oleh

Hadapi Industri 4.0 Dana Abadi Triliunan ke Perguruan Tinggi Harap Cetak SDM Profesional

Jakarta, TribunAsia.com – Kementerian Riset, Teknologi, Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI) ajukan anggaran dana abadi (endowment fund) Rp 10 triliun ke Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta.

Menyikapi hal tersebut, Rektor Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) Prof. Sumaryoto menilai untuk melakukan riset pendidikan menghadapi dunia industri 4.0 dapat tersalurkan dengan tepat sasaran. Untuk itu, kata dia, dibutuh dana mencapai Rp 10 triliun dan diimbangi dengan sarana termasuk sumber daya manusia di kampus.

“Sebenarnya persoalan menghadapi era industri 4.0 itu tidak sesederhana itu, artinyanya hanya berbicara tenaga kerja dan tenaga kerja tidak berbicara many skill aja itu merembet kemana-mana. Kan harus melalui proses, berbicara tenaga kerja itu berbicara belajar mengajar, tentang sarana dan prasarana,” ungkap Rektor itu, Jum’at (11/10/2019).

Kemudian, dia menjelaskan untuk meningkatkan kualitas pendidikan disebuah Universitas perlu diimbangi dengan tenaga pengajar ahli. Dengan maksud menurut Rektor itu, tidak hanya Dosen pengajar saja akan tetapi fasilitas akademik harus dilengkapi agar menghasilkan mahasiswa yang berprestasi.

“Begini tujuannya berkaitan dengan kualitas tapi karena berkaitan dengan unsur terkait dan harus dipersiapkan dulu dari mulai dosen, lab, sarana pendukung dan itu banyak hal yang harus dipersiapkan tidak serta merta dengan uang ini bisa disulap,” terangnya.

Namun demikian, dia menambahkan, calon sarjana akan mudah ditampung oleh dunia industri jika bekal ilmu pengetahuan yang diperoleh dari kampus tersebut akan terarah dan bertujuan sesuai dengan kebidangannya. Maka dari itu, endowment fund yang akan dikucurkan negara diharapkan mampu mempersiapkan tenaga kerja siap pakai diera digitalisasi 4.0.

“Kalau tidak jelas akan menjadi boomerang kalau kita tidak mempersiapkan tenaga kerja,” kata dia di Jalan Simatupang, Jakarta Selatan.

Sumaryoto merincikan, saat ini peneliti dinilai kurang banyak dan jika dana tersebut diterima ke seluruhan kampus akan menghasilkan mahasiswa yang bermutu serta mudah menjawab tantangan 4.0.

“Khusus peneliti yang kurang banyak, dosen tugas utamanya mengajar. Jadi tidak bisa dipaksa-paksa harus begini. Kewajiban saya dosen bukan peneliti jadi jangan disalah dosen tidak bisa optimal,” sambungnya.

Mendatang, dia berharap Pemerintah memiliki program jangka menengah dan jangka panjang. Disis lain, Litbang juga dipertanyakan tentang kedudukan sebagai peneliti pendidikan dan kedepan terkait program pendidikan harus memiliki haluan jelas.

“Pemerintah seharusnya punya program-program yang jelas dari jangka menengah dan panjang jangan apa-apa sepertinya terburu-buru itu tidak bisa butuh waktu. Jadi, gunanya Litbang untuk apa ?, Kalau kesana (Litbang), gunanya itu untuk penelitian dan pengembangan pendidikan,” kata dia.

“Dan itu disodorkan ke menteri untuk membuat suatu kebijakan kita kuncinya lemah didalam perencanaan jangka menengah dan panjang dan tidak mempunyai haluan,” tambahnya. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *