oleh

Syarat Khidir untuk Nabi Musa

TribunAsia.com

Nabi Musa memaksa untuk mengikuti Khidir. Namun, Khidir mengajukan persyaratan agar Musa tidak bertanya sesuatu pun sehingga pada saatnya nanti ia akan mengetahuinya atau dia Nabi Khidir sendiri yang akan menjelaskannya.

“Jika engkau mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (QS al-Kahfi[18]: 66- 70).

Belajar Setelah persyaratan disepakati, akhirnya Musa pergi bersama Khidir. Mereka berjalan di tepi laut. Kemudian terdapat perahu yang berlayar lalu mereka berbicara dengan orang-orang yang ada di sana agar mau mengangkut mereka. Para pemilik perahu mengenal Khidir.

Lalu mereka pun membawanya beserta Musa tanpa meminta upah sedikit pun kepadanya. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada Khidir.

Namun, Musa dibuat terkejut, ketika perahu itu berlabuh dan ditinggalkan oleh para pemiliknya, Khidir melubangi perahu itu. Ia mencabut papan demi papan dari perahu itu, lalu ia melemparkannya ke laut sehingga papan-papan itu dibawa ombak ke tempat yang jauh.

Musa menyertai Khidir dan melihat tindakannya dan kemudian ia berpikir. Musa berkata kepada dirinya sendiri, “Apa yang aku lakukan di sini?Mengapa aku berada di tempat ini dan menemani laki-laki ini? Mengapa aku tidak tinggal bersama Bani Israil dan membacakan kitab Allah SWT sehingga mereka taat kepadaku? Sungguh, para pemilik perahu ini telah mengangkut kami tanpa meminta upah.

Mereka pun memuliakan kami, tetapi guruku justru merusak perahu itu dan melubanginya. Tindakan Khidir di mata Musa adalah tindakan yang tercela. Dia terdorong untuk bertanya ke pada gurunya dan dia lupa tentang syarat yang telah diajukannya agar dia tidak bertanya apa pun yang terjadi.

Musa berkata, “Apakah engkau melubanginya agar para penumpangnya tenggelam? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang tercela,” kata Musa.

Mendengar pertanyaan lugas Musa, Khidir menoleh kepadanya dan menunjukkan bahwa usaha Musa untuk belajar darinya menjadi sia-sia karena Musa tidak mampu lagi bersabar. Akhirnya Musa meminta maaf kepada Khidir karena ia lupa dan mengharap kepadanya agar tidak menghukumnya.

Perjalanan mereka dilanjutkan lagi, sampai menemui sebuah kebun yang dijadikan tempat bermain oleh anak-anak kecil. Ke tika anak-anak kecil itu sudah letih bermain, salah seorang mereka tampak bersandar di suatu pohon dan rasa kantuk telah menguasainya. Tiba-tiba, Musa dibuat terkejut ketika melihat apa yang Khidir lakukan. Khidir membunuh anak kecil yang sedang tidur itu.

Musa lagi-lagi kesal dan lupa atas kesepakatannya karena bertanya mengapa dia membunuh anak laki-laki yang tidak berdosa itu. Khidir kembali mengingatkan Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Musa lagi-lagi meminta maaf kepadanya karena selalu berkomentar atas apa yang dilakukannya. Kali ini Musa berjanji tidak akan bertanya lagi.

Dalam hatinya Musa berkata, “Ini adalah kesempatan terakhirku untuk menemanimu.”

Perjalanan mereka berakhir di suatu desa, di mana di desa itu warganya sangat bakhil karena tidak ada satu pun warga yang memberikan tempat penginapan sekaligus memberikannya makanan. Namun, lagi-lagi dia terkejut melihat gurunya Khidir. Pada malam hari dia membangun sebuah rumah di desa itu. Padahal, mereka itu tidak menerima kebaikan dari warga desa itu.

Bagi Musa, desa yang bakhil itu seharusnya tidak layak dibantu. Musa berkata, “Seandainya engkau mau, engkau bisa mendapat upah atas pembangunan bangunan itu.” Mendengar perkataan Musa itu, Khidir berkata kepadanya, “Ini adalah batas perpisahan antara dirimu dan diriku.”

Khidir mengingatkan Musa tentang pertanyaan yang seharusnya tidak dilontarkan dan ia mengingatkannya bahwa pertanyaan yang ketiga adalah akhir dari pertemuan. Jawaban Di situlah Nabi Khidir menceritakan semua yang dia lakukan yang bertolak belakang dengan Musa. Penjelasan Nabi Khidir itu membongkar kesamaran dan kebingungan yang dihadapi Musa.

“Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan aku khawatir bahwa dia akan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.

“Dan aku berdoa supaya Tuhan mereka mengganti dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam dari kasih sayangnya (kepada ibu dan bapaknya).”

Adapun penjelasan tentang Khidir membangunkan rumah di suatu desa itu karena rumah itu adalah kepunyaan anak yatim yang di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan nya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.

“Dan bukanlah aku melakuhannya itu menurut kemauanku sendiri (tapi atas perintah Allah).Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS al-Kahfi [18]: 71-82).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *