oleh

FFUP Mendukung Pemerintah Jadikan Jamu Warisan Dunia

Jakarta, TribunAsia.com – Kebudayaan Indonesia banyak yang dapat dijadikan khazanah dunia yang mendapat pengakuan dunia. Di antaranya, tidak saja borobudur, jamu pun adalah adalah karya nenek moyang yang diwariskan. Hal ini disebutkan Ketua Tim Pengabdian Masyarakat (pengmas) Universitas Pancasila (UP) Novi Yantih di Pelatihan Cara Pembuatan Minuman Sehat yang Baik dan Benar di Balai Warga RW 04, Ciracas, Jakarta Timur, Rabu, (6/11/2019).

Disebutkan Novi, tidak hanya menjadi budaya saja, jamu dapat dijadikan sumber penghasilan rakyat asalkan diberdayakan kemampuan mereka dalam mengolah secara baik dan benar yang memenuhi standar kesehatan. Kemudian, dilatih dan dibina kemampuan penjualan secara virtual.

Universitas Pancasila melakukan pelatihan kepada warga RW 04 Ciracas Jakarta Timur bagaimana caranya membuat minuman dari tanaman obat keluarga yang sehat dengan baik dan benar. Tim Pengmas FFUP diketuai Prof Shirly Kumala dengan tim lainnya Titiek Martati, Novi Yantih, Andri Prasetyo dan Gressty.

Masyarakat di sini sudah membudidayakan tumbuhan obat-obatan dan produksi jamu secara mandiri, namun belum ada pembinaan. Biasanya warga membuat jamu untuk dipasarkan di event insidentil.

“Untuk itu kami dari Fakultas Farmasi Universitas Pancasila merasa terpanggil untuk melakukan pembinaan,” kata Novi Yantih.

Novi berharap agar setelah mendapat pelatihan tersebut maka warga dapat meningkatkan derajat kesehatan kehidupannya dan juga meningkatkan ekonomi di lingkungan masyarakat setempat dengan menghasilkan jamu sesuai standar kesehatan yang digemari dan cara memperoleh, pengolahan bahan baku yang baik, higienis, dan pengemasan produk dan juga standar uji mutunya.

Sedangkan Tim Pengmas UP lainnya Titiek Martati mengatakan pembinaan tersebut merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Titiek menjelaskan dipilihnya tempat RW 04 Ciracas Jaktim tersebut karena memang sudah ada yang menghasilkan minuman jamu tradisional sehingga perlu pembinaan lebih lanjut agar dapat memproduksi jamu dengan baik dan benar. FFUP berjanji akan mengikutsertakan jamu produksi warga ini di acara agenda UP.

“Juga warga di sini mempunyai lahan serta juga Sumber Daya Manusianya yang melakukan pembuatan jamu dari tanaman obat keluarga. Jadi tinggal kita menambahkan saja bagaimana memproduksi minuman jamu sesuai dengan standar yang berlaku tentunya nantinya bisa mengangkat derajat kesehatan masyarakat setempat,” ujar Titiek.

Kemudian, Ketua RW 04 Ciracas Jakarta Timur Supriyadi mengatakan kami bertekad membangun wilayah setempat menciptakan untuk menyelamatkan lingkungan.

Bagi Supriyadi yang juga Anggota Korlantas Polri ini mengatakan selama ini warga setempat sudah menghasilkan produk dalam bentuk minuman kesehatan dari tanaman obat keluarga (toga) di lingkungannya.

“Kami juga berharap dari pendampingan Pengmas ini, produksi jamu warga ini dapat memberikan nilai tambah pendapatan bagi keluarga tidak hanya dapat mengisi kas kelompok tani semata. Bagaimana kita upayakan dapat jadi home industri produktif,” ujar Ipda Supriyadi ini.

Sebagai lokasi pusat kegiatan ini, Ketua RT04, RW 05 Arif Wahyudin tegaskan tekad bersama warga melakukan penghijauan dengan tanaman obat keluarga (Toga) yang berkelanjutan dengan kelompok wanita tani. Saat ini ada dua produk yang dihasilkan yaitu bir pletok dan gula asem.

“Kami mengapresiasi pelatihan yang diberikan oleh Fakultas Farmasi Universitas Pancasila yang diharapkan dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan warga. Semoga dengan adanya FPUP maka akan membuka peluang pasar bagi produk warga kami tersebut,” katanya. (HIRA)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *