oleh

Reposisi dan Reorientasi Kaum Santri

TribunAsia.com

Oleh : Ridwan

Hari Santri Sudah. Tinggal Mengisinya. Supaya Kaum Santri Berdaya Saing dan Berdaya Tawar Tinggi.

Esensi teknologi adalah mempermudah, mempermurah, memperingan, dan mempersingkat pekerjaan. (Slogannya ialah Efesien, Efektif, Signifikan)

Secara politik, saat ini adalah masa emas bagi kaum santri. Hal ini ditandai dengan terpilihnya KH. Ma’ruf Amin sebagai pasangan Presiden Joko Widodo untuk memimpin Indonesia lima tahun ke depan. Dengan kenyataan itu, tersedia kesempatan luas bagi kaum santri untuk meningkatkan taraf kehidupan mereka. Tentu jika hal ini disadari oleh para elit santri dan memiliki kemauan politik untuk mengembangkan kehidupan santri yang mandiri dan berdaya saing kuat.

Sebagaimana yang pernah ditulis oleh almarhum Gus Dur, santri merupakan subkultur tersendiri dalam susunan masyarakat Indonesia yang plural. Berdasarkan asumsi tersebut, kaum santri memiliki ukuran-ukuran kualitas hidupnya sendiri, asumsi-asumsi sosial ekonomi politik dan budaya sendiri, memiliki kekhasan problem dan metode pemecahannya sendiri dan tentu memiliki afinitas dan worldview-nya sendiri.

Santri sebagaimana yang umum diketahui, beralaskan kehidupan Islam dan pemahaman Islam yang kuat, mewarnai corak segala segi kehidupan mereka, dari budaya, seni, bisnis, ekonomi, pendidikan, sosial kemasyarakatan, hingga politik. Semuanya sarat dengan ukuran-ukuran, motif, misi dan tatacara yang diambil dan direstui oleh ajaran Islam yang luas dan kaya. Karena itu, melepaskan santri dari Islam bagaikan mencerabut padi dari sawah. Padi tumbuh dan subur dalam suatu wadah alamiah yaitu sawah. Begitu juga, santri hanya akan tumbuh dan subur dalam suatu wadah alamiahnya yaitu kehidupan Islam. Tepatnya, kehidupan pondok yang tenang tapi dinamis. Tanpa itu, santri akan teralienasi dan menghadapi suatu kontradiksi dalam dirinya.

Harus disadari bahwa sampai saat ini, sebagai sebuah golongan di dalam masyarakat Indonesia, santri masih tertinggal jauh dari segi taraf pencapaian ekonomi dan teknologi. Padahal dua hal ini sangat menentukan dalam kehidupan sekarang ini, untuk dipandang memiliki daya saing dan daya tawar. Hal ini dapat dipahami karena kaum santrilah yang paling terpukul dan terdesak ketika pembangunan ekonomi bergeser secara massif dari agraris ke arah industri dan teknologi pada masa-masa yang lalu dan sampai hari ini. Kaum santri yang pada umumnya berbasis dari kehidupan agraris dan pedagang kecil, akibatnya merosot secara ekonomi dan sosial, sampai hari ini. Manakala lahan-lahan sawah dan hutan dihabisi dan diganti dengan lahan industri seperti pabrik, properti, dan hutan tanaman industri, kaum santri mendadak susut, kalau bukan lenyap satu per satu. Pesantren-pesantren yang tadinya mandiri dari lahan pertanian dan perkebunannya sendiri dan secara keuangan ditopang  oleh penduduk sekitar pesantren, dampak dari pergantian fungsi lahan itu, menjadikan pesantren kehilangan aliran darah finansial dan mulai bergeser dan bergantung pada subsidi dan charity pemerintah. Akibat fatalnya, pesantren menjadi tidak mandiri dan sikap politik para kyai sebagai pimpinan pesantren dan masyarakat sekitar, menjadi tidak merdeka dan tegas terhadap tekanan dan rayuan politik.

Belajar dari pengalaman tersebut, saat ini kaum santri harus reorientasi dan reposisi sebagai kekuatan sosial transformatif. Kaum santri tidak perlu lagi terombang-ambing, ambigu dan tersedot jauh oleh dinamika politik yang silih berganti, manakala orientasi dan posisi kaum santri di dalam dinamika masyarakat Indonesia yang heterogen jelas dan tegas. Untuk sampai ke hal itu, kaum santri dapat memulai dengan suatu program bersama yaitu pengembangan teknologi kontekstual yang membawa kaum santri kelak lebih berdaya saing dan berdaya tawar.

Teknologi kontekstual yang dimaksud adalah suatu teknologi yang menitikberatkan pada kebutuhan kontekstual masyarakat santri dari berbagai bidang kehidupan guna membawa kaum santri ke taraf kehidupan yang mandiri, sejahtera dan maju. Jadi teknologi yang dititikberatkan haruslah betul-betul bersifat praktis, mudah, murah dan memecahkan masalah dan kebutuhan masyarakat santri.

Misalnya, dalam segi teknologi pertanian, kaum santri harus didukung untuk menemukan dan mengembangkan, mulai  teknologi produksi, distribusi, penyimpanan dan pengawetan, pemasaran, hingga pengolahan. Teknologi produksi pertanian seperti bibit unggul, pupuk, mesin, dan sebagainya sepatutnya dikuasai oleh kaum santri. Mereka harus melakukan riset mandiri di bidang itu. Dan yang tak kalah pentingnya ialah teknologi pemasaran dan pengolahan, harus ditemukan lebih melimpah teknologinya dan dikuasai lebih massif oleh kaum santri sehingga harga komoditi lebih bagus. Sangat disayangkan, jika kaum santri tidak menguasai teknologi pemasaran dan pengolahan sehingga akibatnya hanya terjebak sebagai pasar bagi orang lain.

Itu dari sisi teknologi pertanian yang memang kontekstual bagi kebutuhan masyarakat santri. Segi yang lain seperti teknologi bagi kebutuhan sandang, harus pula dikuasai oleh kaum santri. Pembuatan rumah dan gedung, mulai dari teknik arsitektur, bahan baku, hingga pemasaran harus juga dikuasai dengan baik oleh kaum santri.

Pendeknya, segala kebutuhan dasar harus dapat disuplai oleh kaum santri sendiri dengan menguasai teknologinya sehingga harga kebutuhan itu lebih murah, mudah dan bermutu baik. Akibat jauhnya ialah kaum santri menjadi lebih canggih, otonom, berdaya saing dan memiliki daya tawar yang kuat.

Hal itu bukan terlalu muluk bagi kaum santri mengingat mereka memiliki potensi yang luas, institusi yang mendukung, dan budaya belajar yang handal. Masalahnya tinggal orientasi, positioning dan dukungan kebijakan oleh stakeholder politik mereka yang makin kuat belakangan ini saja yang digerakkan.

Rekomendasinya ialah pemerintah dalam hal ini Wakil Presiden terpilih, KH. Ma’ruf Amin hendaknya didorong  untuk  mencanangkan tema pembangunan masyarakat yaitu dengan pendekatan tema Santri dan Teknologi Kontekstual. Istimewanya lagi manakala hal ini dapat dicanangkan pada Hari Santri yang akan datang.

Guna menjamin program tersebut, sudah sewajarnya pos-pos kabinet seperti Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian diisi  oleh figur-figur santri yang kompeten, sehingga secara kebijakan lebih mulus dan tidak macet. Masalahnya mau, ndak?

S.E.D., Keluaran Pondok Pesantren

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *