oleh

Analis Sospol Tepis Tudingan Dunia Kampus Sarang Radikalisme

Jakarta, TribunAsia.com – Analisis Sosial Politik UNJ menepis tudingan dunia pendidikan sarang penyebaran paham radikal. Menurut Ubedillah Badrun, kegelisahan tersebut muncul karena didasari ketakutan Pemerintah dan asumsi tanpa bukti empiris.

“Jadi, nggak ada bukti empiriknya teroris itu ada di kampus kampus nggak ada itu imajinasi saja keliru kekuasaan. Kalau itu sebagai keyakinan asumsi dibenarkan sebuah tesis penting yang pertama ini agenda para elit untuk mendapatkan proyek radikalisasi kan aneh. Kayak ini tidak ada kerjaan aja, kerjaan yang lain itu besar seperti ekonomi misalnya. Isu-isu kayak gini kan aneh rezim,” ujar Ubedillah kepada TribunAsia.com, Rabu (9/10/2019).

Namun demikian, isu-isu radikalisme disinyalir bagian dari proyek para elit Pro Penguasa untuk merebut hasil dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Maka dari itu, kata Ketua Asosiasi Program Studi Sosiologi dan Antropologi sudut pandang Pro Pemerintah keliru memahami radikalisme.

Menurut dia, indikator asumsi-asumsi secara simbolik seseorang dikatakan radikalisme itu dibantah karena perlu diimbangi dengan data-data termasuk teori-teori dan argumen.

“Yang pertama sudut pandang analis atau penguasa melihat itu sedikit keliru memahami radikalisme. Hanya dengan indikator-indikator simbolik seseorang dikatakan radikalisme itu kan keliru. Sementara radikalisme itu persoalan yang harus dibongkar secara teoritik dan argumentatif clear,” ujar dia.

Selain itu Ubaidillah menjelaskan, ” Menunjukkan ketakutan yang berlebihan dari dari rezim kekuasaan kepada kelompok-kelompok yang diasumsikan radikal. Karena melawan kekuasaan kan begitu, permainan elite untuk mendapatkan kue dari APBN,” tandasnya.

Tentang kampus-kampus yang diduga terpapar radikal, menurut dia selama melakukan penelitian diberbagai kampus se-Indonesia belum ditemukan adanya penyebaran paham radikal. Ubaidillah berpendapat, dikampus-kampus memiliki imun tersendiri dan secara otomatis virus yang berbau radikal akan pergi dengan sendirinya.

“Surveinya ini survei versi kekuasaan harus dibongkar ini keliru, misalnya karena seseorang memiliki jenggot tidak bisa, karena dia pakai celana cingkrang dia terpapar radikalisme. Lalu karena dosen-dosen itu rajin ke masjid salat wajib itu terpapar radikalisme itu kan hal-hal simbolik yang tidak bisa dijadikan suatu alat bukti mereka terpapar radikalisme,” ungkap analis.

Terlebih, dia juga mengamati melalui literasi tentang radikalisme dan terorisme itu dapat mengarahkan menuju perilaku destruktif. Memandang itu, katanya, jika dihubungkan dengan terorisme hal tersebut terdapat cara-cara kekerasan dan mempengaruhi pikiran.

“Menurut saya yang saya lihat secara literatur tentang radikalisme dan terorisme itu radikalisme yang mengarah kepada perilaku destruktif. Hubungkan dengan terorisme itu ketika ia menggunakan cara-cara kekerasan dengan cara mempengaruhi pikiran dan kepada orang lain melakukan kekerasan arena publik,” terang dia lagi. (Dw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *