” terangnya.

Sementara, Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Timur (Sudinparbud Jaktim) Iwan Henry Wardhana akan mengembangkan kawasan destinasi wisata yang terdapat diCondet, Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur.

“Kita ingin kembangkan salah satu sanggar yang ada di Condet itu. Tadi ada pagelaran seni dan budaya Betawi pertama waktu Pak Deputi Gubernur hadir disambut marawis sepanjang jalan dan pas ketika masuk tadi ada palang pintu,” ujar Iwan.

“Kami dari Suku Dinas Pariwisata mencoba menjahit kembali peran antara lingkungan yang setiap tahun perlu diadain,”  tambahnya.

Menurut dia, palang pintu adalah bagian dari penghormatan dalam budaya Betawi dan palang pintu kerap dilaksanakan ketika prosesi pernikahan. Saat itu, para tamu yang datang ke Festival Ciliwung 2 sempat disambut dengan palang pintu dan tarian khas Betawi.

“Palang pintu adalah tradisi Betawi bagaimana caranya kita menghormati tamu yang datang salah satu acara ketika masuk kita disambut dengan tari tarian-tari salah satu seni tarian modern Betawi,” kata dia.

Kasudinparbud Jaktim saat Festival Ciliwung 2 berlangsung dirinya menyampaikan, dilokasi tersebut pernah ada penulis terkenal yang mendirikan sanggar.

Konon katanya, Firman Muntako yang telah wafat memiliki sanggar di bilangan Condet dan Iwan berjanji akan menghidupkan kembali sanggar itu karena merupakan bagian dari destinasi wisata Jaktim.

“Kita ingin kembangkan salah satu sanggar yang ada di Condet itu. itu ada almarhum Firman Muntako itu namanya dia seorang penulis besar dan dia punya sanggar kita angkat kembali di Festival Ciliwung 2,” paparnya.

Festival Ciliwung 2 diadakan, pihaknya juga memfasilitasi para pelaku usaha menggelar bazar. Ditenda bazar itu, diutarakan kembali Kasudin, pihaknya memberikan ruang kepada pedagang UMKM seperti makanan, minuman dan aksesoris tradisional.

“Disitu banyak lagi ada bazar-bazar kita bermain di kuliner makanan tradisional Betawi dan mengingatkan kembali seperti ada dodol Betawi banyak sekali yang disajikan tadi,” tutur dia. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *